Selain jendela-jendela banyak yang tak berdaun dan tak berkaca, bagian utara gedung SMPN 1 Dompu ini tampak dipenuhi semak belukar yang tumbuh subuh. (tim/lakeynews)

 

Edy Suryansah: Jangankan Manusia, Kucingpun Malu Melihatnya

 

Segudang prestasi berhasil diukir SMPN 1 Dompu. Masalahnya juga seabrek. Sampah menggunung, semak belukar tumbuh subur. Malam gelap, seram, ibarat rumah hantu. Instalasi listrik, air, dan WC banyak tak berfungsi. Pintu-jendela banyak rusak, dan tak berkaca. Padahal, sekolah itu diapit pusat pemerintahan daerah, Pendopo Bupati-Wabup, dan Dinas Dikpora.

Pimpinan “baru” SMPN 1 Dompu Edy Suryansah dibuat pusing tujuh keliling, ketika langsung berhadapan dengan beragam “masalah warisan” itu. Diakuinya, sungguh memprihatinkan dan memilukan. Jangankan manusia, kucingpun malu melihatnya. Namun, dia bertekad mengurai dan menangani satu persatu hingga semuanya tuntas.

 

CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu

 

KURANG dari dua bulan lagi, SMPN 1 Dompu akan memasuki usia 70 tahun. Telah dipimpin 19 kepala sekolah (Kasek). Selama ini, dikenal sebagai salah satu barometer pendidikan di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diusia yang tidak mudah lagi ini, SMPN 1 Dompu telah berhasil mencetak segudang prestasi. Namun, juga, masih terdapat seabrek masalah yang terkesan dipiara dan dipelihara.

Sepintas, wajah di bagian depannya tampak agak wow, tetapi di bagian dalamnya meh.

Sungguh parah. Sebab, posisi atau lokasi sekolah itu berada di jantung kota. Seperti pada pengantar tulisan di atas, satuan pendidikan ini diapit oleh pusat pemerintahan Dana Nggahi Rawi Pahu (moto Daerah Dompu), Pendopo Bupati, Pendopo Wakil Bupati, dan kantor Dinas Dikpora. Jika dibandingkan SMP lain, sekolah inilah yang paling dekat.

Sekolah menengah pertama ini berkedudukan di Jalan Lele, Lingkungan Sawete (sekarang Sawete Timur), Kelurahan Bali, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu.

Referensi dari Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) 2026, SMPN 1 Dompu terakreditasi A. Sekolah ini didirikan pada 14 Agustus 1956. Dan, berdiri di atas tanah seluas 16.000 m2.

Saat ditemui Lakeynews di ruang kerjanya, Sabtu (16/5/2026) lalu, Kepala SMPN 1 Dompu Edy Suryansah berkomitmen menangani tuntas berbagai “masalah warisan” di sekolah itu. (tim/lakeynews)

 

Sudah Dipimpin 19 Kepala Sekolah

Informasi yang dihimpun Lakeynews, hingga menjelang pertengahan 2026 ini, SMPN 1 Dompu sudah dipimpin 19 Kasek. Berikut nama mereka selengkapnya, dari masa kemasa:

1). Saleh Amin (1956 1964)

2). Muh. Ibrahim (1964 1967)

3). H. TH. Ahmad (1967 1968)

4). Hasan Yusuf (1968 1979)

5). Nurdin Saleh (1979 1988)

6). Usman Muhammad (1988 1994)

7). Umar Sarudjin (1994 1998)

8). Hj. Artati (1998 2000)

9). Thamrin Ahmad (2000 2001)

10). A. Rahman M. Fajar (2001 2003)

11). M. Said H.A. Rahman (2003 2006)

12). Wahyudi (2006 2008)

13). H.M. Saleh Hamid (2008 2011)

14). Zubair M. Ali (2012 2013)

15). H. Aji Sulistio (2013 Januari 2019)

16). Abdul Basith (2019)

17). Muhdar (2019 2023)

18). Abdul Basith (2023 – 13-5-2026)

19). Edy Suryansah (13-5-2026 sekarang)

 

Cetak Segudang Prestasi

SMPN 1 Dompu mampu mencetak segudang prestasi, terutama pada sejumlah lomba ekstrakurikuler (Ekskul). Baik Lomba Teater, Puisi, Mendongeng, Menulis, Pidato, Cerpen, serta Eskul Rohis, dan Olimpiade. Serta, berbagai prestasi pada Ekskul lainnya.

Ekskul Teater misalnya. Melalui Teater Sadompo, bimbingan Teti Fajryatin (Teti Maheba), Edi Mulyadi, dan Tim, dalam beberapa tahun terakhir saja berhasil menjuarai sejumlah lomba.

