
Oleh: Abdul Mufakhir, S.Psi, M.Ak
PADA era tahun 80-an di daerah Bima dan Dompu sedang gencar-gencarnya pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan. Saat itu, di Bima-Dompu masih banyak daerah terosilir. Tidak terjangkau oleh transportasi maupun penerangan listrik.
Demikian pula Penyebaran informasi, masih cukup lamban karena pada zaman tersebut belum ada gadget atau sarana media lain, seperti televisi. Kalaupun ada televise, hanya dimiliki oleh orang tertentu dengan acara yang monoton yakni TVRI.
Di era tersebut, ada sosok terkenal yang sangat ditakuti oleh anak generasi zaman itu. Biasa disebut “Kalila”. Kalila merupakan sosok penculik anak dengan ciri khas memiliki mobil Toyota land cruser 40 series atau masyarakat lebih mengenalnya sebagai mobil Jeep.
Sosok Kalila tersebut mencari anak untuk diculik dijadikan tumbal untuk pembangunan fondasi jembatan, karena pada era tersebut masyarakat percaya bahwa untuk kuatnya konstruksi jembatan maka perlu ada korban.
Hal tersebut tidak terlepas masih melekatnya kepercayaan animisme di kalangan masyarakat Bima-Dompu pada saat itu. Dimana, setiap pembangunan baik rumah, jembatan atau bangunan lain maka sebelum bangun pondasi, perlu ada darah korban agar bangunan tersebut kokoh dan kuat.
Pada zaman itu, bila anak melihat mobil jeep lewat seringkali mereka ketakutan dan menghindar. Bersembunyi di parit atau tempat lain untuk menghindari mobil tersebut. Mobil jeep seri J keluaran tahun 1975 ini melekat dengan mobil penculik karena di era 80-an mobil ini digunakan sebagai mobil petrus atau penembak misterius.
Saking melekatnya dengan mobil penculik, anak-anak pada generasi tersebut bahkan menangis atau meloncat ke parit bila mendengar atau melihat mobil tersebut.
Setelah era 90-an sampai 2000-an mucul lagi sosok “Pak Dasi” yang diindentikkan dengan penculik anak dengan ciri khas mobil jeep yang sama dengan Kalila.
Sosok-sosok tersebut, sampai sekarang belum pernah teridentifikasi secara jelas siapa dan di mana mereka tinggal. Tidak ada penangkapan atau kepastian perkembangan kasus penculikan anak, namun berita tersebut hanya tersebar menyebar liar di kalangan masyarakat dan menjadi momok yang menakutkan masyarakat.
Penculik Menggunakan Mobil Tertentu
Akhir-akhir ini sedang marak isu penculikan anak. Isu yang berkembang bahwa anak tersebut akan dimutilasi untuk diambil organ dalamnya sebagai barang ekspor ke negara tertentu sebagai pengobatan/transpalantasi organ tubuh.
Isu-isu tersebut dari tahun ke tahun muncul dan menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai ragam cerita dalam bentuk video dan gambar yang menguatkan.
Lain zaman lain juga isu yang dimunculkan. Bila dulu anak diculik untuk tumbal menguatkan konstruksi bangunan, sekarang isunya muncul bahwa penculikan anak untuk diambil organnya. Bila dulu menggunakan mobil jeep yang trend pada masanya, sekarang menggunakan mobil minibus merk Avanza yang sangat banyak digunakan oleh masyarakat Bima dan Dompu saat ini.
Bila kita memperhatikan teori peluang, apabila kemunculan suatu kejadian atau peristiwa sering terjadi maka peluang untuk muncul kejadian tersebut akan besar pula. Begitu pula pemilihan mobil yang digunakan oleh penyebar isu penculik, tingkat kesalahpahaman akan besar apabila mobil yang digunakan juga banyak digunakan oleh masyarakat setempat.
Sampai saat ini, banyak kejadian tentang isu penculikan anak lebih banyak pada berita hoax. Misalnya kejadian baru-baru di Dusun Ngaro, Kecamatan Bolo. Masyarakat setempat dihebohkan dengan penculikan anak yang modusnya dibawa menggunakan mobil Avanza. Ternyata hanya kesalahpahaman karena anak tersebut dibawa sama keluarga sendiri.
Kejadian yang sama juga terjadi tahun 2012 di Pantai Kute, Pulau Lombok. Kala itu diisukan penculikan anak menggunakan mobil Avanza berplat luar daerah. Kejadian tersebut sampai memakan korban jiwa penjual obat yang disangka penculik anak. Padahal itu hanya isu hoax belaka.
