Sugerman, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang, Konsentrasi Wacana Bahasa Politik. (ist/lakeynews)

Penggunaan Kata Ganti “Saya, Kita, Kami”, Apa yang Ingin Mereka Tonjolkan?

Wawancara Lakeynews dengan Sugerman, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang, Konsentrasi Kajian Wacana Politik

TIGA pasangan Capres dan Cawapres Indonesia yang akan bertarung pada Pemilu 2024, sudah menjalani debat perdana yang dilaksanakan KPU RI di halaman kantor penyelenggara Pemilu tersebut.

Ketiga pasangan Capres/Cawapres dimaksud; Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Nomor Urut 1), Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka (Nomor Urut 2), serta Ganjar Pranowo dan Mahfud MD (Nomor Urut 3).

Diawali debat khusus tiga Capres pada Selasa (12/12/2023) malam. Disusul debat khusus Cawapres pada Jumat (22/12/2023) malam.

Dari dua debat perdana calon-calon pemimpin bangsa lima tahun kedepan itu, sebagian pemilih mendapat gambaran dan penilaian awal secara objektif tentang figur pemimpin yang dianggap mumpuni untuk dipilih pada 14 Februari 2024.

Hampir semua sisi dan bidang yang didebatkan tersebut, ludes dibahas berbagai komponen bangsa. Bahkan, sudah “remuk” dikupas media massa; televisi, radio, koran, dan media online. Juga media sosial.

Karena itu, kali ini Lakeynews tidak mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan topik maupun materi yang didebatkan.

Kami mencoba kupas dua debat (Capres dan Cawapres) itu dari perspektif Critical Discourse Analysis (CDA) atau Analisis Wacana Kritis-nya. CDA merupakan kajian tentang hubungan antara wacana, kuasa, dominasi, ketidakadilan dalam teks.

Terkait hal ini, kami mewawancara salah seorang Mahasiswa Doktoral Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang, Sugerman. Diketahui, mahasiswa asal Kabupaten Dompu, NTB ini sedang Konsentrasi pada Kajian Wacana Politik.

Berikut rangkuman wawancara yang dilakukan Dalam Jaringan pada Sabtu (23/12/23) pagi menjelang siang;

Menurut Sugerman, ada 21 indikator atau fitur yang dapat digunakan untuk mengungkap relasi kuasa, kuasa bahasa, dan ideologi para politisi ketika memproduksi teks.

Dalam refleksi (debat Capres dan Cawapres) ini, hanya dibahas dua indikator saja. Yaitu penggunaan “kata ganti” dan “kata-kata formal dan informal yang mencolok”.

Debat perdana Capres beberapa hari lalu, menghadirkan satu konsep political discourse sangat apik yang diproduksi oleh Capres. Dalam perspektif CDA, salah satu indikator untuk mengungkap relasi kuasa para politisi, yaitu kata ganti.

Penggunaan kata ganti berkaitan dengan kehadiran diri seseorang yaitu bagaimana cara seseorang pemroduksi teks menghadirkan dirinya dihadapan lawan bicaranya.

“Teknik kehadiran diri berkaitan dengan kata ganti (saya, aku, kami, dan kita). Penggunaan kata tersebut berkaitan dengan hubungan antara kekuasaan dan solidaritas,” jelasnya.

Sugerman mencontohkan analisis bahasa politik dari beberapa pilihan kata ganti oleh Capres. Capres Nomor 1 dominan menggunakan kata ganti “kita” dan “kami”; Capres Nomor 2 dominan menggunakan kata “saya”; sedangkan Capres Nomor 3 cenderung berimbang menggunakan kata “saya, kita, dan kami”.

Dalam perspektif CDA, penggunaan kata ganti “saya” bermakna ingin menonjolkan dirinya, keakuannya tinggi, dan menonjolkan kekuasaan.

Sedangkan penggunaan kata ganti “kita” dan “kami” menunjukkan bahwa penutur cenderung melibatkan orang lain dalam topik yang dibicarakan. “Penutur tidak menonjolkan dirinya sendiri, dan ingin menonjolkan solidaritas,” ulasnya.

Debat perdana Cawapres tadi malam, kata Sugerman, cenderung menghadirkan wacana sebagai pertarungan kekuasaan. Dalam pandangan CDA, setiap wacana yang diproduksi oleh politisi, tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan.

“Dalam debat Cawapres ini, saya menganalisisnya dengan melihat penggunaan ‘kata-kata formal dan informal yang mencolok’,” tandasnya.

Debat kali ini menghadirkan nuansa kekuasaan tinggi karena cenderung menggunakan kata-kata formal yang mencolok. Dalam perspektif CDA, kata-kata formal merupakan pilihan kata yang dipergunakan untuk membangun prestise sosial tertentu dan menciptakan jarak sosial dengan para pendengar.

Kata-kata formal ditunjukkan melalui pilihan kosakata asing dan ilmiah yang menciptakan suasana formal. Dengan demikian, pilihan kata yang seperti itu akan menciptakan kesan-kesan kekuasaan.

Sebaliknya, ditemukan juga penggunaan kata informal seperti panggilan Gus Imin, Mas Gibran, dan pilihan-pilihan ragam santai yang diproduksi oleh masing-masing Cawapres. Dalam perspektif CDA, penggunaan pilihan kata tersebut untuk menciptakan keakraban, kesantunan, dan solidaritas antara politisi.

Dengan tegas Sugerman mengatakan, tidak ada teks yang netral yang diproduksi oleh politisi. Tidak ada kebenaran yang mutlak dari teks yang dibangun oleh politisi. “Yang netral dan benar adalah kepentingan dan ideologi yang mereka perjuangkan,” tandasnya.

Begitu juga dengan komentar-komentar para tim sukses dan pendukungnya di media sosial (tidak ada yang netral dan tidak ada kebenaran). Yang ada hanyalah kepentingannya.

“Wacana Kritis sama dengan Wacana Akal Sehat,” kata Sugerman mengutip Habermas. (sarwon al khan)