
CATATAN: Sarwon Al Khan, Dompu
TULISAN ini bukan untuk menggurui. Juga bukan ruang memuji diri. Namun, sebagai pengingat bagi diri dan semuanya.
Semangatnya, meminimalisir kemudharatan, mendorong kemaslahatan, memupuk persaudaraan, mengawal kedamaian, serta merawat nilai-nilai kritis konstruktif. Mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran (disclaimer).
Meski –ibarat anak– masih merangkak dan berusaha tumbuh, sebentar lagi Lakeynews memasuki usia 10 tahun. Persisnya, 17 November 2026.
Media Pers yang bermarkas di Kabupaten Dompu ini didirikan pada Kamis, 17 November 2016. Visi sekaligus motonya, menjadi Jembatan Kemakmuran dan Transparansi. Diaplikasikan melalui pemberitaan-pemberitaan yang Faktual, Kritis, dan Tajam.
Visi plus moto itu dipersiapkan dan akan menjelma menjadi “kuburan” bagi Lakeynews sendiri dan orang-orang di dalamnya jika berani secara sengaja menyimpanginya.
Sebagai “penganut” Jurnalisme Damai, Lakeynews benar-benar bersemangat mengawal kedamaian. Pengawal kedamaian di wilayah Dompu dan Bima khususnya, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Indonesia umumnya.
Jurnalisme Damai, pada prinsipnya adalah praktik jurnalistik yang memberitakan sesuatu –terutama konflik atau dinamika– secara berimbang. Menghindari provokasi (media tidak menjadi provokator), tidak memperkeruh keadaan, mengutamakan fakta, solusi, serta upaya perdamaian dan kemaslahatan.
Itu juga sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) berisi 11 pasal yang disepakati gabungan organisasi pers pada 14 Maret 2006. Kemudian, diputuskan dan disahkan oleh Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 tentang Pengesahan Keputusan Dewan Pers Nomor: 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik sebagai Peraturan Dewan Pers, tanggal 12 Mei 2008.
Seiring dengan itu, di awal berdirinya, Lakeynews hadir dengan pembatasan pemberitaan terhadap tiga hal sekaligus. Yaitu pemblokiran jalan, penyegelan/perusakan fasilitas umum, dan perkelahian antarkampung.
Lakeynews tidak mem-follow up peristiwa-peristiwa tersebut. Ruang besar pemberitaan terhadap tiga hal itu adalah dampak dari peristiwanya, korban dan kerugian yang ditimbulkan.
Selain itu, mendorong pihak terkait menyelesaikan masalah, mendorong aparat penegak hukum agar mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Mengapa pemblokiran jalan, penyegelan/perusakan fasilitas umum, dan perkelahian antarkampung tidak diberi ruang pemberitaan yang cukup di Lakeynews?
Tentu lihat masalah dan konteksnya dulu. Jika peristiwa itu terjadi hanya karena persoalan sepele, Lakeynews tidak akan memberitakannya. Memberitakan, sama dengan mendukungnya. Kecuali pemberitaan yang menyoroti peristiwanya.
Alasannya, tidak mungkin kita dukung aksi pemblokiran jalan di salah satu titik jalan nasional hanya karena (misalnya) masalah dua remaja lalu mengorbankan kepentingan jutaan manusia yang menggunakan jalan tersebut.
Alasan yang sama juga pada penyegelan/perusakan fasilitas umum, dan perkelahian antarkampung. Terhadap aksi dan penyampaian aspirasi secara damai, serta tidak merugikan kepentingan umum, harus didukung media.
Situasi aman, kondisi damai, rasa nyaman tercipta manakala para pihak sadar dengan posisi masing-masing, komitmen pada tugas dan tanggung jawab yang diembannya.
Hal-hal tersebut sangat berkontribusi pada aman-tidaknya, damai-tidaknya kehidupan masyarakat dan pemerintahan di daerah maupun negeri ini.
Misalnya berbagai dugaan, anggota yang DPRD tidak aspiratif; oknum APH yang tidak profesional, tidak adil, terima suap, kasus atensi publik tidak tuntas, Narkoba merajalela, serta sebagian kurang responsif terhadap suatu informasi masyarakat.
Bisa juga pemimpin daerah yang diskriminatif; kepala-wakil kepala daerah yang tidak akur. Bukan tidak mungkin rakyat akan ikut-ikutan “bermusuhan”. Antarpendukung tidak akur satu sama lain.
Oknum media pers dan aktivis LSM yang arogan dan “nakal”. Media beritakan sesuatu tanpa memikirkan dampak, oknum LSM dan wartawan “nakal” mungkin melakukan praktik-praktik intimidatif, provokatif dan pemerasan. Oknum atau kelompok masyarakat arogan, sedikit-sedikit blokir jalan, ribut, berkelahi antarsesama.
Jika semua itu terjadi dan dibiarkan, apalagi dalam waktu yang lama, diyakini akan menjadi “bom waktu” yang setiap saat bisa meledak. Meluluhlantakkan semuanya.
Akhirnya, pesan moral dalam tulisan ini, jurnalisme damai adalah harga mati bagi Lakeynews. Tidak ada yang lebih penting dari melestarikan kondisi aman, memupuk kedamaian sesama dan daerah.
Mengurangi ego maupun arogansi, meningkatkan solidaritas dan toleransi pada kebaikan. Menyadari posisi dan menjalankan amanah sesuai ketentuan, sesuai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) masing-masing.
Damai Dompu-Bima, Damai NTB, Damai Indonesia. Semoga. Aamiin. (*)
