Kepala Distanbun Kabupaten Dompu Syahrul Ramadhan yang akrab disapa Ori Roi. (ist/lakeynews.com)

DOMPU – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Dompu melakukan gerak cepat (gercep) dan beberapa upaya untuk mengantisipasi darurat pangan akibat El Nino.

Diketahui, El Nino adalah fenomena cuaca ekstrem yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih panas dari normalnya. El Nino merupakan bagian dari El Nino–Osilasi Selatan (ENSO), yaitu siklus suhu permukaan laut yang hangat dan dingin di Samudra Pasifik tropis tengah dan timur.

El Nino dikhawatirkan akan meningkatkan potensi ancaman pada ketersediaan pangan nasional, termasuk di Kabupaten Dompu.

“Selain kegiatan lain, saat ini kami fokus dengan upaya mengantisipasi darurat pangan. Bekerja sama dengan TNI-AD dan lainnya. “Ini titik fokus kami saat ini,” ujar Kepala Distanbun Kabupaten Dompu Syahrul Ramadhan pada wartawan, Senin (2/12/2024).

Sehubungan dengan itu, beberapa waktu lalu, pihaknya melaksanakan Rapar Koordinasi (Rakor) Teknis Percepatan dan Pengawasan Perluasan Areal Tanam, atau penambahan areal tanam dalam rangka darurat pangan.

Dikatakan darurat pangan, berdasarkan hasil evaluasi FAO yang menangani urusan pangan, karena mengalami El Nino (iklim yang ekstrim di seluruh dunia) dikhawatirkan estimasi para ilmuan produksi padi hampir tidak sama seperti dulu (kurang).

Meskipun lokal (NTB) ini suplai pangan secara Nasional, tetapi secara global dikhawatirkan. Bahkan, terkadang pembelian beras dibatasi. “Ketakutan estimasi seperti itulah yang terjadi. Selain itu, ketersediaan beras di duniapun kurang (merosot), sehingga mereka memikirkan stok untuk kedepannya,” jelas Syahrul.

Syahrul menyebut, kedaulatan pangan itu penting. Sehingga perlu fokus untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan marginal (tidur). Atau, lahan yang biasanya 0 menjadi 1 kali tanam, dari 1 kali tanam menjadi 2 kali tanam dan 2 kali tanam menjadi 3 kali tanam, untuk digunakan komoditi Padi.

“Atau, lahan yang dulunya ditanami jagung, sekarang ditanami padi. Itulah yang kita hajatkan,” papar pria yang akrab disapa Ori Rao dan dilantik oleh Wakil Bupati Dompu H. Syahrul Parsan pada Jumat (29/11/2024).

Sebelumnya, Ori Rao definitif sebagai Sekretaris Distanbun dan menjabat Plt. Kadistanbun. Setelah lolos Pansel dan mendapat persetujuan dari Kemendagri, Syahrul Ramadhan dilantik sebagai Kadistanbun.

Ori Rao kemudian menyebut langkah-langkah yang dilakukan pemerintah. Antara lain intervensi bantuan dengan mencanangkan dua program, Pompanisasi dan Irigasi Perpompaan.

Untuk Pompanisasi, syaratnya harus ada air baku seperti di wilayah Desa Katua yang telah dikunjunginya belum lama ini.

“Kami kemarin-kemarin keliling di beberapa kecamatan. Termasuk kecamatan Dompu, Woja dan lainnya (belum termasuk Pekat). Kami melakukan identifikasi air baku. Kira-kira dalam kondisi seperti ini masih ada atau tidak ketersediaan air,” jelasnya lagi.

Ketersediaan air, nantinya diangkat menggunakan Pompa, di samping ada bor-bor yang dulunya tidak maksimal. Itu dibantu dengan pompa, sehingga mampu menjangkau air sumur dalam, dangkal dan air baku di areal aliran sungai.

Menurut Ori Rao, rata-rata di daerah aliran sungai saat ini, orang-orang menanam sayur-sayuran, biofarma, tanaman hias dan palawija. “Tapi sekarang dihajatkan untuk komoditi padi,” tuturnya.

Inilah yang sedang dirancang dan dilakukan di tengah masyarakat dengan melibatkan TNI-AD. Termasuk Polri selaku Satgas Pangan dan APH, serta APIP.

“Meski ini sifatnya darurat, kami tidak ingin kerja menabrak rambu-rambu. Itulah dibutuhkan kolaborasi semua pihak,” tegasnya.

