Anggota DPRD Dompu dari Fraksi NasDem Ir. Muttakun, saat berbicara di depan masyarakat Kelurahan Potu, beberapa waktu lalu. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Menuju Pilkada Dompu, 9 Desember 2020, anggota DPRD setempat Ir. Muttakun mendorong Kelurahan Potu, Kecamatan Dompu menjadi Kampung Restoran Partai NasDem. Sesuai dengan slogan NasDem yang kerap disuarakan selama ini.

“Saya telah berkomunikasi dengan Lurah Potu dan menyampaikan gagasan agar masyarakat Potu bersama-sama menginisiasi dan mendorong lahirnya Kampung Restorasi,” kata Muttakun dalam rilis yang diterima Lakeynews.com, Sabtu (4/7) sore.

Kampung Restorasi ini, menurut mantan Caleg 57 NasDem, dimaksudkan agar segala sikap, prilaku, tindakan dan kebijakan harus mampu dilahirkan untuk mengembalikan, memulihkan serta memperbaiki sesuatu ke kondisi awal (kearifan lokal dan budaya). Dari kehidupan suatu masyarakat yang belum terpengaruh oleh dampak adanya modernisasi yang mengubah dan merusak sikap, perilaku dan tindakan individu dan kelompok masyarakat, termasuk warga Kelurahan Potu.

Diketahui, saat Reses Tahap I yang berlangsung 26 Februari hingga 2 Maret 2020, Muttakun telah menampung berbagai inisiasi dan aspirasi masyarakat yang mengusulkan adanya Kampung Kreatif. Seperti Kampung Budaya, Kampung Kuliner, Kampung Anti Narkoba, Kampung Wisata, Kampung Pelangi dan Kampung Wirausaha.

“Terhadap usulan masyarakat tersebut, Insya Allah dengan jabatan dan fungsi sebagai anggota DPRD Domou dari NasDem, Kampung Kreatif yang diusulkan masyarakat akan dikawal hingga menjadi Program dan Kegiatan dari OPD dan dinas terkait yang mendapat pendanaan melalui APBD 2021,” ujarnya.

Kembali soal Kampung Restorasi. Konsepnya, merupakan upaya bertahap yang akan dilakukan oleh seluruh stakeholder. Baik di pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kelurahan hingga pada basis RT dan seluruh warga masyarakat.

Diharapkan, mendapat dukungan dan kebijakan politik dari Fraksi Partai NasDem serta pengawalan langsung oleh Muttakun yang notabene putra asli Kelurahan Potu.

Di samping itu, restorasi sebagai konsep yang akan diwujudkan di Kampung Restorasi Kelurahan Potu adalah gerakan memulihkan, mengembalikan, serta memajukan fungsi pemerintahan di tingkat Kelurahan Potu (pemerintah kelurahan) kepada cita-cita Proklamasi 1945.

Dalam konsep Kampung Restorasi, lanjutnya, yang menjadi objek restorasi adalah sektor dan bidang kehidupan yang telah mengalami perubahan tidak baik yang menyimpang dari tradisi, budaya dan norma agama maupun norma negara yang berdampak pada proses kehancuran peradaban (budaya, agama dan sosial kemasyarakatan). Disamping, munculnya berbagai pelanggaran dalam proses penyelenggaraan pemerintahan.

Dengan demikian, akan lahir program dan kegiatan restorasi pada Kampung Restorasi sesuai objek restorasi sebagai konsekwensi dari harapan untuk mengembalikan, memulihkan serta memperbaiki sesuatu ke kondisi awal dari kehidupan suatu masyarakat.

Muttakun berharap, Pilkada 9 Desember 2020 menjadi momentum emas untuk melakukan gerakan restorasi dengan memilih Kelurahan Potu sebagai kelurahan dengan masyarakat yang tidak lagi menentukan dan menjatuhkan pilihan politik hanya karena adanya pemberian sejumlah uang oleh Calon Bupati dan Wakil Bupati tertentu.

Sesuai hasil diskusi awal dengan Lurah Potu, maka tawaran sekaligus sosialisasi konsep Kampung Restorasi ini akan segera disampaikan bersamaan dengan acara musyawarah kelurahan. Kegiatan yang dihajatkan untuk Revitalisasi Pengurus Karang Taruna La Mbesi Poro Kelurahan Potu itu, diagendakan sekitar dua minggu ke depan.

Di samping pengurus PKK, kepala lingkungan, ketua RT, pengurus LPM, Toga, Toma dan Toda, akan diundang juga Babinsa, Bhabinkamtibmas, Camat, Danramil, Kapolsek, KPU dan Bawaslu.

“Sebagai wujud komitmen dan konsistensi dalam mendorong dan menginisiasi Program Kampung Restorasi, saya akan meminta diri dalam forum musyawarah kelurahan untuk langsung menjadi Ketua Pokja Kampung Restorasi. Ketua Pokja akan memimpin restorasi di Kampung Restorasi Kelurahan,” ulasnya.

Diakuinya, restorasi untuk meniadakan politik uang dalam Pilkada memang akan terasa sulit. Namun, jika tidak ada semangat dan inisiatif untuk memulai membangun gerakan, maka selamanya tidak akan pernah bisa mengubah keadaan yang lebih baik.

“Saatnya kita, khususnya masyarakat Kelurahan Potu melakukan gerakan restorasi hingga menjadikan Kelurahan Potu mampu mewujudkan Kampung Restorasi,” imbuhnya. (tim)