Syafruddin, ST, MT dan Muhammad Iradat, S.Gz (tiga dan empat dari kiri) adalah dua dari empat pembicara Dialog Interaktif di panggung Ramadan Expo 2021 BPC HIPMI Dompu. (feri/lakeynews.com)

Potensi Entitas Sejarah Budaya Tersebar di Hampir Seluruh Wilayah Dompu

–

POTENSI entitas sejarah budaya Dompu, tersebar di delapan kecamatan yang ada. Demikian diungkapkan Akademisi STIE Yapis Dompu Syafruddin, ST, MT, dalam Dialog Interaktif Panggung Inspirasi Ramadan Expo 2021 BPC HIPMI Dompu.

Dikatakannya, di Hu’u ada kompleks; So Sambana dan Doromanto. Di sana ada banyak peninggalan peradaban zaman prasejarah Ncuhi Hu’u, ada Wadu Kadera, Wadu Lanco, Wadu Kajuji, Kopa Ncuhi, Rade Mbolo dan Wadu Nocu.

“Semuanya berada dalam satu tempat dan tidak jauh dari Dam Hu’u ke arah Pantai Lakey. Ini bisa menjadi kawasan wisata sejarah,” jelas dalam diskusi  bertema “Potensi Identitas Sejarah Budaya dan Pariwisata Berbasis Fotografi dalam Paradigma Sustainable Tourism” tersebut.

Baca juga:

Sementara di Saneo, lanjut Syafrudin, ada Wadu Nocu, Menhir, Kuburan Tua dan lainnya. “Ini bisa menjadi kawasan wisata sejarah, dengan konsep wisata sejarah dan wisata edukasi atau penelitian,” ujarnya.

“Bisa dikembangkan dengan paket kolaborasi objek wisata utama seperti Pantai Lakey,” tambahnya.

Pria yang bertugas di Dinas Lingkungan Hidup Dompu ini menuturkan, di Kelurahan Kandai Satu (Kansa) ada Situs Dorobata, Bukit Sultan dan Doro Wadu Na’e yang lokasinya tidak jauh dari kota.

“Tempat ini bisa dikembangkan dengan konsep wisata sejarah dan budaya melalui penataan dan pengembangan yang mengusung tradisi setempat,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Majelis Sakaka Dana Dompu Muhammad Iradat, S.Gz, mengatakan, Dompu memiliki potensi utama sebagai sebuah daerah yang memiliki identitas sendiri.

“Saya punya pengalaman pernah berkecimpung dibidang budaya. Selama itu banyak media nasional yang tertarik dengan identitas dan kearifan lokal Dompu,” ujarnya.

Ketertarikan mereka tentang cagar budaya, pranata adat dan tradisi, juga potensi bentang alam Dompu. “Karena itu, sudah kewajiban kita merawat dan mengenalkannya pada generasi untuk melanjutkannya,” terang Dae Redo (sapaan akrabnya).

Identitas-identitas lokal yang dimaksud, sambungnya, seperti cara menjebak kuda dan menangkap kerbau tradisional di Kecamatan Pekat, menikmati ombak di Pantai Lakey yang merupakan satu-satunya Ombak Kidal di Indonesia.

Selain itu, meliput lomba perahu layar bercadik dan tradisi pembuatan nasi bambu/lemang (timbu, Bima-Dompu, red) sebagai ciri khas bangsa Austronesia, penangkapan kepiting di hutan bakau, Lomba Garoba dan Pacuan Kuda.

“Ini yang orang-orang cari di Dompu dan ini bisa menjadi ikon pariwisata Dompu,” tutur Dae Redo.

Hal ini terbukti memikat TV swasta nasional dan beberapa penulis buku berdatangan ke Dompu. “Kini dunia sudah mengakui keindahan dan kebesaran bumi Nggahi Rawi Pahu,” paparnya.

“Bahkan sekelas penulis buku Heryus Saputro, memiliki memori dan pengalaman berharga di dana Dompu. Itu tertuang dalam karyanya dalam Buku Dana Dou Dompu,” sambungnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, lewat dialog interaktif yang digelar HIPMI ini, pihaknya ingin mengukuhkan perlawanan budaya. “Kami ingin menggugat dasar pengkultusan entitas Sasambo sejak 2010,” tegasnya.

“Ini telah menghilangkan dan merugikan identitas Dompu, Donggo dan Sanggar yang jelas eksistensinya,” tegasnya lagi. (ady ardiansah/*)