Pj. Gubernur NTB H. Lalu Gita Ariadi (kanan) saat menerima penghargaan Inovative Government Award (IGA) 2023 dari Mendagri Tito Karnavian. (ist/lakeynews)

CATATAN: Sarwon Al Khan

TIDAK banyak pemimpin atau pejabat yang sekaligus mampu dan sempat menuangkan pikiran, perasaan dan aktivitasnya dalam tulisan. Ada yang mampu tapi tidak sempat, ada yang sempat tapi tidak mampu.

Terlebih jika itu tulisan yang sistematis dan mempunyai daya tarik bagi pembacanya. Tulisan yang berbentuk karya ilmiah populis. Mudah dimengerti dan dipahami, tidak banyak kata-kata (bahasa) ilmiah atau asingnya.

Selain bahasa-bahasa yang dipakai begitu ringan, juga kadang kritis gaya penyampaiannya.

Satu di antara sedikit pejabat itu adalah Pj. Gubernur NTB H. Lalu Gita Ariadi. Apa-apa yang ada di dalam benaknya, ditulis. Apa-apa yang dilakukan (aktivitas)-nya, ditulis juga.

Bukan sebatas status di media sosial, seperti dilakukan kebanyakan orang (pejabat). Dimana, hanya satu dua kalimat yang dilengkapi beberapa foto, selesai.

Pria yang biasa kami sapa Miq Gite ini mampu menulis dengan sempurna. Komprehensif. Unsur-unsur “Apa, Siapa, Kapan, Di mana, Kenapa dan Bagaimana” komplit di dalamnya (walaupun dalam tulisan tertentu, kadang terlupakan juga satu dua unsur. He he he).

Dunia tulis menulis ini sudah lama dijalani Miq Gite. Namun saya baru tahu persis, saat Miq Gite menjabat Kabag Humas Setda Provinsi NTB era awal 2000-an, menggantikan Chairul Mahsul. Saat itu, NTB dipimpin H. Harun Al Rasyid, putra “Bumi Gora” pertama yang menjabat gubernur.

Itu dulu. Ketika Miq Gite belum terlalu disibukkan oleh semua urusan. Dan, saat itu saya tidak begitu tertarik membicarakannya. Apalagi menulisnya.

Namun sekarang tentu beda. Miq Gite menjadi Pj Gubernur dengan seabrek agenda dan program. Kesibukannya tentu super.

Berangkat dari itu, sayapun mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengonfirmasinya.

Salah satu pertanyaan saya, apa yang mendorong Miq Gite mau untuk tetap (terus) menulis?

“Ibarat pisau, setajam apapun bila tidak digunakan lama-lama dia berkarat, lalu tumpul,” katanya melalui pesan WhatsApp, Kamis (14/12/2023) pagi menjelang siang tadi.

Demikian halnya menulis. Katanya, bila tidak dibiasakan, bisa juga insting menulis kita jadi tumpul. Ketika mengasahnya agar menjadi tajam kembali, akan terasa berat.

“Saya menulis just for fun. Cara latihan dan refreshing otak,” kata pria yang diketahui sudah malang melintang di dunia birokrasi pemerintahan ini.

Menjadi Gubernur (Pj) sibuknya bukan main. Lalu bagaimana Miq Gite mengatur dan menyesuaikan waktu di tengah kesibukan yang luar biasa tersebut?

“Saya menulis untuk ‘membunuh’ waktu di sela-sela kesibukan. Kadang saya tulis di dalam mobil sambil (dalam suatu) perjalanan,” jawabnya.

Salah satu tulisan Miq Gite, terkait Inovative Government Award (IGA) 2023. Pemprov NTB sukses meraih penghargaan dalam hal ini.

Saya tidak akan mengulas lagi tulisan maupun materi yang ditulisnya tersebut.

Penghargaan Inovative Government Award (IGA) 2023 yang diterima Pemerintah Provinsi NTB. (ist/lakeynews)

Berikut selengkapnya tulisan Miq Gite, yang atas pengetahuan dan izinnya kami salin dari akun Facebook pribadinya, serta sedikit merapikannya;

“IGA” 2023

OLEH: Lalu Gita Ariadi

Kisah sukses NTB meraih Inovative Government Award (IGA) 2023, mirip kisah sukses NTB meraih status tata kelola keuangan yang Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Berawal dari status disclaimer. Ada rasa malu. Lalu semua OPD lakukan evaluasi total di bawah kontrol kuat dari Gubernur – Wakil Gubernur (Bapak TGB – BM) pada waktu itu. Hasilnya, dari disclaimer melompat jadi WTP bahkan kini 12 kali berturut-turut.

Tahun 2020 lalu, dalam konteks inovasi, NTB termasuk kategori Kurang Inovatif. Gubernur (Bapak Dr. H. Zulkieflimansyah) dan Wakil Gubernur (Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah) tentu tidak nyaman dan kecewa dengan hasil ini. Sebagai Sekda yang baru seumur jagung pun, rasanya saya sangat tertampar.

NTB berada pada peringkat 34 secara nasional. Sebagai juru kunci. Lalu apa dan di mana salahnya?

Dengan rasa penasaran yang tinggi, Gubernur dan Wakil Gubernur dalam beberapa kesempatan rapat pimpinan juga menyoal masalah ini. Sembari memberi solusi juga inspirasi.

Gubernur dan Wakil Gubernur intens mendorong pimpinan OPD untuk melakukan inovasi dengan melahirkan program-program unggulan mendukung industrialisasi, mahadesa, zeroweste, Posyandu keluarga dan lain-lain.

Sebagai Sekda saat itu, saya melakukan evaluasi dan konfirmasi kepada kepala Bappeda yang di bawahnya ada bidang penelitian dan pengembangan yang bertali temali dengan urusan inovasi.