Syahrul juga menjelaskan, program antisipasi darurat pangan itu bersumber (milik) Pemerintah Pusat dan Provinsi. Pemerintah kabupaten, hanya menerima bantuan dalam bentuk barang Pompanisasi.

“Kita terima bantuan pompa dan kita optimalkan pemanfaatan air baku yang ada di sepanjang daerah aliran sungai atau irigasi perpompaan yang diangkat airnya untuk mengairi lahan yang selama ini tidak digunakan untuk menanam. Atau, yang selama ini tanaman keduanya palawija, langsung ditanam komoditi Padi,” katanya.

Dengan bantuan Pompanisasi dan pemanfaatan air itu, orang-orang digerakkan untuk menanam Padi. Membumingkan tanaman Padi.

Jika saat ini harga padi, gabah dan beras tinggi, pihaknya menyarankan petani untuk menanam juga padi di luar musim. “Ketika orang dominan tanam jagung, sebagian tanam Padi, sehingga mengimbangi harga jual,” paparnya.

Syahrul lalu menceritakan pengalaman dirinya. Selain sebagai ASN, juga nyambi bertani di lahan pertanian miliknya. Dirinya pernah tanam jagung di luar musim dan harga penjualannya tembus hingga Rp. 9.000 per Kg.

“Harganya tinggi karena saat itu orang belum menanam jagung. Dan, pada saat musim tanam pertama kemarin, saya tanam jagung. Hasilnya tinggi dan luar biasa,” katanya lagi.

Syahrul meyakini adanya dampak atau efek domino dari kegiatan darurat pangan. Disamping mengantisipasi kekurangan pangan di tengah iklim ekstrem yang panjang, juga diharapkan ketersediaan dan stok pangan tetap ada.

“Dulu kita terkenal dengan swasembada beras. Kita kembalikan itu dengan cara Gerakan Menanam Padi. Mengoptimalkan lahan-lahan marginal dengan bantuan pompanisasi menggunakan air baku,” ulasnya.

 

Fokus Tanam Padi, Baru Komoditi Lain

Apa saja syarat untuk untuk mendapatkan bantuan pompanisasi dan menunjang optimalisasi pemanfaatannya?

“Harus ada air baku, atau ada sumber airnya. Untuk mendapatkan bantuan pompanisasi, ada kelompok tani dan terdaftar dalam sistem, dengan luas lahan minimal 10 hektare,” jawab Ori Rao.

Begitu juga dengan irigasi perpompaan, itu diberikan rumah pompa. Ada bak penampung, di mana airnya nanti dibagi. Bisa juga dibuatkan jaringan interkoneksi, seperti di Kandai Dua. “Asalkan sawahnya dialiri air,” tegasnya.

Dengan adanya Pompanisasi ini, sekarang sudah tersentuh sekitar 20 hektare dengan rincian 15 hektare menanam Padi dan sisanya (5 hektare) menanam jagung.

Sementara bantuan Pompa yang bersumber dari swadaya tempo dulu, sembari menunggu datangnya bantuan pompanisasi dan lainnya.

“Bantuan berupa pompanisasi itu sudah pasti ada untuk Dompu. Data kelompok calon penerima manfaat, sudah melalui sistem (aplikasi),” jelasnya lagi.

Semua langkah dan proses, terutama administrasi dan pemberkasan dari Pemda (Distanbun) Dompu sudah kelar. Pihaknya juga sudah mengirim Penetapan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL).

“Kalau tidak ada revisi di tingkat pusat, pusat akan segera mengirim bantuan Pompanisasi itu. Bantuan ini, tidak boleh digunakan untuk komoditi yang lain, selain Padi. Artinya, fokus dulu menanam padi (antisipasi darurat pangan), baru yang lain,” tegasnya lagi.

Diinformasikan juga, beberapa waktu laku, Syahrul memimpin rapat dengan pejabat darurat pangan dari Kementerian dan LO-nya dari provinsi, termasuk PPK-nya dari Dinas Pertanian Provinsi NTB, Dandim 1614/Dompu yang diwakili Kasdim.

“Menyukseskan program antisipasi darurat pangan perlu keterlibatan semua pihak. Bersama-sama menggerakkan petani agar menanam Padi. Sehingga Indonesia, khususnya Kabupaten Dompu tidak mengalami krisis pangan,” harap Ori Rao. (tim/adv)