Trotoar di pinggir jalan dari Hotel Ani Lestari ke Hotel Aman Gati, Lakey, terputus. Iskandar PAS saat kembali meninjau Hotel Alamanda yang hampir roboh akibat terjangan banjir, beberapa hari lalu. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Selain wilayah kota Dompu dan sekitarnya, Kecamatan Hu’u juga telah menjadi langganan banjir.

Setelah terjadi di Desa Daha dan beberapa desa lain awal 2021 lalu, banjir juga kembali melanda Desa Hu’u dan sekitarnya di penghujung tahun ini (pekan lalu).

Hal tersebut memantik perhatian anggota DPRD Kabupaten Dompu utusan Daerah Pemilihan Hu’u, Pajo dan Dompu, Iskandar, S.Pd.

Menurutnya, banjir terjadi, selain merupakan ujian dari Yang Maha Kuasa, juga karena beberapa penyebabnya. Diantaranya, saluran air dari Hotel Aman Gati ke Hotel Beach Inn tersumbat.

“Dampak tersumbatnya saluran tersebut, membuat air tidak dapat mengalir dengan lancar. Sehingga, air meluap,” kata pria yang akrab disapa PAS Dompu atau Iskandar PAS itu.

Selain itu, trotoar di pinggir jalan dari Hotel Ani Lestari ke Aman Gati terputus, juga membuat air tidak dapat mengalir. “Hotel Alamanda, terutama di bagian hampir rubuh akibat terjangan banjir,” sambung ayah tiga anak itu.

Ketika meninjau ke lapangan, Iskandar PAS mengatakan, saluran air dari Hotel Aman Gati ke Hotel Beach Inn saat ini tidak berfungsi lagi. (ist/lakeynews.com)

Pada Lakeynews.com, politisi PKS itu mengharapkan kepada pemerintah daerah agar segera menangani saluran air dari Hotel Aman Gati ke Hotel Beach Inn tersumbat itu.

Trotoar di pinggir jalan dari Hotel Ani Lestari ke Aman Gati yang terputus itu juga harus segera diperbaiki. “Jika tidak, saya khawatir banjir akan terus terjadi,” tegas Iskandar PAS.

Bukan itu saja. Iskandar meminta kepada Pemda kiranya membuatkan tanggul penahan abrasi di sepanjang bibir (kawasan) pantai Lakey, terutama di titik-titik yang dianggap paling rawan.

Pohon-pohon penyangga pada gunung-gunung di sebelah timur hotel-hotel di Pantai Lakey, termasuk bukit Lakey, harus dilakukan reboisasi. “Harus segera dilakukan penanaman kembali pohon-pohon pengganti di hutan yang gundul,” imbuhnya.

Pohon yang ditanam dimaksud, selain sebagai penyangga, juga diharapkan yang memiliki nilai ekonomis. “Seperti pohon jeruk, mangga, kelapa durian, kelengkeng, kemiri, sengon, mahoni, ketapang dan lainnya,” papar Iskandar.

Mumpung saat ini sudah masuk musim hujan, pemerintah diharapkan melakukan reboisasi di kawasan yang sudah rontok tersebut.

Kegiatan reboisasi bisa melibatkan masyarakat dan pengusaha. Dengan demikian ada sinergitas antara pemerintah dengan masyarakat dan pengusaha, termasuk pengusaha hotel.

“Pemerintah dapat memberikan berbagai jenis bibit kepada masyarakat Hu’u untuk ditanam di wilayah-wilayah tersebut,” saran Iskandar.

Gunung-gunung di sebelah timur pantai Lakey, Kecamatan Hu’u yang gundul, tak berhutan ini perlu segera direboisasi dengan menanam kembali pohon-pohon penyangga. (ist/lakeynews.com)

Jika tidak segera dilakukan reboisasi, Iskandar mengkhawatirkan kedepan banjir akan makin parah. “Sumber mata air akan semakin hilang, terutama pada musim kemarau,” tandasnya.

Terkait bencana banjir yang beberapa kali melanda wilayah kelahirannya, menurut Iskandar, sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Mencari siapa yang salah, siapa yang benar.

“Mari kita bahu membahu mengatasi masalah yang ada. Segera mengambil langkah dan tindakan serius, sehingga kedepan tidak terulang lagi kejadian-kejadian yang tidak kita inginkan,” pintanya.

Kepada segenap masyarakat, terutama di wilayah Kecamatan Hu’u dan sekitarnya, Iskandar mengimbau dan mengajak untuk sama-sama menjaga dan melestarikan alam.

“Di situ bagian dari kehidupan umat manusia. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan memperhatikan dan melestarikan alam kita, atau eksistensi Lakey, Hu’u kedepan,” tuturnya dengan nada tanya. (ayi)