Ketua MUI Kabupaten Dompu H. Mokh. Nasuhi, usai mengikuti Salat Id di Lapangan Beringin Dompu, Sabtu (21/3/2026). (tim/lakeynews)

 

CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu

 

DI INDONESIA, kerap terjadi perbedaan waktu dalam mengawali (memulai) dan mengakhiri Puasa Ramadan.

Perbedaan itu kembali terjadi pada tahun 1447 Hijriah ini. Organisasi kemasyarakatan (Ormas) Muhammadiyah, memulai puasa (1 Ramadan)-nya pada 18 Februari 2026.

Sedangkan pemerintah –dari pusat hingga daerah– bersama Ormas Nahdlatul Ulama (NU), mengawali puasa Ramadan pada sehari kemudian, 19 Februari.

Perbedaan mengawali puasa Ramadan itu rupanya berimplikasi pada waktu perayaan Idulfitri yang ditandai dengan Salat Id.

Muhammadiyah menunaikan Salat Id (1 Syawal) pada Jumat, 20 Maret. Sementara Pemerintah dan NU pada Sabtu, 21 Maret.

Secara umum, sebagian umat muslim mengikuti Muhammadiyah, sebagian lagi mengikuti Pemerintah-NU.

Namun, ada pula umat Nabi Muhammad SAW (di beberapa tempat) yang melaksanakan Salat Id lebih awal dari Muhammadiyah dan Pemerintah-NU.

Bahkan, tidak sedikit diantaranya yang memilih alternatif lain, terlepas apapun tuntunan (mazhab)-nya. Yakni, tidak puasa pada 20 Maret tetapi Salat Id pada 21 Maret.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun tidak menafikan fenomena perbedaan yang terjadi hampir setiap tahun tersebut. Hal itu juga kerap menimbulkan pertanyaan dari sebagian hati, “kenapa kita mesti berbeda seperti ini?”

Ketua MUI Kabupaten Dompu H. Mokh. Nasuhi, mengajak semua umat muslim agar merenungi hal ini secara lebih dalam.

“Perbedaan ini bukanlah tanda perpecahan, tetapi buah dari keluasan syariat Islam,” katanya pada Lakeynews sebelum mengikuti Salat Id di Lapangan Beringin, kompleks Kluster Satu Pusat Pemerintahan Kabupaten Dompu, Sabtu (21/3/2026).

Menurutnya, perbedaan dalam hal ini yang berakar dari sunnah. Sebagian umat berpegang pada rukyat (melihat hilal), sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ»

Yang artinya: “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal), dan berbukalah karena melihatnya. Jika tertutup atas kalian (tidak terlihat), maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.”

Sebagian yang lain menggunakan hisab. Menghitung perjalanan bulan dengan ilmu yang Allah anugerahkan. Dan, ada pula yang menggabungkan keduanya.

“Semuanya adalah ijtihad. Semuanya ingin taat. Semuanya ingin tepat,” papar Nasuhi yang juga wartawan senior dengan kompetensi utama ini.

Meski demikian, Nasuhi mengingatkan, berbeda dalam menentukan hari raya, jangan sampai berbeda dalam hati.

Mengapa?

“Karena boleh jadi, kita sama-sama melihat hilal di langit, tetapi belum tentu kita melihat kesalahan diri sendiri. Boleh jadi, kita sibuk memperdebatkan tanggal, tetapi lupa memperbaiki amal,” tegasnya.

Nasuhi mengakui dan menyontohkan, bahwa para ulama dahulu berbeda namun hati mereka tetap bersatu. Mereka berbeda dalam ijtihad, tetapi tidak saling menyesatkan.

“(Itu) karena mereka tahu, yang mereka cari bukan kemenangan pendapat, tetapi keridhaan Allah,” imbuhnya.

Karena itu, Nasuhi menegaskan, makna Idulfitri bukan tentang siapa yang lebih cepat atau belakangan berhari raya. Idulfitri bukan tentang siapa yang lebih tepat menghitung hilal.

“Tetapi tentang siapa yang hatinya kembali bersih. Siapa yang dosanya diampuni, dan siapa yang keluar dari Ramadan dalam keadaan lebih dekat kepada Allah,” paparnya.

Jika berbeda dalam takbir, Nasuhi mengajak agar satukanlah hati dalam zikir. Jika berbeda dalam waktu, maka jangan berbeda dalam cinta. “Karena sesungguhnya, Hilal itu hanya satu, tetapi cara melihatnya yang berbeda,” pesannya.

Yang tidak kalah pentingnya diingatkan Nasuhi, Allah SWT tidak melihat kapan hamba-Nya berhari raya, tetapi melihat bagaimana hati hamba-Nya setelah Ramadan berlalu.

Sebelum mengakhiri wawancara, Nasuhi mengatakan, saat kita berdiri di awal Syawal, Ramadan pergi meninggalkan kita. Malam-malam penuh tangisan telah berlalu. Tilawah yang dulu menggetarkan hati, kini mulai sepi.

Pertanyaan kemudian, apakah Allah SWT juga ikut pergi dari hati kita?

“Semoga ini menjadi renungan kita semua. Jazakumullah Khairan Katsiran wa barakallahu fiina… Lanalfatihah,” tuturnya.

“Jika ada salah kata, salah berprilaku. Maafkan saya yang dhoif ini. Selamat berhari raya, 1 Syawal 1446 Hijriah. minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin,” pinta Nasuhi memungkasi penjelasannya. (*)