
Gairahkan Kembali, Abdul Muis: Kata Kuncinya, Event
–
Catatan:
Sarwon Al Khan, Dompu – NTB
–
DESTINASI Pariwisata Lakey, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), kondisinya begitu-gitu saja. Dari dulu sampai sekarang tidak tampak mengalami perubahan dan peningkatan yang signifikan.
Perhantian pemerintah terhadap kawasan wisata pantai dan ombak yang namanya mendunia ini, dinilai masih sangat minim. Event-event masih langka, pemenuhan sarana prasarana belum maksimal disentuh.
Sejumlah orang menggambarkan wisata Lakey itu dengan mengatakan, “hidup segan, mati tak mau.” Ada pula yang menyebut wisata Lakey, “nyaris mati suri.”
Apalagi saat ini, di sekitarnya ada proyek tambang yang sudah sekian tahun melakukan aktivitas eksplorasi hingga beberapa tahun ke depan. Hingga pada akhirnya, sekitar 2029-2030 baru akan memulai eksploitasi.
Hal tersebut, dikhawatirkan –cepat atau lambat– akan “membunuh” pariwisata Lakey khususnya dan Kecamatan Hu’u umumnya. Dan, kemungkinan akan benar-benar terjadi, jika pemerintah melalui lembaga terkait (leading sector pariwisata) ini tidak lekas dan cerdas memutar otak. Tidak aktif dan tidak kreatif melakukan terobosan-terobosan untuk menggairahkannya kembali.
Disadari, ada kesan dilema dalam mengurus dan menangani pariwisata pantai Lakey yang disebut-sebut memiliki ombak kiri terindah di dunia ini. Yang “punya wilayah” adalah Kabupaten Dompu. Namun, Pariwisata Lakey masuk dalam kawasan Strategis Provinsi (Stratprov) NTB. Sehingga penanganannya merupakan tanggung jawab provinsi.
Apakah karena Wisata Lakey merupakan tanggung jawab Pemprov, lantas Pemkab Dompu menutup mata, diam begitu saja dan tidak bisa berbuat apa-apa?
Jika tidak, lalu sebagai pemilik daerah dan rakyat, di mana dan apa yang dilakukan Pemkab Dompu untuk menggairahkan Wisata Lakey?
Berapa rupiah dalam APBD Dompu yang dialokasikan untuk pengembangan Wisata Lakey, dan umumnya destinasi-destinasi serta spot-spot (sektor) pariwisata di daerah ini?
“Siapa bilang daerah (Dompu) tidak bisa berbuat? Meski tanggung jawab penanganan pariwisata Lakey ada di provinsi, bukan berarti daerah tidak bisa berbuat. Bisa kok,” kata Kadis Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Dompu Abdul Muis, M.Si.
Ditemui Lakeynews.com di ruang kerjanya, beberapa hari lalu, pria yang akrab disapa Pak Daeng itu mengaku, pihaknya memiliki sejumlah terobosan yang hendak digenjot dan segera diwujudkan pada tahun ini (2022).

Beberapa waktu lalu, Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah melakukan kunjungan kerja ke Dompu. Wakil Bupati Dompu H. Syahrul Parsan, ST, MT, Kadis Budpar dan sejumlah pejabat terkait sudah bertemu Gubernur.
Saat itu, kata Muis, pihaknya menyuarakan aspirasi terkait upaya menggairahkan kembali Destinasi Wisata Lakey yang lumayan lama terkesan diabaikan pemerintah.
Kebetulan, Kadis Budpar tengah memfasilitasi kelompok yang tergabung dalam organisasi surfing dan pegiat wisata Lakey, membahas rencana event-event kedepan. Salah satunya, bagaimana kalau ada event, finalnya dilaksanakan di Lakey. Dan, itu mesti ada support dari pemerintah.
Menanggapi aspirasi itu, Gubernur sudah mengisyaratkan, agar kelompok surfing di Lakey segera menyusun proposal. “Sudah ada isyarat dari Gubernur, kita (Disbudpar Dompu) siap memfasilitasinya,” Papar Muis.
