
Oleh: Abdul Mufakhir, S.Psi, M.Ak *)
Menggunakan masker saat berpergian, menjaga jarak saat beraktivitas adalah sesuatu yang sebelumnya kita tidak bayangkan akan menjadi suatu kebiasaan yang harus dilakukan saat ini.
Bagi kita masyarakat umumnya berkumpul dan bercengkerama dengan sahabat dalam suasana kesehajaan kebersamaan merupakan kebiasan yang sudah lazim dilakukan.
Acara-acara hajatan yang berkerumun warga yang banyak menjadi pola hidup sosial masyarakat. Tapi tidak pernah terbayangkan sebelumnya bila kebiasaan tersebut harus kita tinggalkan dan tergantikan dengan kebiasaan baru, dimana menjaga jarak saat beraktivitas, cuci tangan, menghindari kerumunan, memakai pelindung masker tiap hari, merupakan menu keseharian yang harus dijalani sebagai sebuah pola dalam tatanan kehidupan baru kita. Meskipun pola baru tersebut terlihat tidak normal, namun itulah tuntutan menuju transisi ke tatanan kehidupan new normal.
Sejak kemunculannya per 24 Maret 2020 di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) telah menyebar begitu cepat, data terakhir tercatat sudah 798 terinveksi positif corona, dimana 335 dinyatakan sembuh dan 22 meninggal. Angka ini akan terus bertambah seiring belum jelas kapan virus ini akan berakhir dan ketidakjelasan vaksin obat penyembuh virus tersebut.
Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan menyebutkan bahwa virus corona hanya akan menjadi endemic virus pada komunitas lingkungan kita, dan kemungkinan virus corana tidak akan pernah hilang. Sehingga banyak negara menerapkan langkah menuju transisi ke kehidupan “the new normal” untuk bisa beradaptasi dengan kondisi ditengah pandemi virus corona yang belum jelas kapan akan berakhir, sementara vaksin belum ditemukan. Selain itu, prilaku manusia juga terus menyesuaikan dengan keadaan zaman, termasuk dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya, keagamaan, ekonomi dan politik.
New normal merupakan istilah untuk tatanan kehidupan baru guna menyesuaikan prilaku hidup sehat ditengah pandemi virus corona. Menuju transisi ke arah tatanan kehidupan baru tersebut, ada beberapa protokol kesehatan yang harus dipenuhi menurut WHO agar bisa menerapkan new normal.
Pertama, suatu wilayah/daerah angka penyebaran virus atau reproduksi dasar penyakit (R0) kurang dari satu atau memiliki tingkat penularan yang rendah.
Kedua, kesiapan sistem kesehatan apabila suatu waktu terjadi lonjakan kasus baik dari fasilitas kesehatan maupun kesiapan tim dalam melakukan pendeteksian dini, pelacakan kasus dan kontak.
Ketiga, kondisi sosial masyarakat terutama tingkat kedisiplinan masyarakat.
Dan, keempat, jumlah tes yang memadai sehingga tidak ada lagi tumpukan antrean sampel di laboratorium dan stok reagen aman untuk 1-2 bulan kedepan.
Memperhatikan protokol kesehatan tersebut tentu masih banyak persyaratan yang harus dipenuhi agar bisa menuju transisi ke new normal. Beberapa wilayah di Provinsi NTB khususnya Pulau Lombok saat ini transmisi lokal masih terus terjadi, sehingga penyebarannya begitu massif dan masih belum bisa dikendalikan.
Wilayah Pulau Sumbawa, seperti Kabupaten Sumbawa, Sumbawa barat, Kabupaten dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima fasilitas kesehatan masih belum memadai untuk mengantisipasi bila terjadi lonjakan pasien Covid-19.
Selain itu, jumlah pengetesan masal untuk Covid-19 di NTB masih sangat minim dengan kapasitas 5 laboratorium untuk pemeriksaan masih belum memadai untuk wilayah NTB yang luas dan jumlah penduduk yang terinveksi terus bertambah banyak.
Faktor lain yang menghambat proses transisi ke new normal adalah perbedaan pandangan di tengah masyarakat tentang virus corona. Perbedaan ini menjadikan polemik tersendiri yang memengaruhi efektivitas pemutusan mata rantai Covid-19.
Banyak di antara masyarakat masih percaya bahwa virus tersebut adalah rekayasa dengan berbagai rasionalitas yang disampaikan. Para penganut teori konspirasi ini kebanyakan hadir dari kalangan pendidikan non medis dan memiliki pendidikan relative minim.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistic Provinsi NTB, persentase masyarakat usia 15 tahun keatas yang berpendidikan tinggi di NTB berkisar 8,91 persen dan 24,21 persen merupakan tamatan SMA/sederajat. Sisanya, berada pada jenjang pendidikan di bawahnya.
Keberagaman tingkat pendidikan, kesejahteraan masyarakat, budaya dan agama akan memberikan sumbangsih terhadap penerimaan terhadap suatu informasi.
Pemahaman-pemahaman yang keliru di tengah masyarakat akan sangat mudah menyebar di kalangan masyarakat, apalagi di era digital seperti sekarang. Pemahaman yang keliru akan Covid-19 akan memengaruhi ketaatan seseorang dalam melaksanakan protokol kesehatan. Pola pikir menjadi kunci bagi perubahan suatu perilaku, karena prilaku ditentukan oleh alam berpikir seseorang.
Sudah selayaknya pemerintah serius dan terus melakukan sosialisasi guna memberikan pemahaman yang utuh terkait keberadaan Covid-19 ini, sehingga terbentuk keseragaman pemahaman dalam berjuang untuk keluar dari pendemi ini.
New normal adalah sebuah keniscayaan yang harus dijalani kedepan dan proses transisi harus tetap berjalan. Meski kondisi seperti ini merupakan ketidaknormalan dalam transisi ke new normal, kita harus terus melangkah menuju arah kehidupan baru yang lebih ketat dengan protokol kesehatan.
Masyarakat harus sadar bahwa virus corona ada di tengah-tengah kita dan akan terus ada sampai waktu yang belum pasti, maka kehidupan kedepan tidak akan sama dengan setelah new normal diberlakukan.
Era baru telah tiba di depan kita dengan sebuah pilihan apakah kita akan siap untuk sebuah perubahan atau kita akan musnah karena kita tidak mampu beradaptasi dengan tata kehidupan baru seperti dalam teori evolusi dalam buku “on the origin of species” dimana yang mampu beradaptasi dengan alam itulah yang mampu melanjutkan kehidupan. (*)
*) ASN BPS Kabupaten Bima.
