
CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu
KETUA DPRD Kabupaten Dompu Muttakun, pada Kamis (17/7/2025) sore kedatangan dua kelompok tamu. Forum Umat Islam (FUI) dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) bersama Ruber Dompu.
FUI Kabupaten Dompu hadir H.M. Amin (ketua) bersama Ustaz Muslamin, dan Ustaz Zainuddin MY.
Sedangkan IGI Kabupaten Dompu tampak Ida Faridah (ketua) bersama Siti Atikah, Teti Fajryatin, Usman, dan Desy Jayanti. Serta, Kmas Ardani Awalnya (Ruber Dompu).
Satu lagi hadir di tengah-tengah mereka adalah Pemerhati Sosial, Politik dan Pemerintahan Suherman Ahmad.
Mereka datang dalam waktu yang hampir bersamaan, dengan aspirasi yang berbeda. Sehingga, Muttakun menerimanya sekalian di tempat dan waktu yang sama pula, di ruang rapat ketua dewan.

FUI menyoal terkait masih adanya diksi-diksi atau narasi-narasi yang dirasa menyerempet keyakinan dalam kegiatan “Atraksi Ikonik/Tarian Massal Ou Balumba” pada Sabtu (20/7/2025). Dilanjutkan “Lakey Sunset Harmony”, Sabtu malam.
Sementara kolaborasi IGI dan Ruber menyampaikan tiga Program Literasi Alquran, yaitu Pendampingan Literasi Quran di Sekolah (Sekolah Piloting), Magrib Mengaji Berbasis Masjid, dan Magrib Khusyuk.
Tetapi dalam tulisan ini mengulas terlebih dulu hal-hal yang berkaitan dengan aspirasi Ormas FUI.
Sesuai rundown dalam undangan yang ditandatangani Bupati Dompu Bambang Firdaus dan diedarkan ke sejumlah pihak, terdapat beberapa mata acara.
Atraksi Ikonik/Tarian Massal Ou Balumba diawali Pembukaan/Pembacaan Sinopsis, Prosesi Ritual dan Tarian Massal “Ou Balumba”.
Sedangkan rangkaian Lakey Sunset Harmony, juga dimulai dengan Pembukaan. Kemudian, Tarian ” Toho Soji Ra Sangga”, dan Jingel Festival Lakey.
Dilanjutkan dengan Fashion Show “Muna Pa’a”, Sambutan-sambutan, Musik Live Performance, dan Penutup.
Yang diprotes secara tajam oleh FUI dan beberapa elemen lain, diantaranya, (diksi/narasi) “Prosesi Ritual” dan Tarian “Toho Soji Ra Sangga”.
Hal-hal tersebut, dinilai oleh Ketua FUI H.M. Amin dkk bersinggungan dengan aqidah dan keyakinan. Seolah-olah melakukan ritual yang dinilai mengandung nilai-nilai kesyirikan.
FUI juga menyesalkan, Pemda dan Panitia pelaksana cenderung mengabaikan kesepakatan hasil pertemuannya dengan MUI Dompu, FUI dan perwakilan Ormas lain, beberapa hari lalu.
Pertemuan yang berlangsung di Aula Kantor Kemenag Dompu itu membuahkan lima poin kesepakatan. Diantaranya, Narasi kegiatan dihilangkan hal-hal yang berbau kesyirikan. MUI dan semua Ormas keagamaan mendukung momen kegiatan Festival Lakey manakala hal tersebut tidak menyimpang.
Baca juga: MUI Dompu Turun Tangan, Polemik Tarian Ou Balumba Klir
Ketua DPRD Muttakun yang ditemui Lakeynews usai pertemuan tersebut mengaku sudah mendengar dan menyerap aspirasi beberapa ustaz dari FUI.
“Nanti kita akan konfirmasikan ke rekan-rekan panitia penyelenggara Festival Lakey, dalam hal ini Disbudpar,” ujarnya.
Jika yang disampaikan FUI itu benar, Muttakun menyesalkannya. Apalagi sebelumnya sudah komitmen bersama MUI untuk menghilangkan narasi-narasi yang berbau syirik.
“Saya menyesalkan. Ketika ada kesepakatan, lalu salah satu pihak melanggarnya. Mestinya, untuk menghindari polemik, jalankan apa yang sudah disepakati,” tegas Muttakun.
Hingga hari ini (Jumat, 18/7/2025), dinamika dan pro-kontra terkait isu minor dalam prosesi Tarian Ou Balumba; “Prosesi Ritual”, dan Lakey Sunset Harmony; Tarian “Toho Soji Ra Sangga”, masih sempat menghangat di media sosial. Seperti di WAG Lakeynews dan beberapa WAG lainnya.