Diantaranya, tahun 2021. Dalam rangka HUT SMAN 1 Dompu; Juara 1 Lomba Monolog, serta Juara 1, 2, dan 3 Lomba Membaca Puisi.

Tahun 2022, juga dalam rangka HUT SMAN 1 Dompu; Juara 1, 2, dan 3 Lomba Monolog.

Masih tahun yang sama, pada Festival Tunas Bahasa Ibu yang diadakan Kantor Bahasa NTB; Juara 2 Lomba Membaca Puisi Bahasa Mbojo, Juara 2 Mendongeng Bahasa Mbojo, Juara 3 Lomba Mendongeng Bahasa Mbojo, Juara 2 Lomba Menulis Aksara Bahasa Mbojo, dan Juara 3 Lomba Pidato Bahasa Mbojo

Kemudian pada 2023, di ajang Festival Tunas Bahasa Ibu yang juga digelar Kantor Bahasa NTB, anak-anak binaan Teti Maheba dkk merebut Juara 1 Lomba Mendongeng Bahasa Mbojo, Juara 2 Lomba Baca Puisi Bahasa Mbojo, serta Juara 2 dan Juara Favorit Lomba Pidato Bahasa Mbojo.

Tahun 2024, siswa SMPN 1 Dompu menyabet Juara 1 Lomba Pidato HUT TNI di Koramil 1614-01/Dompu.

Sedangkan pada tahun 2025, pada Festival Tunas Bahasa Ibu yang juga diselenggarakan Kantor Bahasa NTB, juga juara di empat ketagori. Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Bahasa Mbojo.

Kemudian, Juara 2 dan Juara 3 Lomba Stand Up Komedi Bahasa Mbojo, Juara 3 Lomba Membaca Puisi Bahasa Mbojo, dan Juara 3 Lomba Menulis Aksara Bahasa Mbojo.

“Tahun 2025 juga, siswa binaan kami Haikal, lolos masuk Semifinalis Baca Puisi Piala Rendra Tingkat Nasional,” jelas Teti Maheba pada Lakeynews, Senin (18/5/2026).

Bukan itu saja, Komunitas Author SMPN 1 Dompu, juga dibawa binaan Teti Maheba telah menelurkan dua buku. Antologi Cerpen Siswa, Dunia Dalam Tulisan, 2024, Penerbit Queenly Project, serta Antologi Buku Kearifan Lokal Budaya Dompu, 2025, Penerbit Perpusnas.

Disamping itu, Juara 1 Menulis Cerpen Tingkat Provinsi NTB 2025 dalam Festival Tunas Bahasa Ibu, Juara 3 Menulis Resensi Buku Perpusda 2025, dan Juara 2 Menulis Sejarah Dompu 2026 dalam rangka Hardiknas Tingkat Kabupaten Dompu.

Ekskul Rohani Islam (Rohis) SMPN 1 Dompu juga berprestasi. Pada Gebyar Hardiknas kabupaten Dompu 2026, anak-anak binaan Dewi Kurnianingsih, Hairunnisa, dan Tim keluar sebagai Juara 1 Tilawah atas nama Santya Pratiwi, dan Juara Harapan 1 atas nama Adelia Azzahra.

Ekskul Olimpiade pun demikian. Tahun ini (2026), sejumlah siswa SMPN 1 Dompu lolos mengikuti Olimpiade ORION, untuk mata pelajaran Matematika, IPS, Bahasa Inggris.

Untuk Mapel Matematika yang dibina Satria irawansyah dan Desi Rahmawati, anak-anak yang lolos adalah Rahandika Devan Nugraha, Aqila Kulliha, Revalina Mahesa Purbi, Iftitan Maulida, dan Wulan Purnamasari.

Sedangkan Sains yang dibina Siti Asmah dan Maryati, meloloskan dua siswa; Miranda Cantika Ningtiyas, dan Stacey Kaythelene Flo Santoso.

Mapel IPS yang dibina Halifatun Al Mubaraq, juga meloloskan dua siswa; Fadila Putri Azzahra, dan Septiana Christiani.

Sementara Mapel Bahasa Inggris binaan Muhammad Fahmi, meloloskan lebih banyak siswa. Yakni Najlafa Rizqin Alkeyra Tan, Septiana Cristiani, Mikhael Chistian Augazo, Siti Nadira Dzidni, Fifaunnisah Istiqomah, dan Jilan Zahira.

