
Alasan Pemerataan tapi Ada yang tidak Kebagian
DOMPU, Lakeynews.com – Sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) di Puskesmas Kempo, Kabupaten Dompu, mengeluhkan penarikan kembali sebagian besar dana insentif mereka yang terlibat dalam penanganan Covid-19.
Menurut mereka, total anggaran insentif Covid-19 untuk belasan Nakes di Puskesmas itu yang bersumber dari APBN 2020, lebih dari Rp. 100 juta.
Dana itu untuk Triwulan; Maret, April dan Mei. Telah cair pada minggu pertama September lalu.
Dana tersebut langsung masuk ke masing-masing ke rekening para Nakes. “Dana yang masuk ke rekening rata-rata antara Rp. 8 juta hingga Rp. 9 juta per Nakes,” ungkap mereka pada Lakeynews.com.
Namun, setelah keluarkan oleh para Nakes dari rekening bank, sebagian besar dari dana tersebut diduga ditarik kembali oleh oknum kepala Puskesmas. Nilai tarikannya, rata-rata Rp. 6 juta per Nakes (rekening).
Menurut beberapa Nakes, alasan kepala Puskesmas menarik kembali dana itu untuk dibagikan kepada Nakes lain yang tidak kebagian.
“Alasannya, untuk pemerataan Nakes lain yang namanya tidak masuk dalam SK. Sehingga, dana insentif ditarik kembali masing-masing Rp. 6 juta per orang,” beber salah seorang Nakes.
Diakuinya, beberapa Nakes di luar belasan orang yang tercantum dalam SK, kebagian antara Rp. 1 juta sampai Rp. 2,5 per orang. Sedangkan sebagian lagi tidak kebagian. Yang menerima hanya beberapa orang saja di luar SK.
“Jika alasan pemerataan, kenapa masih ada sejumlah Nakes yang tidak mendapatkan bagian dari dana insentif yang ditarik itu,” tanyanya dengan nada kesal.
Mereka menduga, sebagian dana tersebut masuk ke kantong pribadi oknum kepala Puskesmas.
–
Kepala Puskesmas Kempo Bantah Dana Masuk Kantung Pribadi
Bagaimana tanggapan Kepala Puskesmas Kempo Faisal, SKM?
Dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Faisal tegas membantah dugaan sebagian dana itu masuk ke kantung pribadinya.
Menurutnya, semua dana masuk langsung ke rekening masing-masing Nakes.
“Kalau penarikan sebagian dana insentif Nakes, itu berdasarkan kesepakatan dengan mereka sebelumnya,” papar Faisal pada Lakeynews.com.
Faisal kemudian menguraikan, dalam pelayanan dan penanganan Covid-19 di Puskesmas Kempo, pihaknya tergolong tim besar. Jumlahnya 76 orang.
Kegiatan Nakes selama Maret, April dan Mei lalu, lebih banyak di luar gedung. Kegiatan dalam gedung, hanya rapid massal sekitar 200 lebih mahasiswa PPG massal pada akhir Mei.
Selama kegiatan di luar gedung, para petugas dari beberapa bagian tidak dilibatkan, karena mereka bertugas melayani dalam gedung. Antara lain, petugas laboratorium, Poli Umum, imunisasi dan petugas gizi.
“Teman-teman laboratorium misalnya, terlibat saat kegiatan dalam gedung pada akhir bulan Mei (rapid massal mahasiswa PPG),” jelas Faisal.
Suatu hari, pihaknya mendapat informasi tentang ada uang dari pusat untuk insentif 19 orang. Sementara jumlah anggota tim Nakes Puskesmas Kempo 76 orang.
“Akhirnya kita berkumpul. Saya sampaikan soal dana insentif dari pusat. Kita cari bagaimana solusinya,” paparnya.
Disepakatilah sistem keterwakilan tiap bagian untuk membuka buku rekening. Kemudian dikirim ke Kabupaten, selanjutnya ke pusat.
“19 orang itu perwakilan dari 76 orang. Jadi, dana yang masuk ke rekening 19 perwakilan itu, bukan sepenuhnya hak mereka. Sesuai kesepakatan, teman-teman yang di luar 19 orang juga berhak mendapatkan,” tandas Faisal.
Lebih jauh dijelaskannya, total dana yang masuk untuk 19 orang (per triwulan) itu Rp. 136 juta. Nilai yang diperoleh masing-masing orang per bulan variatif.
Untuk bulan Maret Rp. 2.400.000, April Rp. 1.600.000 dan untuk Mei Rp. 5.000.000. “Jadi, kalau dijumlahkan untuk tiga bulan tersebut sekitar Rp. 9 juta,” jelasnya.
“Jumlah yang diambil per orang dari 19 orang itu juga bervariasi. Tidak semuanya ditarik Rp. 6 juta,” tegas Faisal menambahkan.
Kenapa harus perwakilan? Kenapa tidak diajukan saja semuanya (76 orang)?
Ditanya demikian, Faisal mengaku, sebelumnya telah diajukan semua nama-nama 76 orang tersebut. Namun ketentuan pusat, jumlahnya sekian (19 orang). Mereka perwakilan berdasarkan profesi dan sesuai surat tugas.
Jumlah perwakilan tiap profesipun bervariasi. Perwakilan tenaga medis sesuai dengan jumlah pasien yang dilayani.
“Awalnya, kita kirimkan semua 76 orang itu. Namun, setelah diverifikasi oleh pusat, tidak semuanya masuk. Hanya 19 orang yang masuk,” tandas Faisal.
Menurut informasi yang diperoleh media ini, ada beberapa Nakes yang tidak kebagian dana itu. Padahal mereka juga berkerja.
Kalau alasan penarikan kembali dana yang masuk ke rekening 19 Nakes tersebut untuk pemerataan, kenapa masih ada yang tidak kebagian?
“Nah, informasi itu perlu diluruskan. Begini, pada bulan Maret, April dan Mei, kegiatan kita full di luar gedung,” jawab Faisal.
Kegiatan dimaksud, lanjutnya, screning di posko luar gedung. Setiap pasien (pengunjung) yang datang di-screning di luar. Kemudian kegiatan disinvektan dan penyuluhan keliling di semua desa.
Nakes dari bagian-bagian yang tidak terlibat kegiatan di luar gedung selama Maret, April dan Mei tidak mendapatkan insentif.
Mereka baru akan menerima insentif terkait kegiatan bulan Juni, Juli dan Agustus. Sebab dalam bulan-bulan itu ada kegiatan rapid test dalam gedung.
“Nah, untuk kegiatan ini, dananya belum cair. Kalau nanti dananya ada (cair), Insya Allah mereka juga dapat,” paparnya. (won)
