
Inovasi-Kreativitas Dua Tahun Dipermak Subari AB
Sebagian pembangunan di SMAN 2 Donggo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dibiayai hasil (berkah) penjualan batu pecahan yang dikeluarkan dari halaman sekolah. Tak kalah menakjubkan lagi, inovasi dan kreativitas sekolah yang kini dipimpin Subari AB berhasil membuat sumur “3-in-1”.
CATATAN: Sarwon Al Khan, Bima
SEJAK didirikan pada tahun 2012 lalu, Saya (penulis) mengunjungi SMAN 2 Donggo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), dapat dihitung dengan jari.
Bahkan, dalam tiga tahun terakhir –kalau tidak salah– hanya sekali Saya ke sana sebagai Wartawan. Setahun, sebelum Subari AB menjabat kepala sekolah di situ.
Teranyar kunjungan Saya pada pekan lalu. Itu usai menghadiri resepsi pernikahan keluarga di Kampung So Nao, Desa Punti, Kecamatan Soromandi. Saya terlebih dulu mampir di rumah sang Kasek, tak jauh dari tempat pernikahan.

Kedatangan Saya mendapat sambutan hangat keluarga. Dijamu begitu luar biasa oleh istri Kasek, Fanadian.
Rupanya Subari-Fanadian ingat betul makanan kesukaan Saya sejak mereka masih kuliah di Kota Mataram belasan tahun silam. Sehingga, begitu melihat Saya tidak mencicipi hidangan resepsi, mereka langsung memasak menu spesial.
Fanadian juga berprofesi sebagai guru. Sehari-harinya mengajar di SMPN 4 Soromandi.
Terhadap saya, mereka tidak menganggap dirinya pejabat (Kasek dan guru). Mereka kokoh menempatkan dirinya sebagai adik-adik yang penuh hormat dan sayang pada abangnya.
Kembali ke substansi. Dari rumah Kasek ke SMAN 2 Donggo memakan waktu berkendaraan lebih kurang 30 menit.
Dalam pertemuan tak terencana, Subari didampingi Wakasek Raflin H. Abakar dan Tenaga Tata Usaha Zulkifli H. Arahim.
Sekadar diketahui, SMAN 2 Donggo berkedudukan di lereng gunung. Pinggir Jalan Lintas Sangari – Donggo, Desa Mbawa.
Sekolah ini didirikan pada 19 Juni 2012 melalui SK Operasional Nomor: 423/01.1/C/2012, dengan NPSN 69831629.
Luas tanahnya mencapai 952.820 meter persegi. Dengan tanah seluas itu, SMAN 2 Donggo memiliki ruang gerak yang leluasa untuk mengembangkan fasilitas dan sarana kegiatan belajar mengajar.
SMAN 2 Donggo meraih akreditasi C melalui SK Akreditasi Nomor: 185/BAP-SM/KP/XI/2017, tanggal 20 November 2017.

Pembangunan dan Penataan Digenjot
Subari AB menjabat Kepala SMAN 2 Donggo sejak Juli 2023 – Sekarang. Terhitung baru dua tahun dua bulan ayah empat anak ini memermak sekolah tersebut.
Sebelumnya, Subari pernah menjabat sebagai Kepala SMAN 2 Soromandi, dan Kepala SMAN 2 Madapangga. Kemudian pernah menjadi Plt. Kepala SMAN 1 Soromandi merangkap Plt. Kepala SMAN 3 Soromandi. Kepercayaan yang luar biasa diberikan atasannya.
Meski baru dua tahun mengawaki SMAN 2 Donggo, Subari bersama keluarga besar sekolah senantiasa berpikir dan berupaya agar satuan pendidikan tersebut lebih maju.
Dalam mengeksekusi (melaksanakan) dan mewujudkan pikirannya tersebut, Subari melibatkan secara aktif warga sekolah dan warga setempat.
“Harapan kita, kedepan mereka semua merasa terpanggil untuk mencintai, bertanggung jawab dalam menjaga dan memelihara bersama apapun fasilitas yang kita bangun,” ujar Subari.
“Saya ingin SMAN 2 Donggo tidak kalah maju dari sekolah-sekolah di kota,” sambung lulusan S1 Bahasa Inggris FKIP Universitas Muhammadiyah Mataram – 2003, dan jebolan S2 Bahasa Inggris FKIP Unram – 2019 ini.

