Ketua IGI Kabupaten Dompu Bambang Hermanto, S.Pd., MBA. (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) adalah dua organisasi profesi guru di negeri ini yang sama-sama diakui oleh negara. Namun, pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) yang dirangkaikan dengan HUT KORPRI Tingkat Kabupaten Dompu Tahun 2017, IGI tidak dilibatkan.

Hal tersebut tentu saja mendapat reaksi dan protes dari pihak IGI maupun dari pemerhati pendidikan. Penyelenggara, khususnya panitia HGN dan HUT KORPRI dinilai diskriminatif dan tidak adil.

Karena itu, sikap dan kebijakan panitia yang tidak melibatkan IGI pun dipertanyakan. Sebab, pada kegiatan yang sama tahun lalu (2016) IGI dilibatkan.

“Mengapa dalam HGN yang dirangkaikan dengan HUT KORPRI kali ini, IGI tidak disertakan seperti pada tahun sebelumnya? Padahal status kelegalan (IGI) sama dengan PGRI,” kata Ketua IGI Kabupaten Dompu Bambang Hermanto, S.Pd., MBA, pada Lakeynews.com, Sabtu (25/11/2017) pagi.

Diketahui, peringatan HGN yang dirangkaikan dengan HUT KORPRI 2017 jatuh pada hari ini, Sabtu (25/11/2017). Untuk Tingkat Kabupaten Dompu Tahun 2017, kegiatan tersebut dipusatkan di Lapangan Desa Calabai, Kecamatan Pekat.

Menurut Bambang, di Indonesia ada sejumlah organisasi profesi yang syah dan diakui oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Seperti yang tertuang dalam lembaran Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor: 129/8/B1/14/2015, tanggal 4 Desember 2015, ada PGRI, PERGUNU, IGI, PGSI, FSGI dan FGII.

Sebenarnya, prokontra dan miskomunikasi antarorganisasi profesi guru ini sering terjadi di setiap perayaan HGN. “Wajar-wajar saja sebab kebanyakan belum paham dan tidak pernah tahu dan membaca aturan dasar hukum. Terutama etika dalam organisasi berbangsa dan bernegara,” tegas Bambang.

Namun demikian, lanjut Bambang, hal ini penting disikapi dengan arif dan dipandang netral, terutama oleh elit birokrasi pemerintahan (eksekutif). “Saya selaku Ketua IGI Kabupaten Dompu mencium bau ketidakharmonisan dalam persoalan ini,” ungkapnya.

Jika tidak disikapi arif dan secara netral, akan menimbulkan ketidaknyamanan. Dan Bambang menguatirkan itu akan memicu disitegrasi antarkelompok organisasi yang sama dilegalkan oleh pemerintah itu sendiri di Bumi Nggahi Rawi Pahu ini.

Bambang memandang penting mempertanyakan tidak dilibatkannya IGI dalam HGN yang dirangkaikan dengan HUT KORPRI tahun ini. Selain karena tahun sebelumnya IGI disertakan pada kegiatan yang sama, juga karena status kelegalannya sama dengan PGRI atau organisasi profesi guru lainnya (seperti yang disebut di atas).

Disamping itu, ini amanat Undang-undang (UU) dan tatakelola organisasi guru dan dosen, Sisdiknas, termasuk UU Nomor 14 Tahun 2015 tentang Daftar Organisasi Profesi Guru. “Lebih-lebih terdaftar dan ditandatangani oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor: AHU-125.AH.01.06 Tahun 2009, dengan NPWP: 02.837.749.3-017.000, bahwa IGI diakui,” tegasnya.

“Mari kita bersikap dewasa. Ini zaman sudah merdeka. Diera reformasi, hak hidup, bicara, politik dan berorganisasi sudah diatur. Munculnya organisasi lain jangan pernah dianggap sebagai penghalang atau pesaing,” sambung Bambang dengan tegas.

Lihat saja partai politik yang muncul dan menjamur saat ini. Di zaman Orba (orde baru), sebut Bambang, hanya ada tiga Parpol; Golkar, PPP dan PDI. Dan di zaman Orba pula, satu-satunya organisasi profesi guru adalah PGRI. “Apakah partai yang muncul setelah itu dianggap penghalang atau dianggap mengacaukan? Tentu tidak kan! Ya, demikian juga pada organisasi (profesi guru) yang tumbuh dan berkembang setelah PGRI,” paparnya.

Hadirnya parpol dan organisasi, urai Bambang, tentunya sebagai tanda dan kemajuan bahwa kita telah dewasa dan cerdas dalam berdemokrasi serta berorganisasi, sesuai Amandemen UUD 1945. Tuntutan kemajun zaman teknologi saat ini.

“Saya menyarankan dan memberikan masukan, jangan sampai hal ini terulang kembali di tahun berikutnya. Ini perlu disikapi serius oleh kita sebagai pelaksana di lapangan, dalam hal ini Panitia HUT Bersama KORPRI dan HGN untuk saling koordinasi yang baik dan jangan hanya PGRI yang diundang. Sebab ada juga organisasi lain di Dompu ini. Adalah IGI,” tegasnya.

Mengakhiri statemennya, kepada kawan- kawan Guru baik di PGRI maupun IGI, Bambang mengucapkan; “Selamat Merayakan Hari Guru Nasional Semoga Kita tetap Bangga Menjadi Guru”. Amin Allahuma Amin…!”

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh konfirmasi dari pihak panitia HGN dan HUT KORPRI Kabupaten Dompu 2017. (won)