Buku berjudul ”Perspektif Kebangkitan Kesultanan Dompu” yang ditulis Muhammad Ruslan alias Dae Olan. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Wacana kebangkitan Kesultanan Dompu, belakangan ini begitu ramai diperbincangkan. Bahkan, tidak sedikit elemen yang tidak segan-segan memberikan seabrek anggapan dan kesan minor atas wacana tersebut. Benarkah demikian?

Menjawab itu semua, kini telah terbit sebuah buku. Buku tersebut berjudul ”Perspektif Kebangkitan Kesultanan Dompu”. Buku setebal 154-an halaman itu ditulis Muhammad Ruslan. Pria ini biasa disapa Dae Olan.

“Jika tidak ada halangan yang berarti, rencananya, buku itu (Perspektif Kebangkitan Kesultanan Dompu) akan diluncurkan tanggal 30 Desember 2017,” kata Dae Olan pada Lakeynews.com di Dompu, Kamis (28/12/2017) malam.

Sedikitnya 75 orang dari berbagai elemen dan komponen diundang untuk menghadiri peluncuran “buku langka” yang diterbitkan Yayasan Kesultanan Dompu di Gedung Pemuda (KNPI) Kabupaten Dompu tersebut. “Yang diundang ada pegiat budaya, pemuda, tokoh masyarakat dan berbagai elemen masyarakat lainnya,” jelas Dae Olan.

Diketahui, Buku “Perspektif Kebangkitan Kesultanan Dompu” ini memuat cara pandang penulis terhadap wacana kebangkitan Kesultanan Dompu yang akhir-akhir ini kerap dibicarakan.

Memang, buku yang diedit salah satu wartawan senior NTB Sarwon Al Khan tersebut bukanlah buku sejarah. Namun, melalui buku ini penulis mengungkapkan pandangan dan pikirannya tentang masa depan Kesultanan Dompu.

“Meskipun buku ini bukan buku sejarah, namun tetap menjadikan sejarah sebagai sebuah rujukan. Sejarah tetap menjadi cermin untuk menatap masa depan,” jelas Dae Olan yang merupakan salah satu putra almarhum H. Muhammad Yacub MT (Bupati Dompu Periode 1984-1989).

Buku itu merupakan jawaban atas beragam pertanyaan. Misalnya, mengapa Kesultanan Dompu harus bangkit kembali? Selain itu, buku tersebut juga menjawab pertanyaan, apa yang harus dilakukan untuk menyongsong kebangkitan Kesultanan Dompu? Nilai-nilai dan tradisi apa yang bisa diperoleh dan bermanfaat bagi Dompu hari ini dan di masa-masa mendatang?

Sebagaimana terungkap dalam buku yang ditulis Dae Olan, Kesultanan Dompu yang didirikan pada tahun 1545 oleh Sultan Syamsuddin (La Bata Na’e) sebelumnya merupakan salah satu kerajaan tertua di wilayah timur Nusantara.

Muhammad Ruslan atau lebih dekat disapa Dae Olan. (ist/lakeynews.com)

Dompu saat itu adalah sebuah negeri yang kaya dan makmur. Mahapati Gajah Mada pun pernah bersumpah untuk menaklukan Kerajaan Dompu, seperti diabadikan dalam Sumpah Palapa;

“Saya baru akan berhenti berpuasa makan Palapa, jikalau seluruh Nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara; jikalau Gurun, Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo (sekarang Dompu, red), Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik sudah di kalahkan.” Demikian bunyi Sumpah Palapa yang terkenal itu.

Dalam perjalanannya, sejarah Kesultanan Dompu dari masa ke masa menorehkan tinta emas kejayaan maupun masa-masa keterpurukan.

Karena itu, menurut Dae Olan, kebangkitan Kesultanan Dompu hendaknya dimaknai sebagai upaya untuk menjaga dan mewariskan semua hal. Baik berupa nilai maupun tradisi Kesultanan Dompu agar bermanfaat dan memberi pengaruh positif bagi perubahan sosial, budaya, ekonomi dan politik di Dana Dompu.

“Semoga dengan terbitnya buku ini, dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang sejarah dan budaya Dompu. Selain, mampu mendorong upaya pelestarian nilai dan tradisi Kesultanan Dompu sebagai aset budaya Dompu maupun sebagai aset budaya Nasional,” harap Dae Olan.

Pada sisi lain, Dae Olan menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah memberi dorongan, masukan dan bantuan, hingga buku tersebut sampai di tangan pembaca. “Khususnya kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Bupati Dompu dan Yayasan Kesultanan Dompu, sebagai penulis buku, saya sampaikan ucapaan terima kasih,” tandasnya. (tim)