Pemagaran Keliling
Salah satu pembangunan yang telah diwujudkan dalam kepemimpinan Subari adalah pemagaran keliling sekolah. Totalnya lebih kurang 400 meter. Minus bagian depan, karena sudah dipagar pada masa Kasek sebelumnya, Nasruddin.
Memagar keliling SMAN 2 Donggo yang penuh bebatuan, tidak sesederhana di tempat lain. Yang begitu ada bahan (material) bangunan, langsung dikerjakan.
Di SMAN 2 Donggo lumayan rumit. Batu yang banyak dan besar-besar dikeluarkan dulu menggunakan alat berat yang disewa. Dipinggirkan baru dipecahkan. Atau, dipecahkan dulu baru dipinggirkan.
“Batunya banyak sekali. Kita tidak beli baru untuk pondasi pagar,” tutur Subari.
Selain dipakai pondasi pagar keliling sekolah, batu-batu yang berhasil dipecahkan dan ditumpuk juga dijual. Hasil penjualannya, sekitar Rp. 20-an juta dipakai membeli pasir dan semen.
Saat ini saja masih banyak. Diperkirakan ada ratusan truk batu pecahan. Dan, bisa dipakai untuk bangun apa saja.
“Pengerjaan pembangunan pagar maupun pekerjaan lainnya di sekolah, selain kita gaji tukang juga gotong royong bersama warga sekolah dan warga di sini,” paparnya.
Kendati demikian, masih ada sekitar 70-an meter pagar sekolah yang sudah dipondasi tapi belum dinaikkan temboknya. Alasannya, belum cukup dana.
“Untuk sementara, kita pakai (tutupi) dulu dengan seng bekas, hasil pembongkaran bangunan yang direhab,” jelas Subari.

Gali dan Buat Sumur 3-in-1
Selama ini, setiap tahun warga SMAN 2 Donggo kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kadang mereka membawa air sendiri dari rumah. Kadang juga diangkut pakai mobil dari kampung.
Namun pada Agustus 2023, berusaha mengadakan dan menggali sumur di dalam lingkungan sekolah.
Secara logika, tidak masuk akal ada sumber air di sana. Selain posisinya di dataran tinggi, juga kondisi tanah kering kerontang dan tanpa banyak pohon pelindung.
Namun Kasek Subari mendapat informasi dari warga, bahwa di atas kampung kadang ada mata air. Dia berpikir dan memperkirakan, di lingkungan sekolahnya juga kemungkinan ada mata airnya.
Saat itu, di sekolah, sedang ada pengerjaan pemecahan batu menggunakan alat berat. Subari lalu meminta operator alat berat tersebut untuk mencoba melakukan penggalian.
Alangkah kagetnya mereka. Penggalian baru mencapai kedalaman sekitar empat meter, sudah dapat air. Supaya lebih banyak, penggalian dengan ukuran 3,5 x 1,5 meterpun dilakukan hingga sedalam enam meter.
Jika pada sumur itu hanya dipasang satu gorong-gorong –ukuran 100 x 50 (lingkaran kali tinggi)– maka itu dianggap kurang. “Sayang sekali kalau sumur besar hanya ditempatkan satu gorong-gorong,” cerita Subari.
Karena itulah, di bagian dalam (dasar) sumur dideret hingga tiga baris gorong-gorong. Tinggi per baris 13 gorong-gorong (12 di dalam, satu untuk di luar/atasnya). Total untuk tiga baris, 39 buah gorong-gorong.
Sehingga, terlihat tiga sumur dalam satu lubang sumur. Tampak 3-in-1 (tiga dalam satu).
Airnya ditarik pakai mesin jenis Sanyo untuk mengisi bak penampung. “Alhamdulillah, saat ini air sudah melebihi kebutuhan kita,” ulasnya.

Penataan Lingkungan Sekolah
Penataan lingkungan SMAN 2 Donggo juga terus dilakukan. Pinggir-pinggir lapangan sekolah ditalud. Pun menggunakan batu pecahan.
“Lapangan ditalud agar ketika musim hujan tidak digenangi air,” jelas pria kelahiran Wadukopa, Kecamatan Soromandi itu.
Bukan itu saja. Subari juga membuat dan menata taman sekolah dan membuat tempat parkir kendaraan. “Kita juga membuat empat berugaq, gotong royong guru-guru dan warga,”

Kecipratan Program Revitalisasi 2025
Tahun 2025 ini, SMAN 2 Donggo kecipratan bantuan Program Revitalisasi SMA dari Direktorat SMA Kemendikdasmen. Nilainya lumayan fantastis, Rp. 1,45 miliar.
“Pengerjaan pembangunan melalui program ini dilakukan secara swakelola,” ungkap Subari.
Apa saja yang dikerjakan?
Kata Subari, enam ruang kelas, satu perpustakaan dan gudang, serta satu toilet tiga bilik.
Tetapi, jika anggaran dan waktunya memungkinkan, khusus untuk toilet –meski rehabnya hanya satu– diupayakan juga rehab satu lagi toilet tiga bilik. “Karena kondisinya juga rusak,” tuturnya.
Terkait ruang perpustakaan, pihaknya mengusahakan dapat memberikan kenyamanan bagi siswa. “Kita buat senyaman mungkin, agar siswa-siswi betah berada di perpustakaan,” tandasnya.
Lahirkan Generasi Unggul, Berakhlak Mulia
SMAN 2 Donggo bertekad menebarkan ilmu pengetahuan di Bima, khususnya di Kecamatan Donggo. Menjadi salah satu pilar pendidikan di wilayah itu.
Disamping itu, sekolah ini berkomitmen melahirkan generasi muda yang unggul dan berakhlak mulia.
Menunjang hal tersebut, pihak sekolah berupaya semaksimal mungkin memberikan pendidikan berkualitas bagi siswa-siswinya. (*)
