Karyawan PT STM melakukan penanaman pohon di sekitar area Proyek Hu’u, Dusun Nangadoro, Kabupaten Dompu, Minggu (26/11/23). (ist/lakeynews)

Momen Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia 2023

DOMPU – PT. Sumbawa Timur Mining (STM) bertanggung jawab terhadap area bukaan, lahan bekas pemboran eksplorasi. Wujudnya, pemegang Kontrak Karya Proyek Hu’u, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia itu telah menanam 13.500-an bibit pohon dalam beberapa tahun terakhir.

“Seluruhnya untuk revegetasi dan rehabilitasi hutan atau bukaan lahan bekas pemboran eksplorasi yang sudah tidak dipergunakan. Juga untuk menggantikan tegakan pohon di area lain yang mungkin terdampak,” kata External Relations & Sustainability Manager PT STM, Razky Akbar, dalam keterangan persnya, Minggu (26/11/23).

Kegiatan penanaman pohon rutin dilakukan setiap tahun sejak 2019, terutama pada momen peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia. Tahun ini, STM kembali memperingatinya. Puncak peringatannya dilaksanakan di sekitar area Proyek Hu’u, Dusun Nangadoro, Desa Hu’u.

Kegiatan tersebut melibatkan karyawan dan kontraktor STM dan berhasil menanam 300 bibit pohon. Mereka tampak antusias.

Razky berharap, keterlibatan seluruh karyawan dan kontraktor ini menginsipirasi kebiasaan baik. “Kami harapkan langkah konsisten yang kita lakukan ini, memberikan warisan yang baik bagi generasi mendatang. Juga, menumbukan kesadaran cinta lingkungan dalam diri kita semua,” ujarnya.

STM juga berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Dompu, merayakan Hari Penanaman Pohon bersama masyarakat pada 27 November dengan menanam 100 bibit pohon di sepanjang ruas Jalan Raya Pajo.

Menurut Razky, STM rutin memperingati Hari Menanam Pohon sejak tahun 2019 lalu. Didukung fasilitas pembibitan (nursery) berkapasitas 12.500 bibit di area Wadubura dan Nangadoro. “Fasilitas pembibitan tersebut juga mendukung upaya pengelolaan hutan di area eksplorasi,” jelasnya.

Dalam proses pembangunan tambang mineral yang berkelanjutan, lanjut Razky, diperlukan tata kelola kehutanan yang tepat untuk meminimalisir dampak pada area hutan. Sampai 2023 ini, STM telah menanam 13.525 bibit pohon pada lahan seluas 68.1356 hektare yang tersebar di 97 lokasi area eksplorasi Proyek Hu’u.

Dikatakan Razky, secara umum, penanaman pohon bermanfaat untuk antisipasi perubahan iklim global, mencegah menurunnya daya dukung lingkungan, dan mengatasi deforestasi. Selain itu, mencegah kerusakan lingkungan lainnya yang mengakibatkan penurunan produktivitas alam dan kelestarian lingkungan.

Pengelolaan Kehutanan STM

Upaya meminimalisir dampak terhadap kawasan hutan selama pembangunan operasi penambangan tidak hanya dilakukan dengan kegiatan penanaman pohon. Lebih dari itu, mengadopsi praktik manajemen kehutanan yang berkelanjutan dengan menerapkan pendekatan komprehensif.

Manajemen Kehutanan ini, menurut Razky, meliputi perencanaan pembukaan lahan, penerapan sistem manajemen pohon, perawatan bibit tanaman hutan, rehabilitasi pasca-pembukaan lahan, dan kegiatan reklamasi.

STM senantiasa berupaya mengembalikan area terbuka dan area yang tidak lagi diperlukan untuk eksplorasi ke kondisi awal. Caranya, rutin melakukan kegiatan rehabilitasi, reklamasi, dan revegetasi sebagai bagian dari komitmen dan tanggung jawab tersebut.

Perencanaan untuk kegiatan-kegiatan ini dimulai dengan dokumen rancangan teknis yang disiapkan oleh Tim Kehutanan STM. Rencana ini kemudian berfungsi sebagai panduan untuk memastikan tujuan rehabilitasi tercapai.

STM bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Toffo Pajo Soromandi (KPH TOPASO) dalam menjaga kawasan hutan area PPKH STM. Bentuk kerja sama ini tertuang dalam MoU yang berisikan kegiatan pengelolaan kehutanan. Yakni patroli dan penjagaan gerbang kehutanan PPKH mineral dan Ex-geotermal, membantu dalam mencegah kebakaran hutan, mengembangkan budidaya madu hutan, dan menyukseskan program  NTB Hijau.

Disampingi menjaga area PPKH STM, STM juga mendukung penjagaan area hutan sekitar kawasan RTK 65. KPH TOPASO juga membantu dalam memberikan sosialisasi dan asistensi ke masyarakat tentang pengelolaan dan penjagaan kawasan hutan.

Selain bentuk pengelolaan kehutanan di atas, STM melakukan penilaian rutin sebagai bentuk mitigasi risiko pohon tumbang pada tanaman dewasa di area kerja atau di sekitar fasilitas pendukung.

Kekuatan fisik pohon dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk usia, kerusakan yang disebabkan oleh hama dan genetik, dan lemahnya struktur batang internal. Ini berarti bahwa pohon mungkin tidak sekuat yang terlihat kuat seperti yang terlihat.

STM menggunakan resistograf untuk memberikan informasi yang komprehensif tentang kondisi pohon. Alat ini dapat menunjukkan apakah adanya kerusakan internal tanpa harus menebang atau merusak pohon. Informasi ini memungkinkan tim kehutanan STM untuk mengevaluasi dan memantau kondisi pohon-pohon di sekitar camp dan fasilitas operasional.

“Seluruh upaya pengelolaan kehutanan yang dilakukan STM semata-mata untuk memastikan kelestarian hutan dan pembangunan operasional penambangan dapat berjalan beriringan,” tandas Razky. (tim)