Ketua Umum APIKI yang juga Dewan Pembina DPP MIO INDONESIA Anto Suroto, SH, SE, MM. (ist/lakeynews.com)

Anto Suroto: Lewat Budidaya Porang Menuju Indonesia Maju

JAKARTA, Lakeynews.com – Ketua Umum (Ketum) APIKI Anto Suroto, SH, SE, MM, kini menggulirkan Program Masa Depan Ketahanan Pangan Pemberdayaan Ekonomi Industri Kreatif lewat budidaya tanaman Porang.

Anto Suroto bersama PT. Paidi Indo Porang melakukan sinergi. Mereka berkolaborasi dan ingin Indonesia menjadi Macan Asia dan sebagai negara pengekspor produk ketahanan pangan dunia.

Pria yang juga Dewan Pembina Media Independen Online Indonesia (MIO INDONESIA) berharap kepada pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar bisa menerbitkan regulasi khusus bagi petani porang.

Regulasi khusus itu, menurut pakar sekaligus pelaku UMKM tersebut, bisa saja berupa kemudahan birokrasi dalam hal pengajuan kredit dan pendampingan bagi para petani porang agar memiliki skill yang mumpuni.

Hal tersebut, menurutnya, wajib dilakukan oleh pemerintah agar para petani porang menjadi lebih bergairah dan memiliki daya saing terkait produktivitas maupun kualitas budidaya tanaman porang yang dihasilkannya.

“Produktivitas dan kualitas menjadi dua bagian yang tidak terpisahkan, jika ingin produk yang dihasilkan dari budidaya porang ini memiliki daya saing produk ekspor masa depan Indonesia Maju yang berkualitas,” ujar Anto Suroto di Markas APIKI, Gedung SCANO CRAZY DREAM, Kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Perlunya pemerintah menerbitkan regulasi dan pendampingan bagi petani porang itu, menurut Anto, sesuai dengan hasil kajian dan evaluasi terhadap petani porang yang dijumpainya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Mereka menyampaikan berbagai kendala dan keluhan serupa. Para petani porang sangat membutuhkan pendampingan secara profesional, baik yang berkaitan dengan perbankan maupun pemasaran produk. Seperti tepung porang dan hasil produk turunan lainnya.

Para petani porang, lanjut Anto, hingga saat ini masih berharap adanya keberpihakan pemerintah daerah dan pusat yang bisa dirasakan secara nyata. Mereka ingin harga porang basah maupun chip, terkendali.

“Jangan sampai terjadi seperti petani garam, padi dan singkong. Harga produknya sangat rendah yang disebabkan oleh harga pupuk dan produktivitas petani yang dinilai masih belum maksimal. Akibatnya, produk yang dihasilkan tidak memiliki daya saing bagi pasar ekspor,” ujarnya.

Anto juga memberikan gambaran terkait potensi yang dimiliki negara Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah surganya ketahanan pangan dunia karena letak geografis dan penduduk yang sangat besar.

Jika pemerintah dan sumber daya manusianya bisa saling sinergi, serta didukung dengan ketersediaan teknologi semi modern, Anto menyakini Indonesia kedepan bisa disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya.

“Ini bisa menjadi peluang bangkitnya ketahanan pangan nasional. Lewat budidaya tanaman porang diyakini bisa menjadikan Indonesia sebagai negara maju,” tegas Anto. (tim/mio)