Kapolda NTB Irjen Pol Mohammad Iqbal, turut menyaksikan para pihak menandatangani MoU dukungan pada Ditresnarkoba menuju “Zona Integritas, Zero Narkoba dan No Korupsi”. (ist/lakeynews.com)

Sejumlah Elemen Tanda Tangani Dukungan, Termasuk Wartawan Hukrim

.

MATARAM, Lakeynews.com – Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda NTB sangat serius menuju “Zona Integritas, Zero Narkoba dan No Korupsi”.

Salah satu bukti keseriusan itu ditunjukkan pada Kamis (22/4) sore. Ditresnarkoba mengajak berbagai elemen, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman di Tribun Lumbung Lapangan Bhara Daksa Mapolda NTB.

Penandatanganan MoU itu disaksikan Kapolda NTB Irjen Pol Mohammad Iqbal, S.IK, MH. Perwakilan berbagai pihak yang mendukung Zona Integritas Ditresnarkoba Polda NTB menuju NTB Zero Narkoba dan Wilayah Bebas Korupsi (WBK), membubuhkan tanda tangan pada piagam MoU dan bentangan karton ukuran jumbo.

Mereka yang membubuhkan tanda tangan, selain Direktur Resnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma PR, S.IK, MH, juga kepala BNNP NTB, kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Mataram, kepala Bea dan Cukai NTB, perwakilan BPOM dan Ombudsman Perwakilan NTB, serta kepala Dinas Sosial NTB.

Selain itu, ikut membubuhkan tanda tangan adalah perwakilan tokoh agama dan perwakilan media, terutama unsur wartawan atau pewarta hukum dan kriminal NTB.

Ketika memberikan sambutan, Kapolda mengapresiasi langkah Ditresnarkoba di bawah kepemimpinan Kombes Helmi Kwarta Kusuma dalam memperkuat dukungan sebagai komitmen mewujudkan NTB Zero Narkoba dan Wilayah Bebas Korupsi (WBK).

Namun, Kapolda tegaskan, gagasan ini tidak bisa berhenti sampai penandatanganan zona integritas saja. Yang lebih susah adalah aplikasinya di lapangan.

“Saya sangat mendukung adik saya (Kombes Helmi, red) ini, menjadikan NTB zero Narkoba,” imbuhnya.

Dikatakan, Narkoba merupakan musuh yang paling besar dan menjadi momok di semua belahan dunia. Terlebih masalah Narkoba ini telah menelusup pada sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.

Karena itu, menurutnya, menangani dan menyelesaikan persoalan Narkoba harus dilakukan secara masif, dengan mengandeng berbagai entitas.

“Narkoba ini by design. Ini membutuhkan penanganan serius dan harus bergandengan tangan dengan entitas masyarakat yang lain. Tidak bisa hanya dengan bergerak sendiri,” ujar mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu.

Perwira Tinggi (Pati) Polri bintang dua itu menjelaskan, dalam upaya mewujudkan zona integritas zero Narkoba dibutuhkan orang yang tepat, termasuk orang yang memiliki integritas dan tekad kuat.

“Mungkin diperlukan adanya the man behind the gun (pria di belakang pistol, red), atau bahkan the country behind the gun (negara di balik pistol, red),” ucapnya.

Kapolda NTB Irjen Pol Mohammad Iqbal, Direktur Resnarkoba Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma PR dan beberapa pejabat terkait. (ist/lakeynews.com)

Rehaber Diberi Keterampilan agar tak Balik Lagi ke Narkoba

Sebelumnya, Dirresnarkoba Kombes Helmi mengatakan, penandatanganan MoU itu terinspirasi dari hasil monitoring dan evaluasi (Monev) terhadap kinerja dan pengalaman Ditresnarkoba Polda NTB, beberapa tahun terakhir.

“Banyak tangkapan kami, pelaku dan sudah melaksanakan rehabilitasi. Setelah menjalani rehab malah masuk penjara lagi. Artinya, ada yang belum tuntas dalam penanganan para rehaber ini,” kata Kombes Helmi.

Disebutkan, salah satu pemicu rehaber (orang yang direhabilitasi, red) kembali melakukan aktivitas sehingga direhab, karena setelah menjalani rehabilitasi si-rehaber tidak memiliki pekerjaan dan pendapatan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Pun kondisi yang sama dialami mantan narapidana kasus Narkoba yang keluar dari penjara.

“Mereka tidak punya sumber benefits (manfaat atau keuntungan) untuk biaya hidup bersama keluarganya. Nah, kami sedang mencari format, berupaya agar setelah menjalani rehab mereka tidak lagi kembali ke dunia itu (jaringan Narkoba, red),” ucapnya.

“Itu sebabnya kami mengajak stakeholder lain, termasuk lembaga rehab Aksi NTB dan Yayasan Lentera Hati NTB,” tambah Kombes Helmi.

Pamen Polri tiga melati itu juga menyampaikan, pihaknya didukung komunitas Pemuda Mandiri. Yakni kumpulan para sarjana pembuat suatu peralatan untuk menghasilkan suatu produk, yang nantinya diperuntukkan bagi rehaber Narkoba.

Rehaber nantinya akan dibina, diberi pelatihan keterampilan, dilatih menjadi orang yang terampil dan memiliki skill mumpuni. “Jadi, setelah menjalani rehab, kami berharap mereka tidak lagi kembali ke dunia Narkoba dan punya sumber benefits untuk membiayai hidup diri dan keluarganya,” jelas Helmi. (tim)