Warga korban banjir berusaha menerobos arus banjir di Kelurahan Penaraga Kota Bima, Jumat (23/12). (foto purnawansyah/lakeynews.com)

KOTA BIMA, Lakeynews.com – Banjir bandang kembali melanda Kota Bima, Jumat (23/12). Kota ini mendadak menjadi lautan air deras kiriman dari Kabupaten Bima wilayah timur. Ratusan rumah warga rusak dan ribuan lainnya terendam. Banjir yang terjadi kali ini lebih besar dibanding banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/12) lalu.

Banjir mulai mengepung Kota Bima sekitar pukul 10.30 Wita akibat intensitas hujan yang cukup tinggi sejak pagi harinya. Banjir baru mulai berangsur surut sekitar pukul 17.00 Wita.

Pantauan Lakeynews.com menyebutkan, hampir semua kelurahan di lima kecamatan dalam wilayah kota terendam banjir. Para korban banjir mengungsi sejumlah tempat, termasuk masjid-masjid dan di lokasi-lokasi yang lebih tinggi.

Ratusan pengendara roda dua maupun roda empat yang terjebak di dalam kota pun berhamburan mencari jalan keluar untuk menghindari banjir. Selain itu, akses jalan masuk Kota Bima, jembatan Padolo ditutup. Begitu juga jalan masuk melalui Kelurahan Sambi Nae menuju Mande dan Sadia juga ditutup.

Dari arah timur, pengendara tertahan di Keluarahan Penaraga. Hal ini karena air yang mengalir di jembatan Penato’i meluap. Ketinggian air yang menggenangi jalan dan pemukiman warga di sekitarnya mencapai perut bahkan dada orang dewasa.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, ditutupnya akses masuk melalui jalur Ama Hami menuju jembatan Padolo – Kota, Sambi Nae – Sadia, karena arus banjir sudah melampaui jembatan itu. Kedua jembatan itu pun dikabarkan mengalami keretakan akibat hantaman banjir.

Warga yang berada di Kelurahan Sadia sekitarnya dan daerah sekitar kantorn Wali Kota terisolasi hingga pukul malam hari.

Ratusan personel kepolisian, TNI, Tagana, Basarnas dan relawan dari berbagai daerah, membantu mengevakuasi korban banjir ke sejumlah tempat pengungsian sementara.

Saat ini, akses masuk ke Kota Bima hanya bisa ditempuh melalui jalur Kelurahan Rontu. Itu pun belum bisa menembus jantung kota dengan menggunakan kendaraan. Sampai saat ini belum diketahui pasti adanya korban jiwa akibat banjir bandang susulan yang lebih besar tersebut.

Pada sisi lain, sejumlah pihak terkait belum satupun yang berhasil konfirmasi. Selain karena kesulitan menembus lokasi tempat terkonsentrasinya sejumlah pejabat dan pihak terkait, juga karena jaringan komunikasi (telekomunikasi) yang terputus. (pur)