
Oleh: Suherman
SETIAP yang pergi meninggalkan, pasti akan dilepas dengan tangisan. Pun demikian setiap yang datang, pasti disambut dengan suka cita.
Demikian kira-kira menggambarkan suasana pelepasan purna tugas HBY-Arif (H. Bambang M. Yasin – Arifuddin) kemarin (Senin, 15/2) yang telah 10 tahun menakhodai Dompu.
Demikian juga, nanti suasana saat menyambut AKJ-Syah (Kader Jaelani – H. Syahrul Parsan) usai pelantikan dan resmi menjadi Bupati dan Wakil Bupati Dompu nantinya. Pasti akan disambut dengan suka duka dan bahagia.
Dua tahun (2012) setelah menjadi Bupati pada periode pertama adalah saat kali pertama saya bertemu langsung dengan HBY.
Saat itu usai acara HMI di gedung PKK, bersama degan Pak DR. Abdurrahman, anggota DPR RI dan stafnya, PB HMI dan pengurus HMI Cabang Dompu diajak oleh HBY ke Pendopo.
Di sanalah, saya banyak mendengar ide dan gagasan HBY tentang Dompu terutama dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Salah satu yang akan menjadi fokus kebijakannya adalah bagaimana agar seluruh masyarakat menanam jagung.
Benar saja, setelahnya program penanaman jagung itu sukses dan berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat. Meski disatu sisi, imbas dari kebijakan telah merusak lingkungan hidup, pohon ditebang dan hutan menjadi gundul.
Bicara soal jagung, HBY tidak pernah bergeming ketika dikritik dan malah semakin bersemangat. Dimana-mana dia bicara jagung bahkan di acara-acara pemerintahan yang semestinya membicarakan hal lain sekalipun, saking semangatnya, HBY kerap kali “keselo lidah”.
Ketika dikritik soal gundulnya hutan, HBY berkilah “Saya hanya menyuruh masyarakat menanam jagung, bukan merusak hutan atau menebang pohon.”
Saat maraknya peredaran Narkoba, dia juga pernah berseloroh di media bahwa pembelian Narkoba itu menandakan ekonomi masyarakat meningkat karena jagung.
Pun saat dikritik soal macetnya jalanan di Pasar Atas Dompu, HBY pun menanggapi bahwa kemacetan itu karena masyarakat banyak uang untuk membeli kendaraan bermotor akibat dari keberhasilan program jagung.
Itulah HBY, soal jagung. Dia begitu “keras kepala”. Meski sendirian, dia berani pasang badan, mati-matian membela dan mempertahankan kebijakannya itu.
Pada saat yang sama, HBY juga telah sukses dan berhasil membangun infrastruktur sarana dan prasarana strategis. Membangun jembatan dan jalan, gedung-gedung pemerintahan, bendungan dan infrastruktur lainnya.
Karena keberhasilan proyek jagung dan pembangunan infrastruktur itu, Dompu kemudian dua kali telah dikunjungi Presiden RI, Joko Widodo dan beberapa kali oleh menteri serta kepala daerah di Indonesia yang datang untuk studi banding.
Sungguh capaian yang impresif, tidak mudah menghadirkan presiden dan menteri di daerah yang kecil ini. Jika tidak ada sesuatu yang menarik.
Berkah jagung, HBY juga telah mendapat prestasi, dinobatkan sebagai kepala daerah terbaik bahkan di Asia Tenggara dan beberapa kali mendapat penghargaan baik dari kementerian/lembaga maupun LSM.
Karena program jagung itu jualah, dia digelari atau dipanggil Profesor Jagung. Luar biasa!!
Namun sayang, ditengah fokus membangun dua hal di atas, ekonomi dan pembangunan infrastruktur sarana prasarana, HBY lupa membangun hal lain. Yakni sebagaimana menjadi visi, misi dan programnya baik pada periode pertama terlebih pada periode kedua.
Diantaranya, soal mewujudkan pemerintahan yang bersih, baik dan bebas KKN, reformasi birokrasi dan pelayanan publik, membangun masyarakat yang religius, melestarikan lingkungan hidup dan tata kota yang asri bebas sampah.
Meski demikian, dalam hal tata kelola dan pelaporan keuangan daerah serta penataan aset, dimasa HBY, Dompu mampu meraih WTP berturut-turut sejak tahun 2015 sampai tahun 2020.
Saat HBY sibuk dengan proyek jagung dan pembangunan infrastruktur, dia lupa pada Birokrasi yang butuh pendekatan dan pembinaannya. Kalau dalam romantisme, birokrasi itu juga butuh belaian dan kasih sayang.
HBY lupa memberikan reward terhadap aparatur yang berkinerja baik dan memberikan punishment kepada aparatur yang berkinerja buruk.
Tak pelak, penempatan jabatan bukan berdasarkan pangkat, golongan dan kompetensi, namun berdasarkan “transaksi”, kedekatan saudara dan kroni. Banyak jabatan yang lowong dan di-Plt-kan sehingga pemerintahan tidak berjalan efektif, efisien dan bebas KKN.
Dalam pada itu, HBY dapat dikatakan sebagai sosok yang one man show. Sosok yang hanya ingin nampak berjalan sendiri di atas pangung.
Ini dapat dilihat, selain melupakan birokrasi. HBY juga melupakan atau kalau tidak mau dikatakan meninggalkan wakilnya.
Selama dua periode hubungan dengan wakilnya tidak pernah harmonis, tidak pernah sejalan dan seirama. Wakilnya hanya menjadi “ban serep” dan jabatan apabila. Benar-benar one man show!!
Secara politis, HBY berbeda dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Biasanya di daerah lain, selain sebagai kepala daerah, juga sebagai pimpinan parpol di daerahnya.
Akan tetapi HBY telah memposisikan diri sebagai “ama rasa” untuk semua Parpol di Dompu. Meski menjadi dewan pembina salah satu parpol, kiprahnya tidak begitu nampak.
Terakhir, sebagai pemimpin yang dilahirkan melalui proses demokrasi. HBY, begitu menjaga dan menghargai demokrasi.
Begitu banyak yang telah mengkritik dengan menghujat atau bahkan mencaci makinya. Namun, tak satupun yang dilaporkannya ke Aparat Penegak Hukum.
Saya pribadi selama kurang lebih delapan tahun mengenal dan beberapa kali berinteraksi dengan HBY di pemerintahan menyampaikan ucapan terima kasih atas dedikasinya selama sepuluh tahun memimpin Bumi Nggahi Rawi Pahu.
HBY sebagai pribadi dan Bupati tentu tidak-lah sempurna. Pasti ada kelebihan dan juga pasti ada kekurangan-kekuranganya. Kelebihannya tetap dikenang dan seharusnya diteruskan oleh pemimpin selanjutnya. Keburukannya, dilupakan dan ditinggalkan serta sebaiknya dimaafkan.
Terima kasih HBY. (*)
*) Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Politik Dompu.
