
DOMPU – Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di bawah Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Dompu yang dipimpin Sahrul Ramadhan terus berperan dan berinovasi dalam mendorong pembangunan pertanian berkelanjutan melalui pendekatan inovatif berbasis potensi lokal.
Salah satu inovasi yang mulai diujicobakan penerapannya di tingkat petani adalah HERBALID 2in1. Ini merupakan inovasi pengendalian hama dan penyakit tanaman berbahan herbal organik (alami) yang dikembangkan Alimunur, PPL Kelurahan Simpasai, Kecamatan Woja.
“HERBALID 2in1 tidak hanya diposisikan sebagai produk teknologi tepat guna. Lebih dari itu, menjadi alat transformasi pemberdayaan petani,” kata Alimunur pada Lakeynews di Dompu, Minggu (14/12/2025).
Menurut ayah empat anak tersebut, inovasi ini digunakan sebagai entry point pendampingan untuk mendorong perubahan perilaku petani dari ketergantungan pada pestisida kimia menuju pemanfaatan bahan lokal yang aman, murah, dan ramah lingkungan.

Apa arti HERBALID 2in1? Dan, mengapa memilih nama ini?
Pria kelahiran Dompu, 21 Oktober 1975 yang akrab disapa Pak Ali ini menjelaskan, nama HERBALID 2in1 memiliki makna filosofis yang melekat pada inovasi tersebut.
HERB merujuk pada bahan-bahan herbal organik, ALI merupakan identitas nama inovator sebagai bentuk tanggung jawab profesional, dan D menunjukkan Dompu sebagai daerah asal inovasi.
“Sedangkan 2in1 menegaskan kombinasi dua bahan organik utama, yaitu dedaunan dan rempah, dalam satu formulasi pengendalian hama dan penyakit tanaman,” urai Alimunur, jebolan D4 (SST) Program Studi Penyuluhan Pertanian pada Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang, 2016. Sekarang berganti nama menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang.
Pendampingan dan pemberdayaan inovasi ini, jelas Alimunur, dilakukan melalui metode penyuluhan pertanian berbasis akar rumput. Melibatkan petani secara aktif, mulai dari pengenalan bahan, proses pembuatan, hingga aplikasi HERBALID 2IN1 di lahan.
Pendekatan ini menempatkan petani sebagai subjek penyuluhan, sehingga mendorong adopsi teknologi secara berkelanjutan dan memperkuat kemandirian usaha tani.
“Metode ini juga selaras dengan nilai kearifan lokal masyarakat Dompu yang menekankan kesesuaian antara niat, ucapan, dan tindakan. Kita kenal dengan moto Nggahi Rawi Pahu,” papar Alimunur.

Inovasi HERBALID 2in1, kelanjutan dari rekam jejak inovatif Alimunur sejak 2023. Pada tahun itu, dia berhasil meraih Juara I Inovasi Daerah melalui inovasi Pompa Hidram. Yakni alat pengangkat air manual, tanpa tenaga mesin yang memanfaatkan gaya dorong air.
Berkat inovasi ini juga, Alimunur mendapatkan Piagam Penghargaan dari Bupati Dompu yang saat itu dijabat H. Kader Jaelani.
Kemudian pada 2024, Alimunur kembali menempati peringkat pertama pada ajang Innovative Government Award (IGA) yang diselenggarakan Bappeda dan Litbang Kabupaten Dompu. Itu melalui Inovasi Ekoenzim sebagai pupuk alternatif pada tanaman hortikultura.
Pengumuman juara dilakukan pada momen Musrenbang Kabupaten Dompu 2025. Dirangkaikan dengan penyerahan piagam penghargaan dan dana pembinaan dari Bupati Dompu, Bambang Firdaus.
Selain mengembangkan inovasi pribadi, Alimunur juga menginisiasi budaya inovasi di kalangan PPL di Kabupaten Dompu. Sejumlah inovasi yang dikembangkan itu, antara lain, SATUTA (Satu Data Satu Atap) oleh Nurdin (PPL Desa Riwo, Kecamatan Woja).
Kemudian, Bionitrat dan TABELA NADA oleh Khairurrizaq (PPL Desa Mbawi, Kecamatan Dompu), Kultivator Fungsi Ganda oleh Edy Siokain (PPL Desa Temba Lae, Kecamatan Pajo), serta Pompa Air Berbahan Bakar LPG oleh Adi Nuryadi (PPL Kecamatan Hu’u).
Inovasi PPL tersebut, lanjut Alimunur, merupakan kunci keberhasilan penyuluhan pertanian di tingkat akar rumput. Sebab, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan program.
“Kehadiran PPL melalui inovasi-inovasi yang dimiliki sangat penting untuk membangun kemandirian petani dan kemampuan mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pendekatan penyuluhan berbasis akar rumput, kata Alimunur, HERBALID 2in1 diharapkan menjadi model pemberdayaan petani di Kabupaten Dompu. “Sekaligus memperkuat posisi inovasi lokal sebagai solusi nyata menghadapi tantangan pertanian dan anomali lingkungan hidup,” tandasnya. (ayi/adv)
