Ketua Panitia Pelaksana “Mbolo Weki Dou Dompu” di Mataram, Prof. Dr. H. A. Farid Hemon. (ist/lakeynews)

MATARAM – Kebangkitan identitas budaya Dompu kini memasuki babak baru. Rukun Keluarga Dompu (RKD) Mataram bersama Yayasan Kesultanan Dompu (YKD) akan menggelar Mbolo Weki Dou Dompu (pertemuan keluarga Dompu, red).

Kegiatan yang mengusung tema “Meneguhkan Identitas: Menelusuri Jejak Sejarah dan Eksistensi Budaya Suku Dompu” itu akan berlangsung di Jalan Udayana Kota Mataram. Persisnya, di Gedung Kantor Pusat Bank NTB Syariah, Sabtu (7/2/2206).

“Forum ini sebagai momentum konsolidasi akbar warga Dompu di perantauan untuk meneguhkan kembali eksistensi, sejarah, dan jati diri Suku Dompu,” kata Ketua Panitia Pelaksana Mbolo Weki Dou Dompu Prof. Dr. H. A. Farid Hemon pada wartawan di Mataram.

Menurutnya, forum ini juga menjadi ruang temu gagasan, konsolidasi intelektual, dan forum strategis membahas masa depan entitas budaya Dompu di tengah dinamika sosial dan geopolitik kebudayaan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Rencananya, pertemuan tersebut akan dihadiri tokoh-tokoh adat dan budayawan Dompu, akademisi, sejarawan dan peneliti, organisasi mahasiswa, perwakilan Pemerintah Kabupaten Dompu, Pemerintah Provinsi NTB, dan RKD di Mataram.

Dijelaskan Guru Besar Universitas Mataram (Unram) ini, forum ini lahir dari kesadaran historis dan akademik bahwa Dompu memiliki akar sejarah panjang yang tidak bisa direduksi.

Dompu bukan sekadar wilayah administratif. Dompu memiliki sejarah kerajaan sejak abad ke-12, tercatat dalam Sumpah Palapa Gajah Mada tahun 1336, dan dalam Nagarakretagama tahun 1365. “Ini bukti historis bahwa Dompu memiliki eksistensi yang kuat dan mandiri,” tegas Prof Farid.

Identitas Suku Dompu dibangun oleh kesamaan bahasa, nilai sosial, sistem budaya, serta warisan kearifan lokal seperti falsafah Nggahi Rawi Pahu. Setiap ucapan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ia juga menyoroti sistem pertanian tradisional Dompu yang sudah berkembang sejak abad ke-14, keberadaan lumbung padi Uma Jompa, hingga sistem kepemimpinan lokal para Ncuhi sebagai pondasi sosial masyarakat Dompu.

“Warisan ini bukan romantisme masa lalu, tapi pondasi karakter masyarakat Dompu hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Panitia yang juga Sekretaris RKD Mataram Yeyen Seprian Rachmat, menjelaskan, forum ini merupakan konsolidasi besar warga Dompu di Mataram –yang selama ini merasa penting untuk duduk bersama membahas arah penguatan identitas budaya.

“Ini bukan gerakan memisahkan diri, bukan pula membangun sekat budaya. Justru ini adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah dan kontribusi Dompu dalam mozaik kebudayaan NTB dan Indonesia,” jelas Yeyen yang juga Sekretaris YKD.

Forum ini, tambahnya, juga menjadi bagian dari rangkaian agenda untuk meneguhkan kembali entitas Suku Dompu secara ilmiah, kultural, dan sosial, yang tengah dirumuskan Tim Persiapan bernama NGGUSU WARU.

Peneguhan ini diharapkan menjadi pijakan akademik dan kebudayaan dalam mempertegas identitas Suku Dompu sebagai entitas yang telah lama hidup dan berkontribusi dalam sejarah Nusantara.

Semangat forum ini selaras dengan ajakan Bupati Dompu Bambang Firdaus. Sebelumnya, Bupati Bambang menyerukan agar masyarakat bangga terhadap bahasa dan jati diri Dompu.

“Kita punya bahasa Dompu, kita punya asal usul yang jelas. Kita harus bangga dengan daerah kita. Dompu hebat, Dompu bisa dan Dompu maju,” tegas Bupati dalam sebuah video.

Ajakan tersebut mendapat dukungan luas dari tokoh adat, akademisi, hingga tokoh perempuan Dompu.

Ketua YKD H. Syaiful Islam, menilai momentum ini sangat urgen. “Selama ini banyak yang belum memahami bahwa Dompu memiliki etnis sendiri. Identitas ini harus ditegaskan secara ilmiah dan sosial,” katanya.

Tokoh Perempuan Dompu Hj. Hartina (Paca Tari), juga menyebut penguatan identitas bukanlah ancaman persatuan, melainkan bentuk memperkaya kebudayaan nasional.

“Dompu bukan bayang-bayang. Dompu punya kearifan lokal yang khas dan harus dikenali,” ujarnya.

Forum Mbolo Weki Dou Dompu diyakini menjadi salah satu pertemuan budaya terbesar warga Dompu di perantauan dalam beberapa tahun terakhir.

Selain membahas sejarah dan budaya, forum ini juga akan menyentuh isu-isu strategis seperti penguatan literasi sejarah, implementasi Muatan Lokal Dompu di sekolah, hingga posisi entitas budaya Dompu dalam dinamika kebijakan daerah. (ayi)