Saya pun konfirmasi Kepala Biro Organisasi yang mengawal kegiatan reformasi birokrasi dan pelayanan publik yang punya benang merah dengan hal-hal yang berkait dengan inovasi.

Biang keroknya ketemu. Ada “human error” kelalaian dan kesalahan dalam koordinasi dan pemenuhan syarat-syarat administrasi.

Dengan lapang dada kami menerima fakta. Namun semua bertekad akan melakukan yang terbaik. From zero to hero. Kesalahan tak boleh terjadi lagi dan jadi atensi. Khususnya ketika persiapan akan mengikuti proses kontestasi IGA 2021.

Di tengah perjalanan, lahir kelembagaan BRIDA NTB. Lembaga ini sesuai Tupoksinya, kemudian mendapat mandat penuh untuk mengawal proses pengusulan inovasi ke dewan juri IGA di pusat. Personel Bidang Litbang Bappeda bedol desa, dipindah bergabung ke BRIDA untuk mengawal IGA 2021.

Bagi Pemprov NTB, kesadaran untuk menghadirkan sebuah inovasi sudah berlangsung cukup lama. Pada tahun 2014-2017, di Pemprov NTB ada program unggulan yang disebut eNTeBeNOVIK (NTB iNOVasi pelayanan publIK).

Itu suatu kontestasi bagi PNS dan masyarakat umum untuk menciptakan inovasi yang memberikan kemanfaatan bagi organisasi atau masyarakat.

Pemenangnya kemudian ditutorial dan didampingi untuk mengikuti kontestasi inovasi pelayanan publik yang digelar oleh KemenPAN RB. Karo Organisasinya saat itu Tri Budi Prayitno.

Sejenak kemudian kegiatan EntebeNOVIK ini nyaris tak terdengar. Padahal, EntebeNOVIK masih sangat relevan untuk dilanjutkan. Bila EntebeNOVIK ini dilanjutkan dan dilengkapi dengan mengadakan Expo Inovasi, positioning NTB dalam kontestasi IGA akan semakin kuat dan kedepannya pasti jadi langganan juara.

Pada tahun 2020, Pemprov NTB hanya mengirim 3 inovasi. Berada pada peringkat 34 dengan status Kurang Inovatif. Kemudian, Tahun 2021, terkirim 80 inovasi. Berada pada peringkat 2 dengan status Provinsi Terinovatif dan Sangat Inovatif.

Tahun 2022, terkirim 129 inovasi, namun berada pada peringkat 5 dengan status tetap bertahan sebagai Provinsi Terinovatif dan Sangat Inovatif. Secara statistik dari tahun ke tahun terjadi tren peningkatan jumlah inovasi yang dikirimkan.

Tahun 2023 ini, Pemprov NTB mengirimkan 134 inovasi. 30 inovasi terkait urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. 93 inovasi terkait pelayanan publik dan 11 inovasi terkait tata kelola pemerintahan daerah.

Dari 134 inovasi ini, 7 diantaranya adalah inisiasi kepala daerah. Selebihnya inisiasi ASN 8 inovasi, inisiasi OPD 86 inovasi dan inisiasi masyarakat 33 inovasi. Berdasarkan jenisnya, 44 inovasi bersifat digital seperti NTB Mall dan 90 inovasi bersifat non digital seperti desa wisata.

Dalam proses kontestasi mendapatkan IGA, peserta melewati tahapan penilaian. Mulai tahap penjaringan, pengukuran, presentasi hingga peninjauan lapangan.

Inovasi yang dinilai dalam kontestasi IGA ini adalah inovasi yang sudah diimplementasikan setidaknya 3 tahun. Supaya bisa diukur dampak dan manfaatnya. Jadi bukan inovasi baru yang hasilnya belum terukur. Inovasi-inovasi baru, merupakan aset untuk mengikuti IGA yang penilaiannya 2 atau 3 tahun mendatang.

NTB Mall misalnya. Adalah program yang sudah berlangsung 3 tahunan. Inovasinya, bertransaksi dengan sistem pembayaran online dalam bentuk aplikasi android dan IOS. Sudah terintegrasi dengan LKPPRI. Keberadaan NTB Mall dipayungi dengan Pergub NTB Nomor 43 Tahun 2020 tentang Pemberdayaan UMKM melalui Bela dan Beli Produk Lokal NTB.

Alhamdulillah, di ajang IGA 2023, NTB berhasil memboyong 6 penghargaan. Yaitu: NTB sebagai Provinsi Terinovatif dan Provinsi dengan skor tertinggi Regional IV. Kota Mataram sebagai Kota Terinovatif dan Kota dengan indeks tertinggi untuk Regional IV. Kabupaten Lombok Utara masuk kategori sebagai Kabupaten Terinovatif untuk Daerah Tertinggal. Dan, Kota Bima meraih predikat sebagai Kota Sangat Inovatif.

Provinsi lain kini kian aktif dan progresif mengirimkan inovasinya. Apalagi disertai pemberian stimulan Dana Insentif Daerah dari keberhasilan melakukan inovasi.

Dalam ikhtiar meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan publik, Inovasi adalah sebuah kebutuhan dan keniscayaan.

Ketika tuntutan publik bergerak demikian dinamis, lingkungan strategis berubah progresif, sebuah Institusi atau entitas pemerintah daerah memang harus kreatif melahirkan berbagai inovasi guna memenangkan kompetisi yang terus terjadi disetiap ruang dan waktu yg ada.

Kata kuncinya, “tidak berinovasi maka tidak akan ada akselerasi dan tak mampu beradaptasi. Bahkan potensial terjadi stagnasi. Organisasi akan mati karena gagal bertransformasi.” (*)