
Oleh: Sugerman *)
Politisi semuanya sama, mereka berjanji untuk membangun jembatan, meskipun tidak ada sungai. “Nikita Krushchev”
Ada “dua istilah” yang selalu diproduksi oleh masyarakat kita saat ini, yaitu “memuji” dan “mengkritik”. Dalam tulisan ini, Penulis tidak memaknai kata ini secara leksikal (makna kamus atau makna sesungguhnya), tetapi memaknai istilah tersebut dari perspektif kepentingan dan ideologi seseorang dan partai politik.
Fenomena sosial yang terjadi saat ini, yaitu ketika seseorang atau partai politik yang dahulu mengkritik habis-habisan pemerintah, tetapi sekarang menyanjung atau mengapresiasinya. Ini menunjukkan dinamika politik yang kompleks dan sering kali bergantung pada perubahan konteks, persepsi publik, atau kepentingan politik.
Ada beberapa kemungkinan bentuk politik yang berkaitan dengan situasi ini;
Pertama, Pragmatisme Politik: Seseorang atau partai politik mungkin memutuskan untuk mendukung atau memuji sesuatu yang dulunya dikritik karena alasan pragmatis, seperti kepentingan jangka pendek, kekuatan politik baru, atau perubahan aliansi. Dalam politik, kadang-kadang kepentingan praktis mengalahkan prinsip, dan apa yang dianggap buruk pada satu waktu dapat dilihat sebagai sesuatu yang bermanfaat di kemudian hari.
Kedua, Reevaluasi Kinerja atau Kebijakan: Kritik awal mungkin berdasarkan persepsi atau informasi yang terbatas. Seiring berjalannya waktu, kebijakan atau tindakan yang awalnya kontroversial, mungkin menghasilkan hasil yang lebih baik dari yang diantisipasi. Publik atau elite politik kemudian mungkin mengubah pandangan politik mereka berdasarkan hasil evaluasi ulang.
Ketiga, Perubahan Narasi Politik: Seseorang atau partai politik tertentu mungkin mengubah narasi mereka untuk menyesuaikan dengan perubahan opini publik atau situasi politik yang berkembang. Narasi baru ini bisa lebih mengakomodasi seseorang atau kebijakan yang dulunya dikritik, dan hal ini sering kali terjadi untuk meraih dukungan yang lebih luas.
Keempat, Oportunisme Politik: Ada juga kemungkinan bahwa perubahan sikap ini adalah bentuk oportunisme, politisi atau kelompok tertentu mendukung sesuatu yang dahulu mereka lawan, karena hal itu lebih menguntungkan secara politik dalam konteks tertentu. Ini sering terjadi saat mendekati pemilihan atau ketika aliansi politik bergeser.
Kelima, Polarisasi Politik yang Berubah: Dalam iklim politik yang terpolarisasi, sebuah kebijakan bisa menjadi sasaran kritik tajam ketika mereka di pihak lawan. Namun, ketika terjadi perubahan konstelasi kekuatan politik atau pergeseran kepemimpinan, tokoh atau kebijakan tersebut bisa menjadi bagian dari narasi atau strategi yang baru, lalu disanjung.
Situasi ini menunjukkan bahwa politik sering kali bersifat cair dan berubah-ubah karena disebabkan oleh kepentingan, persepsi, dan aliansi terus berubah mengikuti konteks dan tantangan baru. Jadi, berpolitiklah dengan bijak dan santun, jangan terlalu menghardik lawannya, karena suatu saat kita akan menyanjungnya, Sebaliknya, jangan terlalu menyanjungnya, karena suatu saat, kita akan menghardiknya lagi. Itulah politik, tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah KEPENTINGAN. (*)
*) Penulis adalah Penggiat Wacana Politik, Mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Malang.