Mengapa penculikan anak ini menyebar di Indonesia, sementara di negara lain sama sekali tidak terdengar beritanya, seperti di Malaysia, Filipina atau Australia. Padahal, organ tubuh manusia di berbagai negara tersebut hampir sama.
Hal tersebut tidak lepas dari penerimaan informasi dan budaya orang Indonesia yang cepat menerima hal-hal baru. Tingkat pendidikan yang rata-rata rendah menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat Indonesia sangat rentan terhadap isu-isu tersebut. Tingkat penggunaan media sosial masyarakat Indonesia tinggi, sehingga informasi cepat menyebar dan membuat kecamasan tinggi bagi kalangan orang tua yang memiliki anak kecil.
Mengapa Anak usia 5-12 Tahun jadi Sasaran Penculikan?
Masyarakat Indonesia memiliki rekam sejarah cerita masa lalu tentang mitos-mitos penculik anak. Sebut saja Wewe Gombel, cerita rakyat di tanah jawa yang menculik anak untuk dirawat dan dibesarkan. Selain itu, ada Kolor Ijo yang menjadikan anak sebagai objek untuk diculik bahkan dilecehkan secara seksual.
Masyarakat Indonesia meyakini bahwa waktu pergantian antara siang dan malam menjadi waktu dimana aksi penculikan dilakukan. Demikain halnya Kalila dan Pak Dasi yang beroperai di Bima dan Dompu pada era tahun 80-an, mereka keluar pada jam-jam malam. Sehingga ketika zaman dahulu anak tidak pulang pada waktu Magrib, orang tua akan khawatir. Disisi lain anak juga akan ditakuti dengan alasan akan diculik oleh Kalila atau Pak Dasi kalau waktu Magrib tidak pulang-pulang ke rumah.
Secara psikologis, kedekatan secara emosional antara anak dan orang tua menjadikan isu penculikan anak menjadi isu sensitif dan provokatif, karena rasa kuatir dan proteksi orang tua terhadap anak.
Pemilihan anak sebagai objek penculikan bukan sesuatu yang tanpa perhitungan. Ketika anak dihadapkan pada kumpulan orang/massa, reaksi anak dengan usia 5-12 tahun akan cepat panik dan tidak bisa menjelaskan duduk permasalahan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Anak ketika berhadapan dengan massa yang beringas, hal umum dilakukannya hanya menangis dan tidak bisa menjelaskan kronologis kejadian. Beda halnya bila isunya penculikan orang dewasa, maka kemungkinan untuk menjelaskan lebih baik.
Penculikan orang dewasa tentu lebih ke hal-hal kriminal atau pelecehan seksual, bukan isu pengambilan organ tubuh. Padahal pencangkokan tranplantasi organ tubuh tersebut perlu kesamaan resipien dengan penerima organ tubuh yang tentunya bukan hanya anak kecil.
Memperjualbelikan organ tubuh tentu tidak semudah menjual daging ayam, karena banyak prosedur syarat yang harus dipenuhi dalam dunia medis. Apalagi, konon, barang tersebut harus diangkut ke luar negeri, tentu harus perlu melewati berbagai prosedur yang tidak mudah dan mustahil untu tidak terbongkar.
Sudah sewajarnya masyarakat Bima dan Dompu belajar kembali terkait kasus Kalila dan Pak Dasi si penculik, anak yang melegenda tersebut, dimana sampai sekarang belum pernah tertangkap atau terdengar kejelasan sosoknya.
Kalila bagaikan mitos yang hanya tersebar ceritanya dari mulut ke mulut dan dari sosial media ke sosial media tapi tidak pernah ada kejelasan faktanya.
Masyarakat jangan sampai terjebak oleh narasi penculikan anak tanpa kita belajar sejarah dari masa lalu, dimana sosok Kalila modern berwujud berbeda bermunculan sekarang bagaikan isu yang ‘menggelinding liar’ memakan banyak korban tidak berdosa.
Diera digital informasi begitu cepat menyebar, harus pintar-pintar menyaring informasi. Masyarakat harus lebih cerdas menerima informasi dan melakukan cek dan ricek lagi terhadap informasi yang diperoleh. Jangan gampang menyebar informasi, sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan berakibat pada jatuhnya korban jiwa.
Kewaspadaan perlu tapi harus dibarengi dengan rasionalitas dalam menerima informasi, sehingga kejadian-kejadian yang dapat menimbulkan korban jiwa dapat terhindarkan. (*)
*) Penulis adalah Pemerhati Sosial Bima – Dompu.
