Gambar di atas dan di bawah, PPL dengan wilayah binaan Kelurahan Simpasai, Khairurrizaq (Heru atau Rayshan), ketika Bektram pada mahasiswa PKL di BPP Woja. (ist/lakeynews.com)
(ist/lakeynews.com)

Alat tanam padi sawah tabur benih langsung yang diberi nama Sepeda Tabela ini cukup sederhana. Namun, menjadi solusi cerdas dan luar biasa atas permasalahan para petani di Kabupaten Dompu, NTB, dalam budi daya padi sawah. Seperti apa alat ini? Apa saja keunggulannya? Bagaimana sistem kerjanya? Berikut kupasannya.

—————-

SEDERET permasalahan dihadapi para petani padi sawah di Bumi Nggahi Rawi Pahu selama ini. Selain masalah kelangkaan pupuk, umumnya, petani juga terjebak pada masalah langkanya tenaga kerja, minimnya sarana penunjang alat dan mesin tanam padi.

Masalah-masalah tersebut tentu berdampak pada meningkat (membengkak)-nya biaya produksi para petani. Sehingga, dibutuhkan upaya, inovasi dan kreativitas untuk memecahkan persoalan itu.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Woja berhasil merumuskan pemecahan masalah, dengan membuat alat tanam padi tabur benih langsung. Alat itu diberi nama Sepeda Tabela.

Kebetulan saat ini, ada sembilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) yang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di BPP Woja. Mereka merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Pertanian itu sudah dua pekan berada di sana.

Sebagai bagian dari kegiatan civitas akademika, para mahasiswa tersebut mengikuti dan melakukan berbagai kegiatan selama dua bulan. Tentu, sesuai dengan kondisi lapangan dan kerja di BPP Woja.

Sehubungan dengan keberadaan sembilan mahasiswa PKL itu, BPP Woja memberikan pembinaan dan pembekalan keterampilan (Bektram). Hal tersebut diharapkan mampu menghasilkan terobosan dalam memajukan sektor pertanian di Kabupaten Dompu.

Dari kiri; PPL dengan wilayah binaan Kelurahan Simpasai – Woja Khairurrizaq, aktivis lingkungan Chapunk dan Koordinator BPP Woja Sudirman. (ist/lakeynews.com)

Berbagai permasalahan yang dihadapi para petani dalam melakukan budi daya padi sawah menjadi titik berat BPP Woja untuk dicarikan pemecahannya.

“Bila itu mampu dicapai, maka kami yakin pendapatan dan kesejahteraan petani di daerah kita ini dapat meningkat,” kata Koordinator BPP Woja Sudirman pada Lakeynews.com, Kamis (25/2).

Sebagaimana diawal tulisan di atas, permasalahan budi daya padi sawah yang dihadapi petani saat ini, antara lain, langkanya tenaga kerja, minimnya sarana penunjang alat dan mesin tanam padi.

“Masalah-masalah tersebut tentunya membuat biaya produksi makin meningkat,” papar Sudirman yang saat itu didampingi PPL Kelurahan Simpasai, Khairurrizaq.

Karena itu, BPP Woja bersama para mahasiswa PKL merumuskan suatu pemecahan masalah. Mereka membuat Sepeda Tabela, alat tanam padi tabur benih langsung.

Ada banyak keunggulan Sepeda Tabela ini. Alat ini sangat mudah dioperasikan. Hanya membutuhkan waktu 5-6 jam, lahan sawah satu  hektare sudah selesai ditanam. Cukup oleh satu tenaga kerja saja.

Jauh berbeda jika dilakukan secara (melalui) tandur (mura; bahasa Dompu-Bima, red). Tandur atau pindah tanam yang dilakukan setelah ndaur (cabut dan ikat bibit padi sawah), satu hektare membutuhkan tenaga 20 orang.

Kalau per orang diupah rata-rata Rp. 70 ribu hingga Rp. 100 ribu, maka total biaya yang dihabiskan untuk ndaur dan tandur ini berkisar Rp. 1,4 juta sampai Rp. 2 juta.

Keuntungan lain Sepeda Tabela ini, sebut Sudirman, jarak tanam padi lebih teratur, rata-rata 10 x 20 Cm. Dengan demikian, dalam perawatan tanaman nanti akan mudah. Termasuk saat pemupukan dan pengendalian hama penyakit.

Para mahasiswa UMMAT Prodi Teknologi Pertanian yang sedang PKL di BPP Woja, antusias mempraktikan cara membuat Sepeda Tabela. (ist/lakeynews.com)

Sepeda Tabela sebenarnya bukan hal baru di bidang pertanian. Namun dalam perancangan di BPP Woja telah mengalami modifikasi. Tujuannya, agar lebih ekonomis dan mudah dalam perawatannya.

Jika ada petani yang ingin membuat alat, BPP Woja dengan senang hati siap memberikan materi penyuluhan tentang bagaimana membuatnya. “Pemberian materi melalui demonstrasi tentang cara membuatnya,” jelas Khairurrizaq.

Metode tersebut diterapkan, menurutnya, agar para petani terlibat secara langsung dalam prosesnya dan mudah diingat langkah kerjanya. Bahan-bahannya untuk pembuatan alat ini pun mudah dan murah. “Semuanya tersedia di sekitar kita,” jelas pria yang biasa dipanggil Heru atau Rayshan ini.

Apa saja bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan Sepeda Tabela ini?

Sudirman menyebut, pipa PVC AW ukuran 4 inci sebanyak 1 batang, Dop ukuran 4 inci sebanyak 2 buah dan velg sepeda bekas lengkap dengan ban ukuran 20 sebanyak 1 pasang.

“Bahan lain yang dibutuhkan adalah potongan papan tebal sepanjang 20 Cm, karet dari ban dalam bekas, kayu usuk 3 x 4 Cm sebanyak 2 batang dan sekrup,” papar Heru.

( sarwon al khan )