Salah satu Ketua MUI Kabupaten Dompu H. Moh. Nasuhi, M.Si (kiri), Amir JAS Nusra Kabupaten Bima Ustaz Mujahidul Haq, S.PdI (atas) dan Ustaz Harits Kusfi, Lc. (ist/lakeynews.com)

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 2021 Masehi, mundur sehari. Semula Selasa, 19 Oktober, diundur ke Rabu, 20 Oktober.

Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, Nomor: 060/128/ORG, tanggal 25 Juni 2021.

Terlepas dari mundurnya waktu sehari tersebut, pelaksananaan peringatan Maulid Nabi akhir zaman masih menjadi pro-kontra bagi beberapa umat muslim.

Mendasarkan argumen dengan landasan dan dar masing-masing, sebagian beranggapan boleh, tidak ada masalah dan sah-sah saja melaksanakannya. Sebagian lagi menganggap tidak boleh dan dilarang.

Tetapi kalangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menengahinya. Mereka berpendapat dan berpandangan, bahwa apapun dilakukan jika itu mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syariat agama, hal itu sah-sah saja dilakukan. Termasuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Amir Jamaah Ansharusy Syariah (JAS) Nusa Tenggara (Nusra) Kabupaten Bima Ustaz Mujahidul Haq, S.PdI, menghargai perbedaan pendapat dan sikap dalam memperingati hari kelahiran Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW).

“Saya bersikap menghargai perbedaan pendapat para ulama dalam hal ini. Makanya tidak menvonis yang merayakan maulid paling benar. Juga tidak memvonisnya bid’ah atau sesat,” tegasnya pada Lakeynews.com via pesan WhatsAPP-nya, Rabu (20/10).

Pria yang akrab disapa Ustaz Mujahid itu mengungkapkan, hikmah besar dengan memperingati maulid adalah umat Islam banyak bersholawat. Pengajian akan kebesaran, akhlak, suritauladan yang baik kepada Nabi Muhammad SAW.

“Sehingga dengan peringatan itu, kita semakin cinta, menghayati, mengikuti perjalanan nabi dari sejak lahir sampai beliau meninggal,” jelasnya.

Umat Islam, lanjutnya, jangan sampai terjebak dan menseriusi perbedaaan boleh-tidaknya memperingati maulid, sehingga terjadi perpecahan, saling menjauhi dan saling mencela antarumat Islam.

Yang dibutuhkan, menurut Ustaz Mujahid, persatuan umat Islam, bukan perpecahan. Umat Islam yang berbeda dalam menyikapi perayaan maulid diikat dengan kesatuan dan kesamaan Kalimat Syahadat, Rukun Islam 5, Rukun Iman 6, nabi kita sama dan lainnya.

“Semoga kita saling memahami dalam menyikapi perbedaan,” tutur pengasuh Ponpes As-Salam Dompu itu seraya berharap kiranya pendapatnya dapat bermanfaat.

Sementara itu, Ustaz Harits Kusfi, Lc, juga dari Dompu timur ketika dihubungi Lakeynews.com mengatakan, ada kaidah dalam agama Islam.

“Hukum asal ibadah dilarang, sampai ada dalil perintah atas amal ibadah tersebut. Dan, hukum asal segala sesuatu selain ibadah boleh, sampai ada dalil larangan atas sesuatu tersebut,” urainya melalui pesan WhatsAPP.

Dikatakan Ustaz Harits, maulid kalau dilihat dari pernyataan yang merayakannya itu bagian dari ibadah, maka butuh dalil perintah.

Menurutnya, tidak ada satupun dalil yang shahih akan perayaan Maulid Nabi. “Nabi dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Tapi, justru diadakan sekitar abad keempat oleh kelompok Syi’ah Fathimiyyah,” paparnya.

H. Moh. Nasuhi: Jangan karena Perbedaan, Hal Mendasar Diabaikan

Menanggapi perbedaan itu, salah satu Ketua MUI Kabupaten Dompu H. Moh. Nasuhi, M.Si, menyampaikan secara simpel pikiran dan pendapatnya.

“Apapun yang kita lakukan, jika itu mengandung kebaikan dan tidak bertentangan (sesuai) dengan syariat agama, itu sah-sah saja dilakukan,” tutur Aji Nasuhi, sapaan H. Moh. Nasuhi pada media ini, pun lewat pesan WhatsAPP-nya.

Namun, menurutnya, dari kegiatan perayaan maulid itu sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, para jamaah dan anak-anak diberikan tausiyah (kajian) tentang sosok Nabi Muhammad SAW, berikut perjuangannya.

“Insya Allah, kita petik hikmah berupa pengenalan sekaligus penanaman rasa cinta kita terhadap manusia agung pilihan Allah. Sehingga, kita dapat memiliki semangat kembali untuk mengikuti sunah-sunah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam,” sambungnya.

Beda pandangan dalam menerjemahkan sesuatu masalah dalam furuiyah (cabang), bukan dalam masalah aqidah, menurut Aji Nasuhi, merupakan hal yang wajar. Dan, disinilah perlunya ikhlas menghargai perbedaan itu.

Aji Nasuhi kemudian memaparkan salah satu contoh kecil yang tidak mesti terjadi. Jangan memperdebatkan soal qunut dan tidak qunutnya seseorang, tapi yang dipersoalkan adalah kenapa dia tidak salat. “Jangan karena kita sibuk dengan perbedaan, sehingga hal yang mendasar kita abaikan,” tegasnya.

Artinya, tambah Aji Nasuhi, hargai perbedaan. Sekali lagi dalam hal furuiyah, silakan. Tapi, dalam hal aqidah tidak boleh berbeda. “Allah itu Ahad (satu). Ini tidak bisa ditawar-tawar dalam Islam. Kalau ada yang mengakui yang lain, tentunya kita katakan, ‘lakum diinukum wali yadiin’,” paparnya.

Kembali ke soal maulid, Aji nasuhi mengutip dari Abi Qatadah Al-Anshori RA, sesungguhnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam pernah ditanya mengenai puasa hari Senin. Rasulullah menjawab: “Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (HR Muslim, Abud Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah dan Baghawi).

Di riwayat lain disebutkan, bahwa dari Imam Bukhari bahwa Abu Lahab setiap hari Senin diringankan siksanya dengan sebab memerdekakan budak Tsuwaybah sebagai ungkapan kegembiraannya atas kelahiran Rasulullah.

Jika Abu Lahab yang bukan muslim dan Al-Quran jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah.

“Bergembiralah atas kelahiran Baginda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Dialah rahmat Allah SWT atas sekalian alam. Penghulu segala makhluk. Semulia-mulia ciptaan. Dialah sumber segala cahaya. Pintu menuju Tuhan,” urainya.

“Cintailah Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Tunjukkan tanda cinta kita kepada Baginda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam dengan memperbanyak bersalawat dan mengikuti sunnahnya dan mengamalkan segala ajarannya. Semoga kita semua mendapat syafaatnya di akhirat kelak. Aamiin ya rabbal alamiin. Wallahu a’lam bishawab,” harap Aji Nasuhi mengakhiri pernyataannya. (sarwon al khan)