Siti Saodah, A.Md, Keb. (ist/lakeynews.com)

Oleh: Siti Saodah, A.Md, Keb. *)

MEMPERHATIKAN euforia politik menjelang Pilkada Kabupaten Bima (selanjutnya ditulis Pilkada Bima) saat ini, gairah berpolitik masyarakat dalam mendukung jagoannya masing-masing sangat tinggi.

Pilkada Bima tahun 2020 ini tercatat sebagai Pilkada yang banyak mendapat perhatian masyarakat. Hal tersebut terlihat dari berbagai unggahan status di media sosial yang saling mendukung pasangannya masing-masing, seperti Facebook dan berbagai platform media online lainnya.

Selain itu, di tengah-tengah masyarakat banyak diskusi yang memperbincangan tentang pasangan yang didukung, baik di tempat-tempat tongkrongan warung kopi anak muda sampai di saung-saung tengah sawah.

Gairah politik tersebut tidak terlepas dari perkembangan zaman, dimana gadget sudah menjamur di tengah-tengah masyarakat sehingga akses informasi sangat mudah didapat masyarakat.

Menjelang pendaftaran pasangan bakal calon Bupati Bima Periode 2020-2025, perebutan dukungan partai politik di tingkat elite partai semakin genjar dilakukan. Tidak terkecuali pasangan yang telah mengantongi 6 kursi dari dukungan PAN, partai berlambang matahari terbit, yakni H. Syafrudin-Ady Mahyudi (Syafaat).

Guna menggenapkan syarat pencalonan pasangan, 9 kursi partai politik, pasangan ini menaruh harapan besar akan dukungan Partai NasDem. Sehingga tidak heran, bila H Syafrudin harus berdiam diri cukup lama di Jakarta untuk melakukan lobi-lobi politik di tingkat elite guna menghadirkan perlawanan untuk petahana, IDP–Dahlan yang telah memastikan diri untuk tampil dalam kontestasi Pilkada 2020 karena telah mengantongi lebih dari syarat pendaftaran yakni 20 % kursi partai politik.

Meskipun NasDem yang awalnya akan mendukung petahana, namun diakhir-akhir rapat pleno partai ini telah diklaim oleh pasangan Syafaat.

Dukungan NasDem mengundang kontroversi di ruang publik. Bagaimana tidak, barometer awal yang digunakan adalah hasil survei untuk merekomendasikan dukungan partai, adanya klaim dari Syafaat yang telah mengantongi dukungan partai tersebut anti klimaks dengan hasil survei yang telah beredar di tengah masyarakat.

Hasil survei dari indikator per Juli 2020 yang telah beredar luas di masyarakat menunjukkan elektabilitas petahana semakin tinggi. Jauh di atas pasangan Syafaat dan pasangan lainnya.

Kontroversi ini berlanjut dari proses penjemputan NasDem yang telah diklaim oleh pasangan Syafaat. Mengambil rute dari Cabang Tolonggeru yang masuk Kecamatan Madapangga, melewati Kecamatan Bolo dan Woha, berakhir di Kecamatan belo. Rute yang diambil merupakan rute yang dianggap bisa menjadi lumbung kekuatan pendukung Syafaat.

Penjemputan klaim dukungan partai NasDem mengundang debat di ruang publik terkait kepastian SK NasDem tersebut. Bagaimana tidak, sampai ssekarang SK tersebut belum mampu dihadirkan di tengah harapan besar pendukung Syafaat untuk meloloskan jagoannya.

Sehingga, penjemputan tersebut lebih pada seremonial untuk menampilkan gestur politik dalam menguatkan pendukung Syafaat yang mulai ragu dengan kepastian pencalonannya.

Hal tersebut terlihat dari rute yang digunakan dan masa yang dihadirkan dalam konvoi. Sekian lama berada di Jakarta, mesin politik terlihat mulai ‘dingin’ akibat gonjang-ganjing kepastian pencalonan Syafaat. Konvoi tersebut menguatkan calon pemilih untuk tetap pendukung pasangan Syafaat.

Meskipun terkesan menjemput ‘kertas kosong’ dari Jakarta hanya sebatas serimonial, kehadiran parade kekuatan menjadi penting. Kendati itu di tengah kontroversi ketidakpastian SK tersebut dan kehadiran kerumunan masa di tengah pendemi Covid-19.

Bagi pasangan Syafaat, konvoi ini memiliki makna penting untuk keberlanjutan dan penguatan dukungan di akar rumput.

Ada efek domino apabila dalam migggu ini pasangan Syafaat tidak mampu memastikan SK itu seperti yang dijanjikan akan diberikan serentak dengan pasangan yang didukung NasDem di Pilkada NTB dalam minggu ini. Tentunya, pendukung yang selama ini mulai goyang akan beralih mendukung pasangan lainnya.

Sementara itu, pasangan H. Arifin- Eka yang telah memastikan diri mendapat SK dukungan Partai Demokrat, akan mati-matian menggoda PAN untuk beralih mendukung pasangan tersebut. Lebih-lebih bila kepastian kubu Syafaat tidak mampu memastikan syarat pencalonan dalam minggu ini.

Bila skenario akhirnya NasDem benar-benar mendukung Syafaat, namun adanya hasil survei internal partai nasdem, juga memberikan keuntungan politik bagi petahana. Karena, peta politik telah tergambar kedepannya dengan keunggulan elektabilitasnya akan menggiring opini pemilih memilih pasangan yang telah memiliki peluang besar dalam memenangkan pertarungan.

Hasil survei ilmiah yang dihasilkan bisa jadi lebih penting dari sebuah dukungan partai. Adanya parameter ilmiah yang menggambarkan peta politik telah ada akan memberikan kepercayaan diri dan memberikan kekuatan mental bagi tim dalam memenangkan kandidat pasangan dalam pertarungan.

Patut dinantikan eskalasi politik dalam minggu ini. Mungkinkah Syafaat akan ditikung di tikungan akhir batas pendaftaran pencalonan Bupati Periode 2020-2025 atau pasangan Arifin-Eka akan tersungkur di babak awal pendaftaran Pilkada Bima sebentar lagi dilaksanakan? Wallahu’alam bissawab. (*)

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Politik Bima-Dompu.