
Oleh: H.M. Amin, M.M.Pd *)
–
IMAM Al Gazali dalam Ihya Ulumuddin membagi manusia berdasarkan ilmu menjadi 4 bagian:
Pertama, seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu.
Golongan ini berasal dari kalangan ulama. Tentu ulama disini bukan sekadar orang yang memakai sorban dan memiliki jenggot.
Sekali lagi, bukan! Tapi ulama yang memiliki kedalaman ilmu yang bersanad, sikap dan tutur katanya selaras, merujuk pada Alquran dan Sunnah. Juga jauh dari sikap sombong dan membanggakan diri. Apalagi mencela, nggak mungkin dia lakukan. Kita pantas meneladaninya.
Kedua, seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu.
Golongan kedua ini sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Berilmu tapi tidak mau mengamalkannya (macan tidur).
Ketiga, orang yang Tidak Tahu (tidak berilmu) dan mengetahui bahwa ia Tidak Tahu.
Secara singkat, golongan manusia ketiga ini adalah mereka yang sedang dalam proses mencari ilmu. Golongan yang ketiga ini sangat hati-hati dalam berbicara dan bertindak. Tidak suka sembarangan, khawatir menyesatkan orang lain. Tidak saja pandai bernalar, tapi juga selalu menampilkan dalil sebagai penguatnya.
Dan, keempat, orang yang Tidak Tahu (tidak berilmu) dan tidak mengetahui bahwa ia Tidak Tahu.
Imam Al Gazali mengatakan, bahwa di antara jenis manusia yang paling buruk, jika dia tidak mengetahui kalau dirinya tidak berilmu.
Celakanya, model manusia seperti ini susah diingatkan, ngeyelan, selalu merasa tahu, memiliki ilmu, berhak menjawab semua persoalan, padahal ia tidak mengetahui apa-apa.
Kita dapat mengatakan kepada manusia golongan ini bahwa apa yang ia ucapkan lebih banyak menyesatkan karena tidak memiliki landasan keilmuan yang jelas.
Di era Refolusi Industri 4.0 yang ditandai oleh dominasi perkembangan teknologi infomatika digital berpengaruh sangat besar terhadap kebebasan masyarakat dalam berekspresi di berbagai Medsos (Fb, WA, IG, Youtube dan lainnya).
Hampir setiap orang tanpa ada batas. Semua merasa punya hak dan kapasitas untuk mengungkapkan pikiran pendapat dan berbicara di Medsos.
Tidak sedikit perdebatan masalah hukum agama (Fiqh) yang terjadi di tengah-tengah masyarakat terbawa sampai ke Medsos. Berbagai pikiran dan pandangan pribadi bermunculan, ikut nimbrung menorehkan tulisan berdasarkan pengalaman, prasangka (kira-kira), tanpa didukung referensi, dalil ataupun perkataan ulama.
Itulah tradisi masyarakat bermedsos. Masih jauh dari kaidah penulisan ilmiah (standar keilmuan), minim etika, dibumbui dengan sikap arogan. Menganggap semua hal bisa diselesaikan dengan nalar dan pendapat masing-masing. Ditambah lagi banyaknya simbol like dan dukungan, maka semakin merasa “hebatlah” Netizen tersebut.
Terkadang saking liarnya pendapat orang-orang awam menempati posisi lebih tinggi dari ijtihad ulama yang faqih dan saleh. Merekapun sangat berani menyalahkan ulama dengan pendapatnya akal pikirannya yang dangkal, na’uzubillahi minzalik.
Orang yang memiliki karakter tersebut, nabi menyebut dengan Al Ruwaibidhah
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalamnya orang yang berdusta dipercaya, sedang orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah, sedang orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat al-ruwaibidhah.” Ditanya, “Apa itu al-ruwaibidhah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia” (HR Ahmad).
Mari kita berlindung kepada Allah dari tabiat buruk yang tidak diridai oleh Allah dan Rasulnya. (*)
*) Penulis adalah Ketua Forum Umat Islam (FUI) Kabupaten Dompu.
