Kepala BNPT Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH, menyampaikan sambutan pada acara Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional di GOR Ponpes Qomarul Huda, Jumat (13/11). (ist/lakeynews.com)

LOMBOK TENGAH, Lakeynews.com – Terorisme merupakan kejahatan serius yang membahayakan ideologi, keamanan, dan kedaulatan negara yang dikhawatirkan dapat merusak nilai kemanusiaan dari berbagai aspek kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.

Karena itu, sebagai leading sector dalam penanggulangan terorisme di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus melakukan upaya pencegahan. Salah satunya melalui Kesiapsiagaan Nasional.

Untuk sosialisasi yang tepat sasaran dan menyentuh seluruh elemen masyarakat, Kepala BNPT Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, MH, menggelar Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional dalam rangka upaya penanggulangan terorisme di lingkungan santriwan dan santriwati di Indonesia.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di GOR Pondok Pesantren Qomarul Huda, Desa Bagu, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (13/11) siang.

Hadir dan menyaksikan deklarasi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof. Muhammad Mahfud MD, SH, SU, M.IP, dan salah seorang ulama di NTB Tuan Guru Bagu K.H. Turmudzi Badaruddin.

Dalam menangkal radikal terorisme di Indonesia, santri dinilai menjadi pilar penting dalam konteks memahami perbedaan. Sebagai kelompok yang identik dengan pesantren, santri merupakan salah satu kelompok agama yang membawa Islam sebagai agama perdamaian. Yakni dengan menggelorakan ciri khas pesantren “Hubbul Wathon Minal Iman” atau cinta tanah air sebagaian dari iman.

Karena itu, Kepala BNPT mengajak 90 orang santriwan-santriwati dari enam Ponpes di Lombok Tengah untuk ikut serta bersinergi mewujudkan Indonesia damai dengan keikutsertaan dalam deklarasi Kesiapsiagaan Nasional.

Dalam sambutannya, Boy Rafli mengapresiasi kehadiran Tuan Guru Bagu dan Menko Polhukam yang menghadiri dalam acara ini. Deklarasi Kesiapsiagaan Nasional ini merupakan salah satu dari tiga unsur penting tugas pencegahan terorisme yang wajib dilaksanakan BNPT bersama Kementerian/Lembaga, selain Kontraradikalisasi dan Deradikalisasi.

Diharapkan Boy Rafli, melalui deklarasi ini dapat mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk para santri di tanah air agar dapat bersama-sama menjaga bangsa dari ancaman terorisme.

“Atas nama lembaga, saya berpesan kepada seluruh santri dan seluruh peserta yang hadir dalam deklarasi ini untuk tetap setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, menjunjung tinggi Kebhinnekaan, serta senantiasa bersinergi menolak intoleransi dan radikal terorisme,” ujar Boy Rafli.

Pada kesempatan yang sama, Mahfud MD sempat menjelaskan sejarah santri di Indonesia yang sejak zaman dahulu sudah diajarkan untuk membangun bangsa hingga kemerdekaan Republik Indonesia.

Mahfud menyampaikan pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan perhatian dan dorongan lebih kepada Ponpes untuk dapat melahirkan sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak mulia.

“Pesantren itu jangan sampai masuk angin. Artinya, jangan masuk paham radikalisme di dalam lingkungannya,” imbuh Mahfud dalam sambutannya.

Acara ini ditutup dengan pembacaan deklarasi yang dipimpin para santri-santriwati dan diikuti seluruh tamu undangan. (zar)