“Pemimpin itu menempatkan rakyat sebagai momongan, sedangkan pembesar menempatkan rakyat sebagai kawula (bawahan).” Wiranto, Menkopolhukam RI.

Mengkopolhukam RI Jenderal (Purn) Wiranto. (foto istimewa/lakeynews.com)

JAKARTA, Lakeynews.com – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Mengkopolhukam) RI Jenderal (Purn) Wiranto berbicara secara khusus mengenai kepemimpinan. Di hadapan ratusan peserta/siswa Sekolah Pemimpin Nasional (SPN) Cendekiawan Muslim Indonesiia (ICMI) Pusat, dia menegaskan, pemimpim itu tidak hanya dilahirkan tapi dibentuk.

Menurutnya, pada saat demokrasi belum matang, faktor keturunan juga pemimpin itu dilahirkan. Negara memberikan peluang kepada partai politik (parpol) untuk membentuk seseorang menjadi pemimpin maka parpol akan melakukan proses kemudian diseleksi melalui Pemilu. “Outputnya menjadi promosi jabatan,” ungkapnya.

Jenderal bintang empat ini juga menegaskan, jika seorang pemimpin menempatkan diri sebagai pembesar maka tidak sedikit di antara mereka itu yang berurusan dengan KPK.

Wiranto kemudian secara gamblang memaparkan perbedaan antara pemimpin dan pembesar. “Pemimpin itu menempatkan rakyat sebagai momongan, sedangkan pembesar menempatkan rakyat sebagai kawula (bawahan),” papar seraya juga mengungkapkan, apa yang dilakukannya saat ini adalah dalam rangka menuntaskan pengabdian.

Bagi Wiranto yang juga Ketua Umum Hanura ini, prinsip-prinsip dalam memimpin yakni dengan STMJ (Sadar, Tahu, Mau dan Jujur).

STMJ dimaksud, seorang pemimpin harus Sadar bahwa jabatan itu adalah anugerah Allah SWT, harus Tahu apa yang harus dilakukan, harus Mau dan mampu melakukan aksi, serta seorang pemimpin harus Jujur kepada Allah SWT, diri sendidi dan organisasi. (nas)