Ketua Forum Umat Islam (FUI) Kabupaten Dompu H. Muhammad Amin. (dok/lakeynews.com)

 

Oleh: H. Muhammad Amin *)

 

Tulisan tentang makna tarian ritual Ou Balumba (sebagai bagian rangkaian Festival Lakey 2025) sudah dua Kali muncul di WA Group Lakeynews.

Makna yang tertulis menggiring para pembaca untuk menjiwai ritual animisme untuk LAUT, seperti “setiap dentuman ombak adalah bahasa PENJAGA LAUT.

Pada bagian lain tulisan berbunyi, “Tarian ini doa dalam bentuk Tabuh, seruan manusia kepada LAUT YANG AGUNG.”

Baca jugaBuru Rekor MURI, Tari Ou Balumba Targetkan 15 Ribu Peserta

Pemujaan kepada laut yang merupakan Benda Mati menjadi semakin tidak Rasional, ketika disebut dua simbol leluhur: “Cambuk kulit untuk memanggil PETIR dan ANGIN,” dan “periuk TANAH LAMBANG RAHIM BUMI yang dipecah sebagai persembahan pada SAMUDRA.”

Jika kita telaah tulisan makna Tarian Ou Balumba dengan kacamata agama, maka kesenjangannya sangat jauh sekali. Di mana masyarakat Bumi Nggahi Rawi Pahu pada masa sekarang sudah semakin religius. Sudah sangat lama meninggalkan hal yang barbau mistis, atau keyakinan terhadap para roh halus penjaga laut, samudra, gunung, dan hutan.

Visi Religius merupakan visi daerah yang telah ditanam di Bumi Nggahi Rawi Pahu sejak tahun 2001 (Masa Bupati Ompu Beko/H. Abubakar Ahmad). Diikuti oleh semua Bupati setelahnya sampai dengan Bupati BBF (Bambang Firdaus). Bahkan dijadikan aturan, yakni Perda Nomor 1 Tahun 2001, sehingga dasar hukumnya terlalu kuat untuk di mabaikan ataupun dilupakan.

Dengan demikian, setiap derap langkah, tarikan napas, kebijakan, program wajib hukumnya mengacu kepada Visi Religius sebagai payung hukum pembangunan di Bumi Nggahi Rawi Pahu.

Budaya kita di masa lalupun sangat kental dengan nilai-nilai Islam. Pemimpinnya bergelar Sultan. Hukumnya bersendikan sara, sara bersendikan kitabullah.

Islam memberi petunjuk kepada umatnya. Jika memohon berkah, mintalah kepada Allah SWT. Jangan minta kepada makhluk atau benda mati, apalagi minta kepada penjaga laut, sungguh jauh sekali dengan petunjuk.

Allah berfirman, “Janganlah kamu berdoa (beribadah) kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak berkuasa memberikan manfaat dan mudharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya maka kamu benar-benar termasuk orang yang berbuat zalim.” (QS. Yunus:106)

Ayat berikut menjelaskan dengan gamblang, manusia tidak usah repot mengumpulkan ribuan manusia untuk melakukan tarian ritual Ou Balumba agar mendapatkan rezeki dari laut. Allah sendiri Maha Pengasih dan Maha Pemurah yang menundukan laut untuk manusia agar dapat berlayar dan mencari ikan.

Allah berfirman, “Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (Annahal:14)

Menurut para ulama, bahwa dosa syirik paling cepat mendatangkan musibah. Sesuai firman Allah, “Apa saja musibah yg menimpa kamu itu di sebabkan perbuatan tanganmu sendiri.” (Asyuro:30)

Tarian Ou Balumba bukan saja ritual kesyirikan yang dapat mendatangkan musibah, tapi juga sangat bertentangan dengan ayat-ayat Allah. Bertentangan dengan Visi Daerah Dompu yang religius, juga bertentangan kondisi riil laut Hu’u yang terkenal dengan gelombang yang besar, teratur nan indah.

Semoga bermanfaat. (*)

 

*) Penulis adalah Ketua Forum Umat Islam (FUI) Kabupaten Dompu.

 

CATATAN REDAKSI: 

1). Bagi yang ingin menanggapi tulisan ini, silakan mengirim tulisan dengan panjang lebih kurang 500 kata atau 3.500 huruf (dengan spasi). Sertakan foto kartu identitas yang masih berlaku dalam bentuk PDF.

Kirim ke email: redaksi.lakeynews@gmail.com, dan WA: +6281229323201

2). Redaksi berhak mengedit tulisan yang masuk tanpa mengubah substansi.

3). Redaksi tidak memungut biaya atas pemuatan tulisan, dan penulis tidak menerima bayaran.

4). Artikel opini yang termuat menjadi tanggung jawab penulis.