
Sisi Lain dari Pengukuhan 51 GP dan Pelantikan KGP Kabupaten Dompu
–
KETIKA mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak (PGP), dua guru dari dua SMKN di Kabupaten Dompu, NTB, dicurigai selingkuh oleh teman-temannya.
Belakangan semuanya tercengang. Ternyata, kedua guru itu pasangan suami-istri (pasutri).
Ini kisah nyata namun unik, langka dan di luar perkiraan. Karena, menurut informasi, jarang terjadi di daerah lain ada yang pasutri sama-sama lolos sebagai guru penggerak.
Tak kalah serunya, ketua Pengurus Komunitas Guru Penggerak (KGP) Bumi Nggahi Rawi Pahu ini dipercayakan kepada seorang wanita yang kini memasuki hamil tua.
KGP Dompu merupakan gabungan Guru Penggerak dari dua angkatan. Yakni Angkatan 2 dan Angkatan 6 (baca sampai selesai, red).
Cerita dan penglihatan unik ini menyeruak saat Pengukuhan 51 Guru Penggrak Angkatan 6 plus Penyerahan Sertifikat, serta Pelantikan Pengurus KGP Kabupaten Dompu, di Aula Pendopo Bupati Dompu, Kamis (3/8/23).

Pantauan media ini, Pengukuhan GP dilakukan Bupati Dompu H. Kader Jaelani. Sementara Pelantikan Pengurus KGP oleh Kadis Dikpora Drs. H. Rifaid, M.Pd.
Hadir juga dan memberikan sambutan saat itu, Kepala Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Drs. Suka, M.Pd.
Disamping itu, tampak Kabag Prokopim Setdakab Dompu Yani Hartono, Kabid Dikdas Dinas Dikpora Muhammad Nurdin, perwakilan Kantor Cabang Dinas Dikbud Dompu, Kepala SMPN 4 Dompu Abdul Haris, Kepala SMAN 3 Dompu Eva Patriani, Kepala SMKN 1 Pekat Suherman, dan beberapa kepala sekolah lainnya.
Saat masuk aula pendopo, Bupati Kader, kepala BGP dan Kadis Dikpora disambut dengan pemasangan Sambolo Muna Pa’a (ikat kepala hasil tenunan tradisional) Dompu oleh Ketua KGP Kabupaten Dompu Ida Faridah.
Sedangkan pengukuhan diawali dengan pembacaan ikrar Guru Penggerak dipimpin salah seorang guru yang juga Ketua KGP, Ida Faridah dan diikuti seluruh anggota yang dikukuhkan.
Kemudian pengucapan kata-kata pengukuhan oleh Bupati yang dilanjutkan dengan penyerahan Sertifikat GP secara simbolis kepada lima perwakilan guru.
Sesaat setelah pengukuhan 51 GP dan Bupati Kader bersama Ketua BGP NTB, Suka meninggalkan tempat itu, Kadis Dikpora H. Rifaid lalu melantik pengurus KGP. Dan, diakhiri dengan serah-terima pataka KGP dari Kadis Dikpora kepada ketua KGP.

Bupati Dompu Harapkan GP-KGP Sinergi dengan Pemda
Bupati Dompu H. Kader Jaelani menegaskan guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran. Menerapkan Merdeka Belajar dan menggerakkan seluruh ekosistem pendidikan untuk mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid.
“Termasuk mengembangkan program kepemimpinan murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila di sekolahnya masing-masing,” sambung Bupati.
Kegiatan guru penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik. Mencakup kompetensi literasi numerasi, dan karakter yang diawali dengan sumber daya manusia Kepala Sekolah dan Guru yang unggul.
Hal ini diakui Bupati, sejalan dengan visi Pemda Dompu, yakni Dompu yang MASHUR (Mandiri, Sejahtera, Unggul dan Religius). Menjadikan siswa-siswa yang berkarakter dan berprestasi.
“Saya bangga karena guru penggerak bukan diangkat, tetapi dipilih dan diseleksi dengan baik. Bapak/Ibu Guru Penggerak memiliki kompetensi sumber daya manusia yang bisa diandalkan,” pujinya.
Bupati berharap, kedepan para GP maupun melalui pengurus KGP dapat berkiprah dan bersinergi dengan Pemda dalam mentransformasi ekosistem pendidikan sesuai tujuan Program PGP.
Tidak lupa Bupati mengucapkan selamat kepada para GP, pengajar praktik dan fasilitator yang telah mendampingi. “Mudah-mudahan lahir guru-guru penggerak lain yang akan turut meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Dompu,” harapnya.

Banyak Peminat PGP, Sedikit yang Selesai
Sementara itu, Kepala BGP Provinsi NTB Drs. Suka, M.Pd, mengungkapkan perjuangan para GP untuk bisa lolos dan sampai pada pengukuhan, cukup lama dan melelahkan.
Mereka harus berkorban, terutama waktu dan tenaga selama enam bulan mengikuti program PGP. “Enam bulan itu bukan waktu yang terlalu singkat,” kata Suka dalam sambutannya.
Dikemukakan Suka, awalnya banyak guru yang berminat untuk menjadi GP. Tapi, hanya sedikit atau sebagian yang mampu bertahan dan menyelesaikan program PGP.
“Untuk PGP Angkatan 6 ini tinggal sebanyak 51 orang ini yang bisa sampai selesai,” tutur Suka.
“Saya yakin guru-guru penggerak ini akan memberikan dampak baru dan luar biasa bagi kemajuan dunia pendidikan di Kabupaten Dompu,” sambungnya.

