
Oleh: Fairuz “Abu Macel” *)
–
TAK bisakah kalian menawarkan diri untuk memimpin kami dengan pertimbangan keilmuan?
Bukan karena pertimbangan partisan atau kedekatan personal?
Apalagi dengan dalih SARA?
Apakah karena partai ini dan itu?
Atau karena kami dekat sehingga kami seolah terpaksa memilih kalian?
Jika demikian, bagaimana nasib saudara kami yang tak berpartai atau yang tak dekat dengan kalian?
Apakah karena kami tak dekat dengan kalian lantas hanya partai politik itu yang kalian gunakan untuk merayu kami?
Ataukah sekelompok orang tertentu saja yang kalian dekati dengan cara memanjakannya melalui bantuan disertai alasan pembenar yang masuk akal?
Bukannya kami tak percaya dengan kalian lho…. Tapi kan, kalian sendiri yang menyediakan ruang kepada kami untuk tak percaya dengan kalian. Bukannya kami tak mau dekat dengan kalian, tapi faktannya kalian saja yang tak sudi didekati kalau sudah terpilih. Lain di bibir lain di hati. Omongnya bilang sayang, nyatanya malah ngemplang…
Katanya kalian mencintai kami. Nyatanya, disapa saja kalian buang muka. Katanya kalian mewakili kami. Nyatanya tak mau mendengar kami. Katanya kalian dipilih oleh kami, nyatanya hanya mementingkan mereka saja. Katanya damai, nyatanya ngajak berantem. Katanya gini…. nyatanya gitu… Katanya begitu…. nyatanya begini….. Katanyaaa… Nyatanyaaaaaaaa…………!!!
Sejak reformasi bergulir, hampir di setiap jengkal tanah nusantara ini, masyarakat merindukan pemimpin yang lahir dari rahim bumi sendiri. Itu terwujud. Tak ada satupun Gubernur, Bupati atau Wali Kota yang tak berasal dari tanah kelahirannya.
Dalam perjalanannya, tak semua berjalan mulus. Ada yang diterpa isu korupsi dan digoyang isu ranjang, hingga akhirnya lengser dari tahta kekuasaan. Bahkan ada diantaranya yang beristirahat di bilik penjara.
Demikian juga dengan isu etnis yang menjadi bumbu penyedap dalam proses pemilihan kepala daerah. Isu ini menjadi makanan empuk bagi sejumlah kalangan dalam mengisi menu obrolan sepanjang satu dasawarsa. Tak sedap rasanya jika setiap obrolan tak dibumbui isu ini.
Kini, isu etnis sudah mulai tak layak jual dalam konstelasi politik lokal saat ini. Meski sebagian Timses secara diam-diam menggunakan menu kesukuan dalam menawarkan sang calon dan tak sedikit pula secara diam-diam masyarakat menolaknya. Mereka tak ingin peristiwa demokrasi ini menciderai rasa aman dalam bersaudara, dalam bertetangga, dalam bermasyarakat. Itulah kesadaran yang mulai terasa.
Kendati demikian, tak sedikit pula di antara warga terpenjara oleh perilaku politisi yang mempolitisir mereka dengan memanfaatkan keterbatasan pengetahuan warga tentang politik dan demokrasi. Ada yang mengumbar janji laksana lelaki gombal merayu wanita. Janji kedudukan dan jabatan serta materi dikunyah bagai makanan siap saji yang menggugah selera.
Birokrat pun demikian. Mesin pemerintahan ini menjadi terganggu lantaran sebagian diantaranya tak mau ketinggalan memperoleh jabatan dengan cara instan.
Birokrat yang berposisi nyaman dalam jabatan akan berupaya menemukan pembenaran untuk mendukung sang calon incumbent misalnya. Birokrat lainnyapun tak kalah gesitnya mendukung calon lain dengan janji jabatan yang bergengsi.
Pemimpin masyarakat dalam setiap tingkatan turut pula mendendangkan nyanyian politik demokrasi sesuai dengan syair yang difahami secara parsial dan terkotak-kotak.
Pemimpin Ormas, etnis dan suku serta pemimpin komunitas kecilpun sudah menjadi raja di tengah kelompoknya. Masyarakat terurai berserakan di tengah lapang negeri yang kian panas menyengat.
Hampir tak ada ruang kesejukan terdengar dalam setiap obrolan di media modern dan tradisional. Semua mengisinya dengan sajian pembenaran sendiri-sendiri.
Masyarakat tak dididik untuk memilih berdasarkan pertimbangan keilmuan yang teduh dan menyejukkan. Meski sesekali terasa panas, namun segera dingin oleh senda gurau pemimpin yang berilmu.
Pemimpin yang berilmu tentu akan menawarkan pemikiran yang mencerdaskan. Komentar dan pernyataannya tak menciderai perasaan lainnya. Menawarkan kebenaran dengan cara yang santun, itulah pemimimpin tegas. Mengayomi, melindungi, menemani. Serasa bagai seorang sahabat yang saling menyediakan ruang diantaranya.
Dengan demikian, masyarakat akan terlatih mengelola potensi yang dimilikinya. Bukankah ini cita-cita kita bersama dalam menemukan pemimpin yang diinginkan?
Nah… mengapa pemikiran ini disajikan? Tentu tak lepas dari keinginan agar masyarakat dapat duduk bersama di atas tanah pulau negeri yang bergandengan mesra ini tanpa melihat suku dan ras serta asal muasal.
Kita memang sudah berbeda. Itulah fakta. Berbeda itu hak, namun jangan sampai hak untuk berbeda mengalahkan kewajiban untuk bersatu. Itulah ilmu kehidupan. Kewajiban menuju bersatu inilah yang dikelola oleh pemimpin berilmu dalam semua tingkatan.
Untuk menuju kenyang diperlukan makan. Dalam memilih makanan tentu punya selera yang beragam. Ada Bubur Ayam, Makanan Kaleng dan adapula Sayur Bening.
Tapi, dalam memilih pemimpin, jangan sekali memilih jenis Bubur Ayam. Hanya enak disantap saat panas saja, setelah dingin bisa bikin nek bin anyir. Sedangkan jenis makanan kaleng, tentu lebih rumit. Harus disimpan di ruang bersuhu seimbang, pake bahan pengawet. Pemimpin jenis ini akan menghabiskan anggaran dalam menjaganya.
Yang perlu dicari adalah pemimpin jenis Sayur Bening. Bahannya mudah diperoleh, dekat di sekitar kita. Bumbunyapun tak runyam. Direbus dengan air dan garam secukupnya. Kemudian dimakan saat dingin maupun panas tetap bergizi. (*)
*) Penulis adalah pengasuh rubrik humor “Jenaka Bermakna” di Lakeynews.com yang akan dimulai pekan depan.
