
DOMPU – Pemerintah Kabupaten Dompu melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) terus berupaya meningkatkan peran dan tugasnya dalam mewujudkan kesejahteraan petani di daerah ini.
Kepala Distanbun Kabupaten Dompu Syahrul Ramadhan yakin kesejahteraan masyarakat petani akan semakin meningkat. Apalagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memberikan perhatian besar terhadap para petani di Kabupaten Dompu. “Selalu ada dan tidak pernah ada habisnya,” kata Syahrul, Selasa (3/12/2024).
Hal tersebut, menurut dia, dibuktikan dengan digelontorkannya sejumlah bantuan, fasilitas, sarana dan prasarana untuk mendukung kelancaran serta peningkatan aktivitas yang bermuara pada meningkatnya hasil produksi pertanian.
Pemerintah Kabupaten Dompu juga tak kurang memberikan perhatian dan terobosan untuk para petaninya. Terus berupaya melakukan pemenuhan kebutuhan air di areal pertanian. Mewujudkan pembuatan jalan usaha tani, pengeboran air dan pemberian fasilitas penyaluran air di areal persawahan melalui pompa air.
“Pemerintah Kabupaten Dompu tidak terus dan tetap berjuang untuk membantu petani, serta meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujar pria yang akrab disapa Ori Rao itu.
Berbicara tentang pertanian, lanjut Syahrul, kuncinya adalah lahan dan air. Sebab, meski ada lahan namun tapi tidak ada air, maka pemanfaatannya tidak akan optimal. Tetapi, jika ada air, sudah pasti pemanfaatan lahannya akan maksimal.
“Proses panen bahkan bisa dilakukan hingga tiga kali dalam setahun. Sumber air baku, sumur bor dalam maupun bor dangkal, tentu akan mampu mengoptimalkan peningkatan aktivitas pertanian,” tandasnya.
Untuk pemenuhan kebutuhan air di areal pertanian, pihaknya mengambil langkah strategis sebagai bentuk optimalisasi pemanfaatan lahan dengan cara mengeksploitasi potensi air. Salah satunya, menggunakan air baku yang diangkat dengan pompa (sistem pompanisasi).
Melakukan bor air dengan sistem hitungan kedalaman 60 meter ke atas. Itu menjadi bor dalam. Selain itu, untuk wilayah tertentu, melakukan bor dangkal untuk kedalaman di bawah 60 meter.
“Ini bisa dikonversikan untuk bisa mengairi 10 sampai 20 hektare lahan pertanian. Kondisi lahan yang dulunya tegalan menjadi lahan irigasi teknis. Artinya kebutuhan air di areal pertanian mampu kami wujudkan,” terangnya.
Fasilitas jalan usaha tani, mesin pompa air dan lainnya, urai Syahrul, merupakan kebutuhan mendasar petani untuk meningkatkan aktivitasnya. “Hal ini merupakan faktor utama untuk meningkatkan kesejahteraan petani kita,” katanya.
Disinggung bantuan bibit jagung subsidi buat petani, Syahrul menjelaskan, bibit jagung subsidi yang bersumber dari pemerintah, saat ini sudah berlaku terbalik. Biasanya, dulu, penyaluran bibit jagung dilakukan berdasarkan kuota pembagian dari pemerintah pusat.
“Tetapi sekarang pemerintah pusat menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Terutama untuk melihat katagori petani yang berhak mendapatkan bantuan bibit jagung subsidi,” paparnya.
Syahrul tidak memungkiri, petani banyak yang melakukan aktivitas penanaman jagung di areal kawasan (hutan tutupan). Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah pusat. Pemerintah tidak lagi memberikan bantuan bibit jagung kepada petani yang memanfaatkan hutan.
Tujuannya?
Menurut Syahrul, agar hutan yang gundul bisa kembali dihijaukan dengan tidak lagi menanam jagung. “Nantinya, penerima bantuan bibit jagung berdasarkan jumlah petani yang melakukan aktivitas tanam jagung di areal yang bukan kawasan,” tegasnya. (tim/adv)
