Pemerhati Politik Bima-Dompu Siti Raodah (penulis). (ist/lakeynews.com)

Oleh: Siti Saodah *)

ADA hal yang menarik dari penantian panjang para pendukung baik kubu Syafaad (H. Syafrudin dan Ady Mahyudi) maupun kubu Dilan (IDP-Dahlan) dalam mendapatkan rekomendasi Partai NasDem. Yakni digunakannya hasil survei sebagai barometer penentuan bakal calon partai dalam menentukan kandidat calon Partai NasDem yang diusung dalam Pilkada Kabupaten Bima Tahun 2020.

Hal ini jarang terjadi pada Pilkada sebelumnya atau digunakan partai politik lain dalam menentukan bakal calon dalam mengusung calon kepala Daerah Bima. Apalagi lembaga survei yang terlibat dalam penentuan partai ini adalah lembaga survei sekelas Poltracking, Charta Politica dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang merupakan lembaga survei nasional yang terbukti hasil surveinya dalam berbagai Pilkada maupun pemilihan presiden.

Tentu ini menarik bagi Pilkada Bima, adanya penentuan kandidat calon yang didahului melalui survei mengindikasikan proses demokrasi dalam partai berjalan baik. Selain itu, bagi masyarakat ini merupakan pendidikan politik yang terukur karena adanya data sebagai acuan dalam mendiskusikan dan mengkaji secara ilmiah arah peta politik Pilkada Kabupaten Bima 2020.

Penggunaan lembaga survei nasional sebagai acuan penentuan bakal calon yang diusung Partai NasDem tentunya tidak terlepas dari cara padangan politik atau strategi suatu partai dalam pemenangan Pilkada Bima. Platform Partai NasDem mirip seperti Partai Golkar yang selalu ingin berada pada lingkaran kekuasaan pemerintahan untuk dapat menyuarakan aspirasi partai dalam pemerintahan.

Meskipun telah memiliki kader partai sendiri yang akan bertarung di Pilkada Kabupaten Bima 2020 yakni H. Syafrudin, namun tidak serta merta partai mengusung sebagai kandidat calon. Hal tersebut tidak terlepas dari pertimbangan strategi partai yang ingin mengusung kandidat yang memiliki peluang besar dalam memenangkan pertarungan dengan mengukur elektabilitas dan variabel lain memengaruhi peluang kemenangan suatu calon.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, pada awal survei internal Partai NasDem menggandeng Poltracking sebagai surveyor dalam gelaran Pilkada di Kabupaten Bima. Beberapa kandidat yang muncul pada saat itu, sebut saja petahana IDP-Dahlan, kemudian Syafru-Ady, Irfan-Edison Raihan Anwar-Maman dan calon independen Ruslan-Sarimin.

Survei internal Partai NasDem pada periode pertama yang dilaksanakan 7-13 Maret 2020, menghasilkan elektabilitas petahana masih diatas pasangan yang lain, yakni 43 persen, diikuti oleh Syafru-Ady dengan tingkat elektabilitas 22,7 persen. Kemudian Irfan-Edison 4,8 persen, Raihan-Aminullah 1 persen serta calon perseorangan 0,8 persen. Sisanya tidak menjawab dan belum punya pilihan.

Bagi kandidat petahana, tingkat elektabilitas yang tinggi merupakan sesuatu yang wajar dalam berbagai setiap survei di Indonesia karena petahana masih mengendalikan roda pemerintahan dan masih popular di kalangan masyarakat.

Meskipun petahana telah unggul dalam survei pertama, dengan berbagai pertimbangan, NasDem melakukan survei ulang penentuan calon kandidat. Harapannya kondisi yang berbeda dengan survei pertama, baik pada segi waktu pelaksanaan dan jumlah kandidat yang telah mengerucut. Diharapkan akan menghasilkan angka yang berbeda pula dalam survei ulang tersebut.

Hasil survei ini tidak hanya akan menentukan keberlangsungan bagi pasangan Syafaad, tapi juga mampu memprediksi pemenang dalam Pilkda Kabupaten Bima yang akan berlangsung 9 Desember 2020 mendatang.

Poltracking dalam survei bulan Maret 2020 lalu menggunakan metode mulstage random sampling yang merupakan metode yang sama dilakukan lembaga-lembaga survei nasional dalam memperidiksi pemenag Pemilu Presiden 2019 dengan hasil yang cukup akurat.

Pada survei kali ini, kubu IDP-Dahlan menggandeng LSI dan kubu Syafaad menggandeng Charta Politica. Tentu akan menggunakan metode yang sama, dimana basis data yang digunakan adalah peta penyebaran suara di TPS-TPS Pilkada 2015 dan Pemilihan Legislatif 2019. Diharapkan dengan metode pengambilan sampel yang sama, data dapat dibandingkan hasil survei terdahulu.

Apabila nantinya terjadi perubahan elektabilitas dimana kubu Syafaad bisa naik > 5 persen dan kubu IDP-Dahlan turun elektabilitasnya dibawah 40 persen, maka tidak tertutup kemungkinan kubu Syafaad mampu mendapatkan rekomendasi NasDem dan dipridiksi memenangkan Pilkada 2020 dengan selisih tipis. Syaratnya, kenaikan elektabiltasnya konsisten selama 4 bulan kedepan sampai hari H.

Namun, apabila hasil komparasi data antara survei LSI dan Charta Politica menghasilkan data sebaliknya, dimana petahana mampu mempertahankan elektabiltasnya diangka > 40 persen, maka hasil survei tersebut tidak hanya akan memberikan efek jatuhnya rekomendasi NasDem ke kubu IDP, namun juga ancaman bubarnya kubu Syafaad karena ketidakcukupan syarat elektroral legislatif mendapatkan partai lain bagi pencalonannya.

Hasil survei babak ulangan tidak saja berpengaruh pada internal Partai NasDem dalam mengeluarkan rekomendasi partainya. Lebih dari itu, hasil survei ulangan ini akan menjadi acuan memperidiksi Pemenang Pilkada Bima 2020.

Meskipun terdapat kandidat lain yang akan mengikuti kontestasi Pilkada ini, apabila elektabilitasnya berangkat dibawah 10 persen maka (umumnya di berbagai Pilkada) kandidat tersebut akan sulit memenangkan kontestasi persaingan Pilkada. Apalagi Pilkada Kabupaten Bima menyisahkan beberapa bulan lagi. (*)

*) Penulis adalah Pemerhati Politik Bima-Dompu.