Muna (tenun), kerajinan tradisional Bima. (ist/lakeynews.com)

Oleh: Syahruna *)

TAHUN depan Muna (tenun) harus masuk sekolah. Apakah di SD, SMP, ataupun SMA. Yang penting dia masuk sekolah. Bila perlu Muna masuk ke tiap kelas. Tugas kita adalah memperkenalkannya agar Muna bisa diterima.

Bagaimana Muna agar diterima?

Muna akan diterima tergantung cara kita memperkenalkannya. Yang akan kita perkenalkan adalah profilnya. Selain profil, untung dan rugi jika muna masuk sekolah.

Profil Muna sudah terkenal. Ia adalah teknologi tekstil tradisional pertama di Bima. Orang sekarang menyebutnya Kerajinan Tradisional Suku Bima, Tenun Tradisional Bima, warisan budaya, karya seni dan karakter masyarakat Bima. Gerakannya revolusioner membangun peradaban.

Nilai yang dibawanya sangat banyak. Beberapa diantaranya termasuk nilai pendidikan dan agama, nilai budaya dan seni, serta nilai ekonomi dan sosial.

Agar Muna bisa diterima, Muna harus punya Syllabus. Roh syllabus-nya dapat mengubah generasi malas jadi rajin. Generasi angka-angka jadi generasi pandai. Generasi pencari kerja jadi pencipta lapangan kerja.
Inilah untungnya jika Muna masuk sekolah.

Muna tidak bisa masuk sekolah begitu saja. Ada aturannya. Pemerintah harus dukung dengan kebijakan-kebijakan yang memihak. Kalau belum ada Perda, Perwali atau Perbup pun sudah cukup.

Begitu banyak untung jika Muna masuk sekolah. Menciptakan lapangan kerja untuk guru Muna. Baik guru kelas maupun guru praktik.

Pemberdayaan ekonomi kreatif juga lancar. Para pengrajin atau pembuat peralatan Muna pun akan laku. Karena tiap sekolah akan membutuhkan peralatan Muna untuk kegiatan praktik.

Tak terasa pedagang benangpun menikmati keuntungan dari Muna. Jangan tanya toko oleh-oleh. Hasil Muna banyak di sana. Para penjahit dan designer juga menikmatinya.

Begitu banyak yang menikmati hasil Muna. Kita pun harus sadar tentang ini. Kita harus menjaganya. Kita harus melestarikannya. Kita harus berjuang agar Muna tetap hidup.

Agar Muna tetap hidup dan lestari, maka biarkan Muna masuk sekolah.

Saya berdoa semoga tahun depan Muna bisa masuk sekolah. Aamiin. (*)

*) Penulis adalah Director of Foreign Language Institute Kota Bima Indonesia.