Lakey adalah destinasi pariwisata yang luar biasa. Diakui Muis, Lakey merupakan kawasan Stratprov. Tanggung jawab penanganannya, ada di provinsi.
“Namun daerah tetap bisa berbuat. Banyak malah. Cuma, tahulah, kondisi daerah kita saat ini seperti apa,” tandas Muis.
Masuknya Lakey dalam kawasan strategis provinsi terjadi pada zaman Gubernur H. Warsito. Dulu pernah direncanakan, pengembangan Lakey seperti Senggigi, Lombok Barat. Menunjang rencana tersebut, dibuatkan jalan kembar dan lainnya.
Hanya, dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan yang direncanakan. Merencanakan pariwisata, tidak segampang yang dibayangkan.
Berbicara pariwisata, berbicara kawasan. Bukan bicara jembatan yang ukurannya cuma satu-dua meter. “Salah satu masalah pariwisata kita, terbentur dengan kawasan,” tegas Muis.
Menurut informasi, dulu juga direncanakan, kawasan gunung di atas (sekitar) Lakey itu masuk dalam SK Gubernur (belum jelas berapa nomor SK itu, red) sebagai penyangga Lakey. Ada sekitar 900 hektare (Ha), sekarang bermasalah karena sudah dibagi-bagi oleh masyarakat.
–
“Ada Event, Sarana Prasarana Menyusul”
Hari ini, wisata Lakey bukan masalah hotel berbintang atau sarana prasarana yang seperti apa. Tetapi bagaimana menciptakan dan bisa melaksanakan event di sana.
“Jika ada event, otomatis dengan sendirinya sarana prasarana akan mengikuti,” tegas Muis mantan Kadis PUPR Dompu itu.
Walaupun baru saja mengemban amanah sebagai Kadis Budpar, Muis bertekad, bersama anggota organisasi surfing, menggenjot agar segera ada event di Lakey. “Sesuai saran Gubernur, kami akan membawa proposal ke Pemprov NTB, di Mataram,” jelasnya.
Objek destinasi pariwisata Lakey adalah ombak. Harus dikembangkan untuk mendukung aktivitas di dalamnya. Ukuran keberhasilan Pemkab Dompu di Lakey, bagaimana menyelenggarakan event.
Itulah yang hendak segera diwujudkan Dinas Budpar dibawa kepemimpinan Muis. Mulai tahun ini.
Menurut dia, begitu diselenggarakan event, akan banyak dampak ikutannya. Misalnya ada final kejuaraan dunia surfing. “Jika itu terwujud, berapa ribu bahkan jutaan pasang mata di dunia ini yang memandang Dompu,” ujarnya dengan nada tanya.
Kehebatan dan keunggulan Lakey yang tiada tandingnya, karena miliki Ombak Kiri. Dan, merupakan satu-satunya di dunia.
Untuk membuat pariwisata Lakey agar benar-benar bergairah adalah selenggarkan event. “Kata kuncinya, event. Daerah harus berani mengeluarkan anggaran untuk menggelar event,” tegasnya.
Dicontohkan, daerah Dompu mengeluarkan anggaran sekitar Rp. 2 miliar hingga Rp. 3 miliar. Dengan sendirinya Pemprov maupun Pempus menggelontorkan anggaran hingga puluhan miliar bahkan ratusan miliar untuk memperbaiki sarana prasarana yang sudah ada dan membangun yang belum ada.
Yang tidak kalah pentingnya, agar dunia luar tahu tentang adanya event-event tersebut, pelibatan media massa harus dimaksimalkan. Dari medialah, publik lokal, nasional hingga internasional tahu.
“Gerakkan dan berdayakan media untuk melakukan sosialisasi melalui strategi pemberitaan sesuai gaya dan cirinya masing-masing,” imbuhnya. (*)

Mantapp Om Won