Ketua Yayasan Al-Iman Hidayatullah Mataram Ustaz Abidin, menyampaikan sambutan pada Wisuda dan Pelepasan Siswa Kelas IX MTs dan Kelas XII MA Hidayatullah TA 2022-2023. (tim/lakeynews.com)

60-an Santri/Santriwati Yayasan Al-Iman TA 2022-2023 Diwisuda dan Dilepas

MATARAM – Sebanyak 60-an santri/santriwati Kelas 3 MTs dan Kelas 3 MA Hidayatullah, Pondok Pesantren Hidayatullah Mataram Tahun Ajaran (TA) 2022-2023, diwisuda dan dilepas secara resmi pada Kamis, 27 Syawal 1444 H/18 Mei 2023.

Yang menakjubkan, di antara santri dan santriwati itu, melangkah keluar meninggalkan Polpes dengan membawa oleh-oleh hafalan Alquran hingga belasan juz.

Pantauan Lakeynews.com, kegiatan tersebut berlangsung kompleks Ponpes yang bernaung di bawah Yayasan Al-Iman Hidayatullah Mataram. Prosesi wisuda-pelepasan antara santri dan santriwati dilakukan secara terpisah.

Meski terpisah, orang tua/wali laki-laki bagi santriwati tetap tidak diperkenankan bergabung dengan tempat duduk perempuan. Namun, ditempatkan di ruangan terpisah.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Al-Iman Hidayatullah Mataram Ustaz Abidin, mengucapkan terima kasih kepada segenap orang/wali murid murid yang meluangkan waktu untuk hadir dalam acara tersebut.

Mereka tidak hanya dari Kota Mataram. Ada juga dari Sumbawa, Dompu, Bima (Nusa Tenggara Barat/NTB), hingga dari Nusa Tenggara Timur (NTT). “Terima kasih kami sampaikan kepada semuanya,” kata Abidin.

Pengurus Yayasan Al-Iman Hidayatullah Mataram, PW Hidayatullah Provinsi NTB, orang tua/wali santri dan santriwati menghadiri Wisuda dan Pelepasan Siswa Kelas IX MTs dan Kelas XII MA Hidayatullah TA 2022-2023. (tim/lakeynews.com)

Dia mengakui, Ponpes yang diasuhnya masih banyak kekurangannya. Namun, pihaknya tetap berjuang dan terus berupaya agar Ponpes tersebut lebih baik lagi.

“Seharusnya, termasuk pelayanan pada para orang tua santri dan santriwati di ruang ber-AC,” ujar Abidin.

“Semoga suatu saat Allah SWT mewujudkan mimpi Yayasan untuk segera memiliki tempat yang lebih representatif lagi,” sambungnya berharap.

Terkait wisuda dan pelepasan anak-anak didikan dan binaan Ponpes Hidayatullah, Abidin mengatakan, pihak Ponpes mengembalikan sepenuhnya kepada orang tua.

Dulu, tiga tahun yang lalu, anak-anak didaftarkan dan diserahkan secara baik-baik kepada Ponpes. “Nah, hari ini kami secara resmi menyerahkan kembali seutuhnya kepada bapak/ibu sekalian, tanpa kurang suatu apapun,” papar Abidin.

Dia berharap, ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum yang dipelajari oleh para santri dan santriwati menjadi bekal kehidupan mereka pada depan.

“Selama disini, anak-anak selain belajar mata pelajaran umum dan agama, juga mereka belajar mandiri,” ungkap Abidin.

Pada kesempatan itu, Abidin menegaskan, lembaga pendidikan integral yang dipimpinnya, siap bersaing dengan lembaga pendidikan lain.

“Insya tidak se-terpuruk yang dibayangkan sebagian orang. Untuk SD, MTs, dan MA, sudah terakreditasi A. Kecuali untuk TK, baru akreditasi B, tapi kita berusaha meningkatkan ke akreditasi A,” benernya.

Yang luar biasa lagi, di Ponpes ini, selain pendidikan formal, juga ada pendidikan khusus tahfidznya. “Alhamdulillah, anak-anak meski ditempa dengan berbagai mata pelajaran umum dan agama, tetap antusias menghafal Alquran,” cetusnya.

“Hasilnya, alhamdulillah ada yang setor tiga juz, empat, lima hingga belasan juz. Ada yang sudah hafal enam juz, namun karena masih ada yang kadang dilupakan, mereka hanya setor empat atau lima juz,” tambahnya.

“Jadi, tidak usah ragu-ragu masyarakat NTB, dan Indonesia umumnya menitipkan anak-anaknya untuk kami bina dan kami didik di pesantren ini,” ajak Abidin lagi.

Sebelumnya, Ketua Bidang Pendidikan dan Kepesantrenan Pengurus Wilayah Hidayatullah Provinsi NTB Sulhanuddin, juga menyampaikan hal senada dengan Abidin.

Dia berpesan pada anak-anak, santri dan santriwati, apa yang sudah dipelajari selama di Ponpes ini agar tetap diamalkan atau diterapkan di rumah dan di lingkungan masing-masing.

“Jaga adab, terutama dalam bertutur, bersikap dalam berpergaulan,” imbuhnya.

“Imam Syafi’i berkata, kalau ingin sukses maka berkorbanlah untuk mau merasakan pahit dan getirnya belajar. Dengan demikian, kita akan terhindar dari kebodohan,” pesannya. (tim)