
KOTA BIMA – Isu tentang istri dan ipar Wali Kota Bima H. Arahman H. Abidin diberikan jabatan strategis di Pemkot setempat, belakangan ini viral di media sosial (Medsos).
Hal tersebut memantik Aji Man (sapaan Wali Kota Bima) angkat bicara. Memberikan klarifikasi dan meluruskan persoalan tersebut, juga lewat Medsos.
“(Saya) dapat inbox WhatsApp dari teman; “Pak Wali apa benar ipar dan istri dikasih jabatan strategis di Pemkot? Itu viral di media sosial”. Dan, yang pasti ini menjadi bahan pembicaraan yang harus saya luruskan,” kata Aji Man.
Hal tersebut disampaikan Aji.Man melalui akun Medsos pribadinya yang dikutip Lakeynews, Senin (6/7/2026) pagi. Tentu setelah sebelumnya mempermaklumkan dan memohon izin pada yang bersangkutan pada kolom komentar.
Aji Man mengaku, dirinya dilantik sebagai Wali Kota Bima pada Februari 2025. Dia disumpah untuk taat aturan dan menjaga amanah rakyat.
“Tapi saya juga manusia biasa, punya keluarga. Saya lahir dari keluarga besar. Kami 21 bersaudara dari tiga ibu. 10 perempuan, dan 11 laki-laki,” paparnya.
Aji Man sering merenungkan. Apa dua hal ini (jabatan dan keluarga, red) harus dipertentangkan? “Hati saya bilang tidak,” tegasnya.
Adik kandung (lain ibu) Wali Kota “senior” H. Qurais H. Abidin itu lalu menguraikan perihal yang dirasakan dan dipegangnya sampai saat ini. Baik terkait keadilan dan kedekatan, profesionalisme ASN, isu keluarga, hingga harapannya pada Kota Bima.
Keadilan dan Profesionalisme
Ditegaskan Aji Man, keadilan di atas kedekatan. Di meja kerjanya, tidak ada keluarga atau bukan keluarga. Ukurannya cuma satu, benar atau salah.
“Yang melanggar saya proses. Yang berprestasi saya apresiasi. Siapapun orangnya,” tegasnya.
Sedangkan ASN (PNS maupun PPPK) itu abdi negara. Aji Man tegaskan, tidak pernah menilai ASN dari bapaknya siapa atau suaminya siapa. Dia hanya melihat kompetensi, integritas, dan hasil kerjanya.
“Justru kepada keluarga saya yang ASN, saya minta kerja dua kali lebih keras untuk membuktikan diri,” tandas mantan anggota DPRD dan Wakil Wali Kota Bima itu.
Isu Keluarga dan Karier Istri
Dengan semangat meminimalisir potensi fitnah, Aji Man lebih spesifik meluruskan isu minor yang menerpa keluarganya. Khususnya terkait ipar-ipar dan istri wali kota. “Biar tidak jadi fitnah,” tegasnya.
Dari 10 saudara perempuannya, sebut Aji Man, hanya tiga orang yang suaminya ASN. Dan, ketiga-tiganya sudah pensiun. Purna tugas. Sedangkan tujuh orang lainnya, suaminya bukan ASN.
“Itu berarti tidak ada lagi ipar saya yang ASN, apalagi jadi pejabat,” beber pria yang juga serta pernah menjabat anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.
Demikian juga menyangkut istrinya, Badrah Ekawati, seorang bidan yang saat ini menjabat Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bima. “Ini bagian paling berat bagi saya pribadi,” tandasnya.
Wali Kota mengaku sering mendengar sindiran, “Apa gunanya ASN kalau suaminya Wali Kota?”.
Nyinyiran tersebut dijawab Aji Man dengan mengungkapkan beberapa fakta yang mencengangkan.
Dia menceritakan, Badrah diangkat sebagai PNS pada 1993. “Jadi, sudah mengabdi selama 33 tahun. Jauh sebelum saya terjun ke (dunia) politik,” tuturnya.
Jenjang pendidikan Badrah di bidang kesehatan, mulai dari SPK, D1, D3, D4 Kebidanan, mengambil Profesi Bidan (Str. Keb.), juga sampai Sarjana Ekonomi (SE).
Kariernya juga dimulai dari bawah. Dari Staf biasa selama 20 tahun. Mulai menduduki jabatan pada 2013 sebagai Kasi Promkes. Kemudian, Kabid Promkes pada Agustus 2016.
Golongannya pun sudah IV/a sejak April 2017. Semua dilalui lewat uji kompetensi dan penilaian kinerja. “Tidak ada jalan pintas,” tegas Aji Man.
Aji Man acapkali bertanya pada dirinya sendiri, “apakah 33 tahun pengabdian istrinya, dengan empat jenjang pendidikan kesehatan, Profesi Bidan, gelar SE, dan jabatan yang dirintis dari nol itu gugur nilainya hanya karena hari ini dia adalah istri saya seorang wali kota?”
“Jawaban saya: tidak. Yang menilai seorang ASN adalah SKP-nya, hasil kerjanya, absensinya, integritasnya. Bukan status perkawinannya dengan saya,” kata Aji Man lagi dengan tegas.
Seluruh proses pelantikan, lanjutnya, sudah lewat Baperjakat (Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan). Memakai (melalui) sistem merit, dan persetujuan teknis dari BKN (Badan Kepegawaian Negara).
“Saya sadar,tidak semua orang akan puas. Bagi saya, ketidakpuasan itu bagian dari demokrasi. Tugas saya menjawabnya dengan kerja, bukan dengan janji,” ucapnya.
Harapannya untuk Kota Bima
Haji Arahman ingin dan mengajak semua pihak membuka ruang selebar-lebarnya untuk putra-putri terbaik Bima (Kota Bima).
“Jangan tanya dia anak siapa. Tanyakan apa yang bisa dia perbuat untuk kota ini,” tandasnya.
Prinsip hidup Aji Man, Maja Labo Dahu (malu dan takut). Malu berbuat salah, takut melanggar aturan. Prinsip ini yang dia tanamkan kepada anak-anak dan istrinys. Dan, juga yang dia tuntut ke seluruh ASN.
“Keluarga saya harus jadi yang pertama memberi contoh,” tegas Aji Man.
Aji Man yakin, jika birokrasi humanis, profesional, objektif, dan taat aturan, maka rakyat Kota Bima akan dilayani dengan cara yang memanusiakan. (won)
