Sekolah Lapang yang dilaksanakan BPP Kilo, Dompu, di hamparan So Unti, lahan Poktan Tolo Unti Desa Malaju, Jumat (1/10) sore. Koordinator BPP Kilo Kaharudin, SST, memaparkan materi penyuluhan (kiri). (ist/lakeynews.com)

DOMPU, Lakeynews.com – Satu lagi kreativitas luar biasa ditunjukkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, NTB. Dibawa Koordinator Kaharudin, SST, BPP ini melakukan penyuluhan pertanian dengan metode yang jarang dipakai namun cukup efektif.

Sekolah Lapang. Itulah nama metode itu. Bedanya dengan metode penyuluhan lain, Sekolah Lapang lebih komplit. Karena dilakukan dari awal budaya sampai akhir budaya diajarkan. Dari olah lahan, pindah tanam, pemupukan, perawatan, pengendalian hama penyakit, panen dan pascapanen.

“Jadi pendampingannya dilakukan dari awal hingga akhir,” kata Kaharudin pada Lakeynews.com, Sabtu (2/10) sore.

Pada Jumat (1/10) sore lalu, pria yang akrab disapa Dae Iron itu memboyong beberapa Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Baik dari BPP Kilo maupun dari kecamatan lain, seperti Heru dan Nurdin.

BPP Kilo menggelar kegiatan manajemen irigasi partisipatif terintegrasi itu berlangsung di hamparan So Unti yang merupakan lahan Kelompok Tani (Poktan) Tolo Unti Desa Malaju.

PPL Desa Malaju Yuli Yuningsih, SST, pengurus dan anggota Poktan Tolo Unti dan petani lainnya, hadir di sana saat itu.

“Sekolah Lapang ini merupakan salah satu metode penyuluhan pertanian dalam mengubah prilaku petani untuk memperbaiki usaha taninya, sehingga lebih optimal,” jelas Dae Iron.

Pelaksanaan Sekolah Lapang dengan memaparkan materi penyuluhan tentang pemupukan jagung berimbang, pengendalian hama dan penyakit tanaman jagung.

Selama ini, diakuinya, petani kurang menerapkan pemupukan berimbang untuk budidaya jagung. Akibatnya, produktivitas menurun.

“Jadi, tujuan penyuluhan ini agar petani mau dan mampu menerapkan pemupukan, pengendalian hama dan penyakit pada tanaman jagungnya,” paparnya.

Selain masalah tersebut, lanjut pria dengan ciri khas gondrong ini, ketergantungan terhadap pupuk kimia masih sangat tinggi. “Saatnya kita mengurangi ketergantungan itu dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan melalui pembuatan pupuk organik cair maupun padat,” ajak Dae Iron.

Kegiatan itu juga diisi dengan diskusi, tanya-jawab, usul, saran dan harapan.

Salah satunya datang dari Ketua Poktan So Tolo Unti Taufik. Dia berharap kepada pemerintah melalui PPL maupun BPP agar bantuan benih yang disalurkan kepada petani dari benih varetas unggul.

“Dengan demikian kami para petani akan mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Sehingga sesuai harapan,” pinta Taufik.

Peserta Sekolah Lapang yang lain mengusulkan agar pada pertemuan berikutnya, para petani diberikan materi pelatihan tentang penerapan pemupukan berimbang dan demonstrasi cara pembuatan alat pemupukan sederhana. “Sehingga pupuk tepat sasaran dan tepat dosis,” kata mereka.

Menanggapi hal tersebut, Kordinator Penyuluh BPP Kilo Kaharudin, meminta secara khusus kesediaan penyuluh Heru dan Nurdin agar memberikan pelatihan kepada peserta pada pertemuan berikutnya.

Bak gayung bersambut. Harapan Dae Iron tersebut, langsung direspons oleh dua penyuluh itu. “Insya Allah kami siap membantu dengan segala kemampuan yang kami miliki,” ujar Heru didampingi Nurdin. (ayi)