Penulis, Suherman. (dok/lakeynews.com)

Oleh: Suherman *)

HIRUK pikuk Pilkada 2020 telah menyesaki dunia nyata maupun dunia maya (sosial media) kita, khususnya di Pilkada Dompu. Masing-masing tim sukses mengklaim akan memenangkan Pilkada.

Klaim tersebut didasarkan pada hasil polling atau jajak pendapat di sosial media (facebook), didasarkan pada ramainya masa yang konvoi dan hadir saat Paslon-nya berkampanye.

Ada juga yang menyatakan menang karena Paslonnya mendapat dukungan para tokoh. Bahkan ada sebagian lagi yang mengklaim kemenangan didasarkan pada hal-hal irasional seperti fenomena mencocok-cokkan angka tertentu dengan nomor urut paslon, hasil tafsir mimpi dan petuah dukun.

Klaim kemenangan tersebut tak sepenuhnya dapat dipersalahkan. Itu lumrah dilakukan sebagai strategi untuk membangun opini dan menarik simpati pemilih yang belum menentukam pilihan atau masa mengambang.

Pada saat yang sama membangun opini kemenangan juga sebagai upaya membangun spirit dan rasa optimisme. Meski spirit dan optimisme harusnya dibangun berdasarkan rasionalitas bukan opini.

Sejatinya kerja-kerja politik Pilkada adalah kerja-kerja akademis yang ilmiah dan rasional. Seluruh proses dan hasilnya dapat diprediksi, diproyeksi dan dikalkulasi.

Itulah sebabnya ilmu politik dan statistik dipelajari di perguruan tinggi. Itulah sebabnya ada lembaga-lembaga survei yang melakukan survei, quick count atau bahkan menyediakan jasa konsultan politik dan sejenisnya yang selama ini hasilnya jarang atau kalau tidak mau dikatakan tidak pernah meleset.

Sebab dalam melakukan survei pemenangan dan hitung cepat, lembaga-lembaga survei tersebut bekerja dengan mencermati, mengolah dan menganalisa data-data, baik data quantitatif maupun data qualitatif.

Data itu penting dijadikan dasar untuk merancang dan menyusun visi-misi dan program yang strategis, dijadikan dasar untuk memetakkan pemilih, mendesain dan merumuskan startegi berkampanye serta sebagai acuan dalam merekrut saksi-saksi. Selain itu, data juga dapat digunakan untuk menyusun rencana kebutuhan biaya Paslon selama mengikuti Pilkada.

Intinya dengan data dapat membuat Paslon dan tim suksesnya bekerja secara terukur dan terarah, sistematis, efektif dan efisien dari aspek energi, waktu dan biaya. Tidak bekerja meraba-raba apalagi berdasar pada rasa fanatisme atau opini semata.

Mencermati Data Pilkada Dompu 2015 dan 2020

Pada Pilkada 2015 diikuti oleh empat pasangan calon yang dimenangkan oleh Paslon Drs. H. Bambang M. Yasin – Arifuddin, SH dengan perolehan suara sebesar 49.910 (36.85%).

Jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT sebanyak 157.741 pemilih yang tersebar di 458 TPS, 8 kecamatan dan 81 desa/kelurahan. Kalau dilihat dari jenis kelamin, pemilih perempuan (80.153) lebih banyak daripada pemilih laki-laki (77.588). Sedangkan kalau dilihat dari kewilayahan, pemilih terbanyak ada di Kecamatan Woja (37.667) dan terendah ada di Kecamatan Kilo (8.551)

Untuk tingkat partisipasi pemilih saat itu sebesar 83.28% dengan total suara sah sebesar 135.432 suara dan suara tidak sah sebesar 858 suara. Suara tidak sah tertinggi di Kecamatan Dompu (217 suara) dan terendah di Kecamatan Hu’u (35 suara).

Kalau dilihat dari jenis kelamin dan kewilayahan. Tingkat partisipasi pemilih perempuan (83,65%) lebih tinggi dibanding pemilih laki-laki (82.90%). Tingkat partisipasi tertinggi di Kecamatan Hu’u (88,40%) dan terendah di Kecamatan Pekat (79,94%).

Sementara untuk Pilkada 2020, jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan tidak mengalami perubahan. Yang berubah adalah jumlah paslon, jumlah pemilih dan jumlah TPS.

Jumlah paslon yang mengikuti Pilkada sebanyak tiga paslon dengan jumlah pemilih yang terdaftar dalam DPT sebanyak 163.391 pemilih, terdiri dari 81.172 pemilih laki-laki dan 82.219 pemilih perempuan tersebar di 471 TPS.

Jumlah pemilih perempuan lebih banyak daripada laki-laki dengan sebaran pemilih terbanyak ada di Kecamatan Woja ( 39.801) dan paling sedikit ada di Kecamatan Kilo (9.527).

Pilkada tinggal menghitung hari, sepertinya kerja-kerja politik Pilkada masih berdasarkan asumsi atau opini. Dan yang paling parah didasarkan pada “isi tas” semata.

Renungannya adalah seberapapun banyaknya “isi tas” yang dimiliki Paslon, kalau cara kerjanya tidak terukur dan terarah yang berbasis data. Maka, bersiaplah untuk kecewa. Allahu A’lam Bissawab!! (*)

*) Penulis adalah mantan Anggota KPU Dompu (2014-2019).