
Perkuat Kekeluargaan, Tingkatkan Kedisiplinan
CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu
HARI ini, Selasa (10/3/2026), penulis berkesempatan mengunjungi SMPN 2 Woja, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Melihat lebih dekat aktivitas keagamaan dalam mengisi bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Sedianya, sesuai janji dengan Kepala SMPN 2 Woja Muhammad Agungsyah, kunjungan ini dilakukan pada Senin kemarin. Namun tertunda karena hujan yang turun terus menerus sejak pagi hingga siang.
Kendala cuaca tersebut, praktis tidak memungkinkan untuk melihat secara langsung kegiatan keagamaan yang selalu dilaksanakan pagi hari di sekolah itu.
Tadipun hampir saja gagal lagi. Alasannya sama. Hujan. Untungnya, baru lebih kurang 10 menit penulis tiba di sekolah itu, hujan turun.
Saat itu, di salah satu ruang kelas yang dijadikan musala sementara, sedang berlangsung kegiatan Imtaq dan memasuki paro akhir. Dipimpin dan dipandu Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bersama beberapa siswa yang ditunjuk.
Sang Kepala Sekolah (Kasek) juga terlihat memantau dan mengawalnya, sembari memberikan arahan. Selain saat kegiatan, arahan Kasek juga kerap kali menjelang, di sela-sela, bahkan usai kegiatan.
“Alhamdulillah, baru saja selesai kegiatan Imtaq. Selama bulan puasa, kegiatan Imtaq rata-rata dimulai pukul 08.00 Wita,” kata Agung, sapaan Kepala SMPN 2 Woja Muhammad Agungsyah, ketika ditemui Lakeynews di ruang kerjanya, Selasa pagi.

“Ini sesuai dengan petunjuk dan arahan dari Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, bahwa selama bulan Ramadhan diperbanyak kegiatan keagamaan,” sambung Alumni Strata Satu (S1) Bahasa Inggris IKIP Mataram (sekarang Universitas Pendidikan Mandalika/UNDIKMA) 1995 ini.
Setelah Imtaq, dilanjutkan dengan kegiatan Literasi Alquran. Selama bulan puasa, Literasi Alquran dilakukan setiap hari, setelah kegiatan Imtaq.
Usai Literasi Alquran, semua siswa masuk Ruangan Smart TV. Di sana mereka menonton kisah-kisah teladan nabi dan rasul, serta kisah-kisah inspirasi lainnya yang diputar.
Bukan hanya menonton. Di ruang itu, siswa-siswi disuguhi beberapa kuis. Anak-anak juga diminta menceritakan kembali kisah-kisah yang baru saja mereka tonton.
“Hal itu untuk mengetahui saya tangkap dan tingkat pemahaman mereka terhadap yang baru ditontonnya. Melatih keberanian siswa bicara di hadapan umum, dan lainnya,” jelas pria yang suka memelihara kumis ini.
Di luar bulan Ramadhan, kegiatan Literasi Alquran terjadwal seperti pelajaran reguler. Dilakukan setiap hari Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat.
“Literasi Alquran sudah masuk kurikulum sekolah kita. Dilakukan setiap satu jam sebelum jam pelajaran dimulai,” papar ayah tiga anak hasil pernikahannya dengan Siti Aisyah, lulusan FKIP Unram 1997 yang kini menjadi guru mata pelajaran PPKN SMAN 1 Dompu.
Rencananya, dalam beberapa hari kedepan SMPN 2 Woja akan melakukan pembagian takjil buka puasa kepada masyarakat di jalan. Para pengendara.
“Kegiatan ini juga kita lakukan setiap tahun,” tutur pria kelahiran 1972 (berjalan 54 tahun) itu.
Disamping itu. Bulan dalam Ramadhan diisi dengan sejumlah lomba. Diantaranya, Lomba Menghafal Ayat-ayat pendek (Alquran) dan Lomba Azan Antarkelas.

Perkuat Kekeluargaan, Tingkatkan Kedisiplinan
Pada sisi lain, Muhammad Agungsyah selalu menekankan kepada keluarga besar SMPN 2 Woja untuk menjaga dan memperkuat hubungan kekeluargaan.
“Jika kekeluargaan kuat, apapun program sekolah akan muda dilaksanakan. Dan, insya Allah hasilnyapun akan sesuai harapan,” tandasnya.
Disamping itu, pentingnya peningkatkan kedisiplinan juga kerap disampaikan Agung, terutama kepada para guru dan tata usaha. “Saya selalu tekankan pentingnya disiplin. Disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin penampilan, dan disiplin lainnya,” ungkapnya.
Satu lagi, disiplin dalam menjaga lingkungan sekolah (tetap bersih). Disiplin yang inipun tidak dinomorduakannya.
Apalagi pada 2025 lalu, sekolah ini terpilih sebagai Sekolah Model untuk Kesehatan Lingkungan dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“Khusus kepada guru, tidak ada istilah tidak masuk ngajar. Kalau ada jam, wajib masuk ngajar. Kalau berhalangan, wajib cari guru pengganti,” tegas Agung.
“Artinya tidak boleh ada jam dan kelas yang kosong. Sebab, jika ada satu saja kelas yang kosong, itu akan memengaruhi dan sangat mengganggu kelas-kelas yang lain,” cetusnya. (*)
