
DOMPU – Pelayanan publik yang diterapkan RSUD Dompu kini selangkah lebih maju. Tercatat, sudah dua hari terakhir, Senin-Selasa (14-15/8/23) fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) itu menerapkan pelayanan lebih prima dengan pola service excellent.
Menurut beberapa literatur, service excellent merupakan pemberian layanan di atas harapan yang diinginkan menjadi target yang harus dicapai setiap organisasi untuk menghasilkan pelayanan jasa yang optimal.
Sebelum “uji coba” service excellent tersebut, manajemen RSUD Dompu menghadirkan Tim Motivasi Indonesia untuk mengisi Workshop Service Excellent yang berlangsung di RSUD setempat, 8-12 Agustus lalu.
Mantan Direktur RSUD dr. H. Diaz Indarko dan Plt. Direktur RSUD dr. Fitratul Ramadhan, Sp.P, juga ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Menurut Humas RSUD Dompu Muhammad Iradat, S.Gz melalui kegiatan itu dan ilmu yang diperoleh, para tenaga kesehatan (Nakes) mendapatkan banyak manfaatnya.
Antara lain, meningkatkan semangat dan etos kerja seluruh staf RSUD Dompu dalam memberikan service excellent kepada masyarakat.
Kemudian optimalisasi SOP (Standar Operasional Prosedur) pelayanan pada petugas garda terdepan pelayanan (frontliner) dan Nakes RSUD Dompu. Meningkatkan kualitas SDM dalam berkomunikasi efektif kepada masyarakat, pasien, keluarga atau pengunjung rumah sakit umumnya.
“Juga, meningkatnya pelayanan publik melalui simulasi roleplay dan kontes pelayanan publik oleh frontliner dan Nakes RSUD Dompu,” sambung pria yang akrab disapa Dae Redo itu pada Lakeynews.com, Selasa (15/8/23).

Direncanakan, lanjut Iradat, para peserta yang mengikuti service excellen itu, oleh manajemen rumah sakit akan diikutkan pada kegiatan studi tiru ke Fasyankes yang telah menerapkan Pelayanan Prima.
Bagaimana gambaran pelaksanaan pelayanan “service excellen” di RSUD Dompu pada dua hari terakhir sebagai aplikasi hasil workshop beberapa waktu lalu?
Menjawab itu, Iradat mengatakan, hasilnya luar biasa. Pelayanan yang prima mengalami peningkatan. Para Nakes makin menyadari pentingnya membangun dan menerapkan komunikasi yang efektif, humanis, empati dan lainnya pada masyarakat.
“Tentu dengan cara-cara persuasif dalam menghadapi pasien, keluarganya, pengunjung umumnya yang beragam karaktek dan latar belakang. Intinya sesuai dengan kultur masyarakat kita Dompu dan Bima,” papar Iradat. (ayi)
