
Simulasi Interaktif Fokus pada Tata Cara Pemanfaatan Sistem Navigasi dan Pengoperasian Fitur Kamus
RANGKAIAN penguatan kapasitas masyarakat dalam pemanfaatan teknologi pelestarian budaya terus berjalan.
Sang pengembang, Taufik, dosen STKIP Yapis Dompu menyelenggarakan Workshop dan Pelatihan Penggunaan Kamus KASAMBI pada Sabtu, 19 September 2026 siang.
Kegiatan tersebut untuk memastikan platform digital itu dapat dioperasikan secara optimal oleh para pegiat literasi setempat.
Sebelumnya, pada pagi hari yang sama, pengembang Kamus KASAMBI, Taufik, berhasil menggelar uji coba lanjutan kamus tersebut dengan melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, guru, dan pegiat literasi di Desa Sambori.
Namun, sehari sebelum itu, Jumat (18/9/2026), uji coba tahap awal Kamus KASAMBI sukses dilaksanakan pada lingkungan sekolah dasar, SDN Sambori.
Berita sebelumnya:
* Lestarikan Bahasa Daerah, Kamus KASAMBI Mulai Diuji Coba di Sekolah
* Jaga Keaslian Tutur, Pengembang Kamus KASAMBI Gelar Uji Coba Lanjutan
Workshop dan Pelatihan Penggunaan Kamus KASAMBI juga untuk memberikan pemahaman yang komprehensif. Workshop ini menghadirkan tiga narasumber utama dari berbagai latar belakang. Mereka adalah Idhar (akademisi), H. Muhdar (pegiat literasi asli Sambori), dan Iksan (tokoh adat asli Sambori).
Kombinasi para pakar dan penutur asli ini bertujuan menyelaraskan aspek teknis digital dengan keotentikan nilai budaya lokal yang terdapat dalam bahasa Sambori.
Pelatihan intensif ini berlangsung interaktif dengan memanfaatkan teknologi papan pintar (smart board). Fasilitas tersebut memudahkan para narasumber dalam memberikan pemaparan terstruktur. Terutama mengenai tata cara pemanfaatan sistem navigasi, metodologi pencarian kata trilingual, hingga pengoperasian fitur digital yang tertanam di dalam situs resmi https://kasambi.id/.
Menurut pengembang Kamus KASAMBI, Taufik, melalui pelatihan ini, para peserta dibekali kemampuan teknis dalam menjelajahi berbagai menu unggulan di situs https://kasambi.id/, seperti menu Semua Kosakata, Sejarah Sambori, dan Game Belajar.
Selain itu, peserta juga dilatih secara praktik untuk mengoptimalkan penggunaan fitur tombol audio suara penutur asli (native speaker).
Workshop dan pelatihan, inovasi kebudayaan digital itu diharapkan tidak hanya menjadi dokumen. “Lebih dari itu, mampu menjelma sebagai instrumen harian yang merawat dan melestarikan kekayaan bahasa daerah secara berkelanjutan,” jelas Taufik. (tim)