Kiri atas: Beberapa huruf pada papan nama SMPN 1 Dompu. Kanan atas: sampah menumpuk di pojok utara. Kiri bawah: Bangunan tak berjendela dan WC yang tak berfungsi maksimal. Dan, kiri bawah: Tangga dan lantai di salah satu bangunan yang rusak. (kolase/lakeynews)

 

Diselimuti Seabrek Masalah, Malam Ibarat Rumah Hantu

Berbagai prestasi yang diraih para peserta didik dibawa bimbingan guru-guru hebat itu, dinilai tidak berbanding lurus dengan manajemen penanganan masalah. Deretan kebobrokannya –sebagian sudah bertahun-tahun– justru menyaingi keunggulan-keunggulan yang dicapai.

Berbagai masalah yang masih menyelimuti salah satu sekolah tertua di Dompu itu, langsung terlihat secara kasat mata. Sampah-sampah tampak menggunung. Setidaknya, dua titik di samping utara sekolah. Di teras dan samping ruang-ruang kelas pun menumpuk.

Semak belukar (hutan mini) dan rumput liar tumbuh subur, juga di samping utara. Jika malam tiba, suasananya gelap. Terasa seram dan mengerikan. Ibarat rumah tua yang dihuni hantu setelah sekian lama ditinggal pergi oleh pemiliknya.

Penerangan listrik hanya terlihat di lorong masuk dan sekitar ruangan kepala sekolah dan guru. “Instalasi listriknya kebanyakan rusak,” kata Kepala SMPN 1 Dompu Edy Suryansah pada Lakeynews di ruang kerjanya, Sabtu (16/5/2026).

“Hanya di ruangan kepala sekolah dan ruangan guru, serta teras dua ruangan ini yang berfungsi listriknya,” sambung mantan kepala SMPN 4 Dompu yang didemosi sebagai guru biasa dan ditempatkan di SMPN 3 Dompu itu.

Sebagaimana dilansir sebelumnya, Edy Suryansah dilantik (dikukuhkan) bersama 41 kepala sekolah lainnya (TK, SD, dan SMP) oleh Bupati Dompu Bambang Firdaus di Pendopo Bupati pada Rabu (13/5/2026) lalu.

Edy, satu-satunya guru yang ditunjuk menggantikan Kasek yang dicopot. Sedangkan 41 orang lainnya dikukuhkan untuk mengisi jabatan lowong (sebelumnya, di-Plt-kan). Sabtu lalu adalah hari pertama dia bertugas sebagai pimpinan SMPN 1 Dompu.

Parahnya, bagian depan sekolah termasuk yang mengalami gelap gulita. Tampak ada sedikit penerangnya karena secercah cahaya lampu dari lorong masuk. Kemudian mengandalkan cahaya lampu-lampu rumah warga di sekitar sekolah.

Baca jugaBupati Dompu Kukuhkan 42 Kasek, Copot Satu Kasek

Instalasi air juga tidak normal. Air tidak lancar, keran banyak yang rusak. “Parah sekolah ini,” kata Edy geram.

Bukan itu saja. WC lebih banyak yang tidak berfungsi. Dari sekitar empat titik (tiap titik ada beberapa pintu), hanya sebagian kecil dapat dimanfaatkan. “Sementara peserta didik kita ini ada ribuan orang. Mustahil cukup hanya beberapa pintu WC,” tegasnya.

Kusen-kusen pintu, lebih-lebih jendela banyak rusak. Daun jendelah hampir setengahnya tak berkaca (kacanya pecah). Sedangkan bagian atas bangunan; atap dan plafonnya masih harus dicek secara menyeluruh untuk memastikan kondisinya.

Lantai-lantai ruang kelas rusak. Keramiknya terkelupas. Bangunan (gedung) sekolah lumayan banyak juga yang rusak.

 

Mulai Ditangani secara Bertahap

Begitu masuk kerja pada Sabtu pagi, Edy langsung meninjau ke sejumlah bagian sekolah. Baik di dalam maupun di luar. Dia menemukan fakta yang mencengangkan, seperti diuraikan di atas.

Tetapi, pria yang dikenal low profile namun tegas itu, bertekad mengembalikan SMPN 1 Dompu sebagai barometer pendidikan menengah pertama di Kabupaten Dompu. Sekolah yang menjadi contoh dan teladan bagi sekolah lain.

Ini, sambungnya, bagian dari mendukung dan menyukseskan Visi-Misi dan Program Kepala Daerah, DOMPU MAJU. “Maaf kalau saya bicara agak keras. Kondisi dan keadaan sekolah ini sekarang, jangankan manusia, kucingpun malu melihatnya,” tegas Edy.

Kendati demikian, Edy tiak ingin larut terlalu lama dalam kondisi tersebut. Dia segera mengambil sikap. Langsung mulai aksi. Menangani apa yang dapat ditangani pada hari itu.

