Di Kantor Bupati Bima, aspirasi massa PMDS diterima Kasubag Humas pada Bagian Humas dan Protokol Setda M. Ruslan, S.Sos. (tim/lakeynews.com)

KOTA BIMA, Lakeynews.com – Persatuan Mahasiswa Donggo Soromandi (PMDS) Bima, Selasa (7/11/2017) menggedor Kantor Bupati dan Walikota Bima, serta Markas Polres Bima Kota. Mereka menuntut penuntasan kasus dugaan pelecehan (ujaran kebencian) atas suku/etnis Donggo melalui yang menghebohkan beberapa waktu lalu. (Baca juga: Diduga Hina Etnis Donggo, Oknum Mahasiswa STKIP Bima Dilapor ke Polda )

Awalnya, massa yang dikomandoi Rizki itu beraksi di kantor Bupati Bima, kemudian ke Kantor Walikota dan terakhir di Mapolres Bima Kota. Dalam aksinya di tiga titik tersebut, perwakilan massa PMDS sama-sama melakukan orasi secara bergilir. Dilanjutkan dengan membacakan pernyataan sikap, yang kemudian diserahkan kepada pejabat terkait.

Pernyaataan sikap itu, berisi enam poin. Pertama, bangga sebagai Suku Donggo yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Bima dalam bingkai NKRI. Serta, akan terus menerus memupuk karifan lokal sebagai bagian jati diri.

Kedua, menyesalkan segala bentuk pelecehan (ujaran kebencian) terhadap suku/etnis Donggo yang terjadi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Ketiga, meminta semua pihak untuk menghentikan segala bentuk pelecehan berbau rasial kepada suku/etnis manapun, baik secara langsung maupun melalui media sosial/elektronik.

Keempat, menuntut kepada Bupati/Walikota Bima sebagai Kepala Daerah untuk mengeluarkan pernyataan Menyesalkan/Himbauan kepada Masyarakat Bima agar menghentikan segala ungkapan berbau rasial terhadap Suku Donggo maupun Suku/Etnis lainnya di wilayah Kabupaten/Kota Bima.

Kelima, menuntut kepada Kapolres Bima Kota untuk secepatnya menetapkan tersangka dalam kasus penghinaan yang (diduga) dilakukan oleh account facebook “Lafi Firman” yang telah dilaporkan secara resmi oleh Paguyuban Suku Donggo Kota Bima.

Plt. Sekda Kota Bima Dr. Ir. H. Syamsuddin, di sela-sela menerima aspirasi massa PMDS. (ist/lakeynews.com)

Dan, keenam, Pengurus PMDS Bima akan terus mengawal hingga terpenuhinya semua tuntutan ini.

Di Kantor Bupati Bima, massa diterima Kasubag Humas pada Bagian Humas dan Protokol Setda, M. Ruslan, S.Sos. Saat itu, pria yang lebih dikenal dengan panggilan Alan Malingi mengatakan, peryataan sikap (PMDS) ini akan disampaikannya kepada Bupati untuk menidaklanjuti tuntutan massa.

“Saya pribadi selalu mengikuti perkembangan di medsos tentang masalah pelecehan suku, ras dan etnis Donggo-Soromandi. Saya selaku putra Bima juga ikut prihatin dan marah saat membaca penghinaan suku, ras dan etnis Donggo-Soromandi,” ungkap Alan.

Dari kantor Bupati, massa bergerak menuju kantor Walikota Bima. Di sana massa diterima Plt. Sekda Dr. Ir. H. Syamsuddin.

Baik perwakilan Pemkab maupun Pemkot Bima sama-sama berjanji dan berkomitmen untuk memenuhi poin keempat pernyataan sikap massa PMDS. Yakni, “menuntut kepada Bupati/Walikota Bima sebagai Kepala Daerah untuk mengeluarkan pernyataan Menyesalkan/Himbauan kepada Masyarakat Bima agar menghentikan segala ungkapan berbau rasial terhadap Suku Donggo maupun Suku/Etnis lainnya di wilayah Kabupaten/Kota Bima.”

Tidak berhenti di situ, massa lalu melanjutkan aksinya ke Mapolres Bima Kota. Sesaat setelah beraksi dan perwakilan berorasi, massa diterima Wakapolres Kompol I Made Winarta.

Di hadapan massa PMDS, Winarta menguraikan tahapan penanganan kasus pelecehan suku tersebut dilakukan kepolisian. Dan, dia berjanji, pihaknya tetap memproses kasus tersebut hingga tuntas.

Aksi di Mapolres dipungkasi dengan pose bersama massa dengan Wakapolres dan jajarannya. Secara umum, demo massa PMDS dari kantor Bupati dan Walikota Bima hingga Mapolres Bima Kota berakhir damai dan tertib.

 

Aksi massa PMDS di Mapolres Bima Kota diakhiri dengan pose bersama Wakapolres Kompol I Made Winarta dan jajarannya. (ist/lakeynews.com)

Dua Bulan, Tiga Kasus Pelecehan Etnis Donggo

Semakin massifnya ujaran-ujaran kebencian (hate speech), baik secara langsung maupun melalui media sosial, dinilai berpeluang menimbulkan instabilitas kemananan/konflik horizontal antarmasyarakat Bima.

Bayangkan, dalam hanya kurun waktu dua bulan terakhir, tercatat telah tiga kasus dugaan penghinaan yang berbau rasisme terhadap Suku/Etnis Donggo melalui account facebook. Yakni:

  1. Account Facebook “Fani Afnan Jannatun” (19/9/2017)
  2. Account Facebook “Lafi Firman” (19/10/2017)
  3. Account Facebook “Ehtoss” (viral 5/11/2017)

Dari ketiga kasus dugaan penghinaan tersebut, baru kasus yang dilakukan Account Facebook “Lafi Firman” yang dilaporkan ke kepolisian. Laporan disampaikan Paguyuban Suku Donggo Kota Bima ke Polres Bima Kota dan Himpunan Mahasiswa Donggo-Soromandi Mataram ke Polda NTB.

Sedangkan kasus dugaan penghinaan yang diduga dilakukan Account Facebook “Fani Afnan Jannatun”, sebelumnya diselesaikan secara adat. Damai dan tidak berlanjut ke ranah hukum.

Sementara kasus ketiga diduga dilakukan oleh Account Facebook “Ehtoss”, muncul beberapa hari lalu. Sejauh ini belum dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian.

“Hal (kasus) itu, jika tidak segera disikapi secara serius dikuatirkan dapat melahirkan efek domino/terus menerus, serta mengganggu kerukunan antarsuku/etnis di Kabupaten/Kota Bima,” tegas PMDS dalam lembaran pernyataan sikap. (tim)