
DOMPU – Sebelum memasuki purna tugas sebagai ASN dan mengakhiri masa jabatannya sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Litbang) Kabupaten Dompu, H. Gaziamansyuri memaparkan sejumlah hal terkait gambaran umum kondisi daerah.
Mulai dari aspek geografi yang meliputi gambaran mengenai lokasi, potensi pengembangan dan kerentanan terhadap bencana pada wilayah perencanaan untuk mengetahui karakteristik fisik wilayah yang sedang direncanakan.
Berikutnya, Luas Wilayah dan Batas Administrasi Merujuk pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 100.1.1-6117 Tahun 2022 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi, dan Pulau.
“Kabupaten Dompu teridentifikasi dengan kode wilayah 52.05 yang memiliki luas seluas 2.281,752 Km2 terdiri atas 8 Kecamatan, 9 Kelurahan dan 72 Desa,” ujarnya pada media ini.
Secara administratif, Kecamatan Dompu merupakan Ibukota Kabupaten Dompu. Adapun Kecamatan Pekat merupakan wilayah paling luas di antara kecamatan lainnya, yakni 37,67 persen dari total luas wilayah Kabupaten Dompu.
Wilayah administratif per kecamatan di Kabupaten Dompu. Dapat juga diketahui wilayah daerah lain yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Dompu yaitu Utara Laut Flores dan Kabupaten Bima Selatan, Laut Indonesia Barat Kabupaten Sumbawa dan Timur Kabupaten Bima.
Letak dan Kondisi Geografis Secara geografis, Kabupaten Dompu berada di antara 1170420’ sampai 1180 300’ Bujur Timur dan 80060’ sampai 900 50’ Lintang Selatan.
Kabupaten Dompu terletak di Pulau Sumbawa bagian tengah, dengan sisi selatan berbatasan langsung dengan Lautan Indonesia. Sedangkan di bagian lainnya dibatasi oleh Teluk Saleh di Barat Daya dan Laut Flores di bagian utara.
“Dari luas wilayah tersebut terdapat 21 pulau, dengan rincian dua pulau yang berpenghuni, dan 19 pulau yang tidak berpenghuni,” papar Gaziamansyuri.
Topografi wilayah dapat dilihat dari dua jenis. Yaitu ketinggian lahan dan kemiringan lahan. Berdasarkan klasifikasi ketinggian (topografi) dengan menggunakan Data Elevation Model Nasional (DEMNAS).
“Luasan wilayah dengan ketinggian 0-50 Mdpl sekitar 15,70 persen, ketinggian 50-100 Mdpl sekitar 10,95 persen, ketinggian 100-250 Mdpl sekitar 27,53 persen, ketinggian 250-500 Mdpl sekitar 23,92 persen (paling luas), ketinggian 500-1000 Mdpl sekitar 15,77 persen, ketinggian 1000-1500 Mdpl sekitar 4,29 persen dan 1500 Mdpl sekitar 1,83 persen (paling rendah). Secara rinci tentang luas masing-masing kelas ketinggian,” jelasnya.
Berdasarkan hasil analisis data elevation model, bila dilihat dari tingkat kemiringan lereng terdapat 136.112,01 Ha berada pada kemiringan antara 0-8 persen yang merupakan areal paling luas, 55.223,69 Ha berada pada kemiringan antara 8-25 persen. 31.205,16 Ha berada pada kemiringan 15-25 persen, 4.189,98 Ha berada pada kemiringan di atas 25-45 persen dan 104,52 berada pada kemiringan > 45 persen yang merupakan areal yang memiliki luasan paling rendah.
Secara umum, kondisi geologi di Kabupaten Dompu didominasi oleh Satuan Lava Breksi dari Tambora (73642,78 Ha), kemudian disusul Andesit-Basal labumbu lebih muda (68552,25 Ha) dan Satuan Breksi – TUF (63786,39 Ha).
Uraian stratigrafi-stratigrafi tersebut menjelaskan Tmv-Satuan Breksi-TUF; terdiri atas breksi yang bersifat andesit dengan sisipan tufa, setempat mengandung lahar, lava andesit dan basal. Umumnya berwarna kelabu dan hijau, setempat lava berstruktur bantal, bersisipan rijang. Satuan batuan setempat terpropilitkan, termineralkan dan terkersikkan; terlihat urat kuarsa dan kalsit.
Umur satuan menunjukkan miosen berdasarkan kandungan fosil pada lensa batu gamping. Satuan ini menjemari dengan satuan batu pasir tufaan dan satuan batu gamping. Secara tidak selaras mengalasi satuan batu gamping koral. Sebarannya dapat ditemukan di bagian selatan pulau memanjang dari barat ke timur.
Qhv-Satuan Lava Breksi dari Tambora; terdiri atas lava breksi, lahar, tufa, dan abu gunung api bersusun andesit. Batuan terutama berkomposisi kalsium alkali dan terdiri dari andesit hornblende dan andesit augit-hornblende yang keduanya berupa batu apung dan andesit batu apung serta andesit augit berbiotit.
“Batuan ini adalah hasil erupsi Gunung Tambora pada tahun 1815 (Hédervári, 1963).Qv (l, le, m, s, sn) Satuan Breksi Andesit-Basal; terdiri atas breksi gunung api, lahar, tufa, abu, dan lava bersusunan andesit dan basal,” terangnya.
Sumber daya air (tawar) yang dapat dimanfaatkan oleh manusia terutama berasal dari air permukaan (surface water) dan air tanah (ground water). Air permukaan adalah air yang berada di sungai, danau, waduk, rawa dan badan air lain, yang tidak mengalami infiltrasi ke bawah tanah. Sedangkan air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah.
Daerah Aliran Sungai ialah suatu kawasan yang dibatasi oleh titik-titik tinggi di mana air yang berasal dari air hujan yang jatuh, terkumpul dalam kawasan tersebut. Guna dari DAS adalah menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan yang jatuh di atasnya melalui sungai.
“Berdasarkan data Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Dodokan-Moyosari, di Kabupaten terdapat 7 (Tujuh) SWP (satuan wilayah pengembangan) dan 73 (tujuh puluh empat) DAS yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten Dompu,” terangnya lagi.
Potensi air permukaan masing-masing satuan wilayah pengembangan Kabupaten Dompu sangat besar untuk memenuhi kebutuhan air berbagai sektor. Dominasi pemanfaatan air permukaan saat ini adalah sebagai sumber air irigasi dan air bersih masyarakat.
Masing-masing sub satuan wilayah sungai terdapat beberapa sungai yang sangat potensial untuk dikembangkan serta dilakukan usaha-usaha pengelolaan yang lebih baik termasuk di dalamnya usaha konservasi kawasan hulu maupun di sepanjang aliran, pendayagunaan yang lebih optimum, serta usaha pengendalian daya rusaknya.
Mata air tersebar di Kabupaten Dompu mempunyai sifat, besaran, dan karakter yang berbeda-beda tergantung lokasi tempat munculnya mata air. Pada lokasi dengan kondisi daerah tangkapan yang kritis, debit aliran mata air cenderung sangat kecil dan bahkan beberapa titik tidak ada aliran, sedangkan pada kondisi daerah tangkapan yang masih alami/baik debit aliran cenderung besar dan konstan sepanjang tahun.
“Berdasarkan data BWS Nusa Tenggara I (2018) Kabupaten Dompu memiliki 39 titik mata air yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten Dompu,” jelasnya lagi. (bersambung/adv)