Setelah mengadakan pertemuan awal dengan para guru dan tata usaha, Edy memimpin kegiatan gotong royong pembersihan sampah di halaman sekolah. “Tadi kita bersih-bersih dulu di bagian depan,” jelasnya.

Sedangkan dua sampah yang menggunung dan semak belukar yang tumbuh subur di samping utara sekolah, ditangani dalam satu dua hari kedepan. Selain diupayakan agar tidak mengganggu peserta didik yang sedang menjalani ulangan, juga akan koordinasikan dulu dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Kita minta bantuan mobil sampah milik DLH. Jadi, disamping untuk mengangkut sampah yang menggunung itu juga sekalian akan mengangkut sampah semak belukar akan kita dibersihkan,” urainya.

Edy mengakui, tidak semua masalah di sekolah itu dapat diatasi sekaligus. Tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. “Kita akan tangani satu persatu, sampai semuanya tuntas. Insya Allah, dua tahun selesai,” cetusnya.

Pada hari pertama bertugas pula, Edy mengomandoi rekan-rekan guru dan tata usaha untuk melakukan perbaikan dan penggantian bohlam (bola lampu listrik) di depan sekolah. Sayangnya, berdasarkan pantauan media ini pada Sabtu malam, lampu-lampu listrik yang diganti itu belum terlihat menyala.

Kedepan diupayakan segera pemasangan dua lampu sorot di sebelah utara agar sekolah tidak terkesan seperti rumah hantu yang gelap dan mengerikan. Kemudian, perbaikan (pemasangan) jaringan listrik di ruang-ruang kelas.

“Instalasi listrik kebanyakan tidak berfungsi di hampir semua ruang kelas. Sehingga saat KBM (kegiatan belajar mengajar), guru-guru tidak bisa menggunakan (alat bantu ajar) elektronik,” tandasnya.

Bagaimana dengan penanganan masalah air?

Air, menurutnya, kebutuhan dasar manusia. Tidak bisa dianggap sepele. Apapun masalahnya akan segera diatasi. Untuk sumber air, diupayakan solusi lain. “Kita Usahakan sumur bor. Kita pasang mesin seperti Sanyo dan tandon air. Instalasi dan keran-kerannya tentu diperbaiki,” paparnya memastikan.

Demikian halnya WC. Beberapa titik WC yang tidak berfungsi sama sekali, dan tidak maksimal berfungsi pun akan segera diperbaiki. Seperti air dan penerangan, WC juga kebutuhan dasar manusia.

“Ini akan kita usahakan secepatnya. Cuma kita masih melihat dulu kemampuan anggarannya,” ungkap Edy.

Terkait sejumlah sekolah bagian bagunan sekolah yang rusak, Edy tegaskan, hal itu menjadi target perbaikan berikutnya. Hanya saja, karena membutuhkan biaya besar, maka harus diperjuangkan ke atas.

 

“Tak Bisa Dibina, Dibinasakan”

Sabtu pagi lalu, Edy Suryansah melakukan pertemuan awal dengan para guru dan tata usaha. Informasinya, mantan kepala SMPN 1 Dompu Abdul Basith juga hadir di sana.

Dalam pertemuan itu, selain mengenalkan diri, Edy menyampaikan beberapa penegasan. Antara lain, Edy menekankan tentang penting dan harusnya menjaga kebersihan dan menegakkan disiplin.

“Menjaga kebersihan, dan disiplin bekerja tidak dapat ditawar-tawar lagi. Saya akan tetap lakukan pembinaan. Kalau hingga 3-4 kali tidak bisa dibina, akan dibinasakan,” tegasnya.

Beberapa guru SMPN 1 Dompu menyambut baik kehadiran Edy Suryansah sebagai pimpinan baru sekolah itu. Dari pertemuan pertama akhir pekan lalu, mereka menilai Edy pemimpin yang tegas. “Tapi beliau orangnya hangat,” kata salah seorang guru, Ismul Azam.

Edy dinilai sebagai sosok pekerja keras, bergerak cepat dan cekatan. Karena itu, Ismul optimis, dibawa kepemimpinan Edy, SMPN 1 Dompu akan lebih baik dan lebih maju lagi. “Saya yakin sekali akan hal itu,” akunya.

Hanya dia berharap, dalam upaya pembenahan dan penataan kiranya tetap mempertahankan keasrian lingkungan sekolah. Pohon-pohon tetap dibiarkan rindang, sepanjang tidak mengancam jiwa warga sekolah. “Itu harapan besar saya, dan kami,” ujarnya. (*)