Eksistensi GP Ditentukan oleh Kemampuan, Kompetensi, dan Performa
Sedangkan Kadis Dikpora Kabupaten Dompu H. Rifaid, pada momen pelantikan Pengurus KPG menekankan, bahwa capai para GP saat ini merupakan titik nol.
“Ini awal bagi perjuangan dan pengabdian Bapak/Ibu Guru sekalian ke depan. Ini langkah awal dalam menunjukkan eksistensi kita,” tegas Rifaid.
Dia mengingatkan, eksistensi guru penggerak bukan oleh (dengan) titel yang dimiliki saat ini. “Lebih dari itu, ditentukan oleh kemampuan, kompetensi, dan performa Bapak/Ibu Guru Penggerak di sekolahnya masing-masing,” tegasnya.
–
Kisah Dua GP dan Ketua KGP
Sekadar diketahui, 51 guru penggerak Angkatan 6 yang dikukuhkan Bupati Dompu di atas, sukses menuntaskan proses dan tahapan PGP-nya selama enam bulan.
Kegiatannya, boleh dikatakan non-stop. Kadang pagi, siang, sore, juga kadang hingga malam hari.
Tibalah puncaknya. Yakni Lokakarya 7 Panen Karya Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 6 di Gedung Samakai Dompu, sekira April 2023.
Pada momen tersebut dilakukan pemilihan koordinator (ketua) GP Angkatan 6 secara online. Calonnya ada lima orang. Hasilnya, terpilih Ida Faridah, calon yang sedang hamil dengan usia kandungan lebih kurang tiga bulan.
Cerita berlanjut. Kali ini, prosesi pemilihan ketua GP Kabupaten Dompu (gabungan GP Angkatan 2 dan 6). Tepatnya bulan Juli lalu.
Lagi-lagi Ida Faridah yang usia kandungannya berjalan tujuh bulan kembali terpilih sebagai ketua. Karena itu, posisinya sebagai koordinator GP Angkatan 6 dilepas.
Oleh segenap anggota GP Angkatan 6 sepakat memercayakan posisi yang ditinggalkan Ida tersebut diisi Rizky Saputra (SMKN 1 Pekat). Dan, informasinya, itu juga atas kesiapan yang bersangkutan.

Iman Khaeruddin dan Hastuti. Dengan sikap biasa-biasa dan unik, pasangan suami istri ini mampu membuat rekan-rekannya tercengang. (tim/lakeynews)
Kembali pada kegiatan program PGP yang boleh dikatakan non-stop, pagi, siang, sore, juga kadang hingga malam hari.
Pada situasi dan tugas tertentu, mereka kadang bertemu untuk membahas dan mengerjakannya secara bersama-sama. Pun kerap saling berkunjung.
Saat proses tersebut, ada dua guru –laki-laki dan perempuan– yang berbeda kelompok tetapi selalu bersama. Mereka berasal dari dua SMKN berbeda.
Yang laki-laki namanya, Iman Khaeruddin. Pria yang akrab disapa Iman itu mengajar Mapel Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 1 Kempo.
Sedangkan yang perempuan bernama Hastuti. Wanita lebih dekat panggil Has tersebut mengajar Mapel Agribisnis Tanaman Pangan & Hortikuktura (Pertanian) di SMKN 1 Woja.
Intensnya kebersamaan Iman-Has pada hampir setiap aktivitas PGP, dirasa aneh. Sebagian besar temannya yang belum mengetahui status hubungan mereka, mencurigai ada yang tidak beres.
Persentase peserta PGP yang mengetahui betul status keduanya kecil. Sedikit sekali.
Sebagian besar tidak mengetahui. Namun, nyaris tidak ada yang menanyakan langsung kepada keduanya. Diperkirakan, karena merasa tidak enak ikut campur urusan orang.
Tetapi pada sisi lain, di antara mereka mencurigai Iman-Has mempunyai hubungan terlarang. “Malah ada yang mencurigai kami ini selingkuh,” kata Has sembari tertawa lebar pada Lakeynews.
Iman dan Has berbeda kelompok. Namun, jika ada lokakarya misalnya, Has selalu diantar dan dijemput Iman.
Penilaian minor rekan-rekan guru itu terhadap Iman dan Has berlangsung cukup lama. Bahkan, hingga program PGP-nya selesai.
Iman-Has mengaku tidak punya niat atau sengaja menyembunyikan status hubungan pada rekan-rekannya. Mereka tidak berpikir akan ada yang berpikiran bukan-bukan.
“Kami bisa-biasa saja,” tutur Iman.
Kapan status Iman-Has sesungguhnya baru diketahui dan bagaimana reaksi teman-temannya?
Berawal dari pertemuan semua kelompok untuk membentuk pengurus GP Angkatan 6 di rumah ketua, Ida Faridah, sekira Mei 2023.
Kegiatan itu sebelum wanita yang juga ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Dompu tersebut terpilih sebagai ketua GP Kabupaten Dompu.
Tibalah waktunya santap siang di rumah yang terletak di Sawete Timur, Kelurahan Bali, Kecamatan Dompu itu.
Saat itu, Iman dan Has menunjukkan sikap yang lebih “ekstrem” dari biasanya. Nasi memang mereka ambil masing-masing. Namun, ikan dan sambal satu piring, serta sayur juga satu piring makan berdua.
Salah seorang peserta makan siang nyeletuk tentang status mereka yang suami-istri. “Semua orang yang sedang makan kaget dan tercengang,” kata Ida Faridah.
Mendengar itu, kata Ida, salah seorang anggota GP asal Kecamatan Kempo, menyergah dengan mengungkapkan kecurigaannya.
“Pantasan. Tadi dalam hati saya merasa ada yang aneh. Kok, Iman-Has akrab sekali. Sampai makan berdua lagi,” kata GP itu dikutip Ida. (tim)
