Kepala Bakesbangpol Kabupaten Dompu Ardiansyah, ketika berbicara pada forum Peluncuran Kompak Dompu dan Dompu Juang, di Aula Pendopo Bupati, Senin (20/10/2025). (ist/lakeynews)

KARYA Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Dompu Ardiansyah yang diberi label Kompak Dompu, salah satu inovasi pejabat Eselon II yang diluncurkan Bupati Bambang Firdaus (BBF) di Aula Pendopo Bupati, Senin (20/10/2025).

Inovasi tersebut merupakan salah satu Strategi Peningkatan Kewaspadaan Dini Pencegahan Konflik Sosial melalui Kolaborasi Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Dompu.

Sederet hal terkait konflik sosial di daerah yang melatarbelakangi dan mendorong Ardiansyah mengambil terobosan melalui inovasi Kompak Dompu.

Pria yang akrab disapa Simpe Dian itu membeberkan dan menguraikan secara detail isu “Konflik Sosial dan Upaya Penyelesaiannya”. Berikut penyebab, bentuk, dampak, hingga cara menangani dan menyelesaikannya.

Baca juga: 

* Inovasi Dompu Juang dan Kompak Dompu Diluncurkan, Bupati BBF: Ini Karya Luar Biasa

Kompak Dompu, Solusi Pencegahan Konflik Sosial

Menurut Simpe Dian, beragam dinamika sosial masyarakat di Kabupaten Dompu berpotensi menimbulkan konflik, baik skala kecil maupun besar.

Dampak konflik tidak hanya memengaruhi hubungan antarwarga. Lebih dari itu, dapat merusak tatanan sosial, menghambat aktivitas ekonomi, serta menurunkan kualitas kehidupan masyarakat.

Karena itu, kehadiran Pemda Dompu melalui Bakesbangpol memiliki peran strategis dalam mencegah, menangani, dan menyelesaikan potensi konflik sosial yang muncul tersebut.

Diketahui, Konflik Sosial adalah pertentangan atau ketegangan antara dua orang, individu, atau kelompok yang berusaha memenuhi kepentingannya dengan cara menentang atau bahkan menyingkirkan pihak lain, baik melalui ancaman maupun kekerasan.

Konflik bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti konflik antarkelas, antarindividu, antarkelompok, atau konflik agama. Penyebabnyapun beragam, ada karena perbedaan pendapat, kepentingan, budaya, atau juga dampak dari perubahan sosial yang cepat.

 

Penyebab Konflik Sosial

Secara umum, ada beberapa penyebab konflik sosial di Kabupaten Dompu. Antara lain, Perebutan Lahan Pertanian dan Kehutanan; Isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA); Persaingan Politik Lokal; Kesenjangan Sosial-Ekonomi; dan, Penyebaran Informasi Hoaks.

 

Bentuk Konflik Sosial

Ada beberapa bentuk konflik dari sudut psikologi sosial. Diantaranya, Konflik dengan orang tua sendiri; Konflik dengan anak-anak sendiri; Konflik dengan keluarga; Konflik dengan orang lain; Konflik dengan suami/istri; Konflik di sekolah; Konflik dalam pemilihan pekerjaan; Konflik agama; dan, Konflik pribadi.

 

Dampak Konflik Sosial

Konflik-konflik sosial ini dapat menimbulkan dampak yang luas. Selain dampak negatif juga ada dampak positifnya.

Dampak positifnya, sebut Simpe Dian, antara lain, mendorong perubahan sosial. “Konflik sering menjadi titik awal perbaikan aturan, kebijakan, maupun sistem yang dianggap tidak adil,” papar Simpe Dian.

Meningkatkan kesadaran demokrasi. Konflik dapat melatih masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, belajar berdialog, dan menghargai perbedaan pendapat.

Mendorong inovasi penyelesaian masalah. Konflik mendorong munculnya gagasan dan strategi baru untuk menciptakan solusi yang lebih baik.

Berikutnya, mempertegas peran lembaga sosial dan pemerintah. “Adanya konflik membuat lembaga seperti Bakesbangpol, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan lebih aktif menjaga stabilitas,” bebernya.

Sementara dampak negatifnya, diantaranya, kerusakan hubungan sosial. “Konflik dapat memutus tali silaturahmi, menurunkan rasa persaudaraan, dan menciptakan permusuhan antarindividu atau kelompok,” sebut Simpe Dian.

Akibat lain, gangguan keamanan dan ketertiban. Konflik yang meluas sering menimbulkan kericuhan, kerusuhan, bahkan bentrokan fisik.

Belum lagi kerugian ekonomi. Aktivitas perdagangan, pertanian, dan pembangunan dapat terhambat karena situasi yang tidak kondusif.

Disamping itu, terganggunya pembangunan daerah. “Program pemerintah tidak dapat berjalan optimal akibat situasi masyarakat yang tidak stabil,” cetusnya

 

Cara Penanganan Konflik Sosial

Lalu bagaimana upaya atau cara penanganan dan penyelesaian konflik sosial ini?

Menurut Simpe Dian, salah satunya dengan melakukan Deteksi Dini dan Pemetaan Konflik. “Bakesbangpol melakukan pemantauan perkembangan situasi dan identifikasi potensi konflik di masyarakat,” sambungnya.

Kemudian, Dialog dan Mediasi. Ini dilakukan dengan memfasilitasi pertemuan antarpihak yang berkonflik untuk mencari solusi bersama melalui musyawarah.

Selanjutnya, Kolaborasi dengan Aparat Keamanan. Pemda melalui Bakesbangpol bekerja sama dengan Polri, TNI, serta tokoh masyarakat dalam menjaga kondusifitas daerah.

Yang tidak kalah pentingnya adalah Penerapan Regulasi dan Sanksi Tegas. “Penegakan hukum yang adil bagi pihak-pihak yang menimbulkan kerusuhan, agar menimbulkan efek jera dan menjaga ketertiban umum,” imbuh Simpe Dian. (tim)