Argumentasi-argumentasi, baik yang mendukung diksi/nasarasi tertulis dalam agenda kegiatan maupun yang mengkritisi, terpapar dalam grup.
Pada prinsipnya semua mendukung suksesnya event untuk menggairahkan nilai-nilai budaya dan pariwisata tersebut. Namun, hal-hal yang dinilai menyentuh aqidah dan keyakinan diharapkan dapat diminimalisir.

“Kalau Semua Seni-Budaya Dilabeli Syirik, tidak Ada yang Bisa Berkreasi”
Menanggapi dinamika tersebut, termasuk sorotan yang tak kalah tajamnya di WAG Lakeynews, Plt. Kabid Kebudayaan Dinas Budpar Kabupaten Dompu Dedi Asyik memberikan penjelasan
Menurutnya, pengisi acara (pihak sanggar) sejak Juni lalu didaftarkan ke panitia. (Sementara) kesepakatan dengan MUI Dompu terjadi pada 15 Juli 2025.
“Dan, fokus yang dibahas itu adalah Tarian Ou Balumba,” ujar Dedi menanggapi pernyataan yang diunggah Ketua DPRD Muttakun, beberapa waktu sebelumnya.
Kalau semua seni dan budaya “dilabeli” dengan syirik atau bertentangan dengan agama, lanjutnya, maka tidak ada yang bisa berkreasi.
Dikatakan, Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, juga mengharuskan untuk melakukan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap berbagai objek pemajuan kebudayaan yang meliputi beberapa hal.
Diantaranya, tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.
Upaya pemajuan kebudayaan bertujuan memperkuat jati diri bangsa, memperkaya keberagaman budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
UU ini hadir untuk memajukan seluruh unsur kebudayaan, dari yang tradisional hingga kontemporer, serta menjamin keberlangsungan dan keberagaman budaya Indonesia.
“(Undang-undang) ini menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam pemajuan kebudayaan, baik sebagai pemilik, pelaku, maupun penggerak,” tandasnya.
Merespons balik tanggapan Dedi Arsyik maupun komentar anggota grup lainnya, Muttakun dengan arif mengatakan, “diskusi kritis sudah kita lakukan sebagai rasa cinta dan rasa memiliki pada rakyat dan daerah kita.”
Muttakun merasa, Pemkab Dompu Cq Dinas Budpar sudah mengikuti dan menyimak masukan dan saran kritis segenap anggota grup.
“Dan, saya meyakini masukan dan saran kritis kita akan menjadi pijakan Dinas Budpar dalam memperbaiki kegiatan berikutnya,” ujar Muttakun.
Semua Pihak Diajak Tahan Diri
Kendati sebagian anggota WAG Lakeynews tampak mulai melunak, namun beberapa anggota lain masih bersemangat menyampaikan pendapat. Bahkan lumayan “kencang”, dan cenderung mulai membias.
Bahkan, Plt. Kabid Kebudayaan sampai harus mohon izin pada admin untuk keluar dulu dari grup. Alasannya, ingin fokus dulu pada kegiatan festival yang tersisa dua hari lagi.
Menyikapi hal itu dan agar obrolan insidental (tak terencana) lebih terkendali, admin grup berinisiatif menengahi dan sedikit mengendalikannya.
Berikut selengkapnya penyampaian admin grup;
“Bismillahirrahmanirrahim.
IZIN BAPAK/IBU SEGENAP ANGGOTA GRUP YANG KAMI CINTAI DAN BANGGAKAN
Terkait dengan Atraksi Ikonik/Tarian Massal Ou Balumba sebagai rangkaian event Festival Lakey –yang begitu hangat pro-kontranya–, kami (admin) pikir sudah masuk ke sumsum Pemda dan Panitia.
Substansi kegiatan maupun yang dipersoalkan sudah terwakili dari berbagai pendapat dan argumentasi yang muncul sejak beberapa hari terakhir.
Kita meyakini, semuanya dilandasi semangat untuk kemaslahatan. Sangat mencerahkan dan mengedukasi.
Karena itu, dengan tidak bermaksud membatasi kemerdekaan segenap anggota grup dalam berpendapat, kami atas nama Admin mengajak kita semua untuk sama-sama menahan diri, tetap dalam bingkai hubungan dan komunikasi yang konstruktif.
Atas maklum dan pengertian kita semua, kami ucapkan terima kasih. Dan, mohon maaf jika kami kurang maksimal dalam memandu obrolan grup.
Ttd
Admin”
Pengamatan Lakeynews, meski perbincangan masih berlanjut setelah admin menyampaikan permakluman, dinamikanya tidak lagi setajam sebelumnya.
Para anggota grup begitu menunjukkan kedewasaan dan intelektual. Mereka menonjolkan adab (baik) yang dimiliki, saling hormat dan menghargai satu sama lain. (*)
