Kordiv Hukum, Pencegahan, Parmas dan Humas Bawaslu Kabupaten Dompu Wahyudin. (ist/lakeynews)

DOMPU – Sejumlah warga Kabupaten Dompu yang nyata-nyata masih hidup terdaftar sudah meninggal dunia dalam data KPU. Sebaliknya, orang sudah meninggal terdata masih hidup.

Hal itu terungkap dari hasil pengawasan Bawaslu terhadap kegiatan Pencocokan dan Penelitian (Coklit) Data Pemilihan Berkelanjutan yang dilakukan KPU, beberapa waktu terakhir. Selain itu, hasil pengawasan Bawaslu terhadap hasil pleno tahap dua yang dilakukan KPU beberapa bulan lalu.

“Di data KPU terdaftar sudah meninggal, setelah kita melakukan proses pengawasan terhadap proses Coklit Berkelanjutan oleh KPU, ternyata orangnya masih hidup. Ada juga yang sebaliknya, orang sudah meninggal namun terdata masih hidup,” ungkap Kordiv Hukum, Pencegahan, Parmad dan Humas Bawaslu Kabupaten Dompu Wahyudin.

Pria yang akrab disapa Om Cun ini menyampaikan hal tersebut saat ditemui Lakeynews di Sekretariat Bawaslu, Rabu (27/8/2025).

Lebih jauh Wahyudin mengungkapkan, sampel data KPU dalam melakukan Coklit Berkelanjutan itu bersumber dari BPS dan BPJS. Khusus BPS, katanya, seharusnya memahami pergerakan data ini.

Mestinya ada perbaruan data penduduk yang kemudian dilaporkan (disampaikan) ke Pemda. Dia menduga kemungkinan BPS tidak melakukan itu.

“Kalau melakukan (pembaruan data penduduk pasti ada update data. Pasti data terkininya,” tegas Wahyudin.

“Kalau ada update data BPS, tidak mungkin orang yang dinyatakan meninggal ternyata masih hidup. Atau sebaliknya tersebut,” sambungnya.

Pihak BPJS Kabupaten Dompu masih diupayakan konfirmasi.

Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Dompu Arif Rahman yang dihubungi Lakeynews tidak membantah penyampaian pihak Bawaslu.

“Memang benar. Beberapa pemilih yang kita Coklit terdata meninggal dunia, namun kenyataannya masih hidup,” kata Arif, Rabu siang.

Arif bahkan membuka sampel jumlah pemilih yang terdata meninggal dimaksud. Di Kecamatan Manggelewa, empat orang ternyata masih hidup semua.

Di Kecamatan Kempo juga demikian. Dari delapan orang yang di data sudah meninggal, enam diantaranya masih hidup, dan hanya dua orang yang benar-benar sudah meninggal.

Mengapa bisa seperti itu?

Menurut Arif, salah satu penyebabnya, ketika sakit seseorang meminjam kartu BPJS Kesehatan orang lain. Dalam perjalanan perawatan, pasien tersebut meninggal dunia.

“Sehingga yang tercatat meninggal dunia adalah nama orang yang tertera dalam kartu BPJS tersebut,” jelas Arif.

Dengan dilakukan Coklit Data Pemilih Berkelanjutan dan setelah dilakukan pleno ketiga pada September mendatang, Arif berharap, data-data “aneh” tersebut tidak muncul lagi. (tim)