Kepala SMPN 4 Dompu Drs. Edy Suryansah ditemui Lakeynews.com di ruang kerjanya. (sarwon/lakeynews.com)

Bincang-bincang dengan Kepala SMPN 4 Dompu Drs. Edy Suryansah (1)

SMPN 4 Dompu diakui sebagai satu-satunya lembaga pendidikan menengah pertama di Kabupaten Dompu yang diberi label “Sekolah Bermutu”.

Sekolah ini memiliki beberapa keunggulan dan program yang jarang dijumpai di sekolah lain. Salah satunya, Program Haflah Quran.

Sayangnya, hal itu tidak membuat animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah itu meningkat. Justru minatnya, terus menurun tiap tahunnya.

Aneh bin ajaib memang. Tapi, itulah fakta yang tidak terbantahkan.

Rupanya, Sistem Zonasi dinilai berkontribusi besar dalam menurunnya minat dan animo anak-anak mengenyam pendidikan di sekolah itu.

Lho? Mengapa demikian? Berikut rangkuman hasil perbincangan Lakeynews.com dengan Kepala SMPN 4 Dompu Drs. Edy Suryansah di ruang kerjanya, Kamis (23/7).

Sejak sekitar 10 tahun terakhir, hari itu merupakan kali pertama penulis bersilaturahmi, menemui dan berdiskusi dengan kepala SMPN 4 Dompu.

Banyak hal yang kami bicarakan. Bahkan, muncul perbincangan yang tidak berkorelasi langsung dengan dunia pendidikan.

Namun, dalam tulisan yang dirilis secara bersambung ini, hanya fokus pada hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan dan kependidikanan.

Semula, SMPN 4 Dompu sama dengan puluhan SMP lainnya di Kabupaten Dompu. Namun, sejak beberapa tahun lalu, sekolah ini termasuk salah satu dari empat “Sekolah Model”.

Tiga sekolah lainnya, SMPN 1 Woja, SMPN 1 Manggelewa dan SMPN 6 Dompu. “Kami sebagai Sekolah Model itu di-SK-kan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB,” kata Dae Edy, sapaan Edy Suryansah.

Seiring dengan perjalanan waktu, dari empat sekolah tersebut, hanya SMPN 4 Dompu yang terpilih sebagai Sekolah Bermutu. Levelnya di atas Sekolah Model.

Sekolah Bermutu ini di-SK-kan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

“Alhamdulillah, SK sebagai Sekolah Bermutu ini sudah saya terima sekitar setahun yang lalu di Denpasar, Bali,” ungkap Dae Edy.

Dari istilah dan levelnya saja saja sudah berbeda. Tetapi secara spesifik, apa yang membedakan Sekolah Model dengan Sekolah Bermutu ini?

Tentu terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Kalau Sekolah Model, kegiatannya didanai LPMP. Sedangkan Sekolah Bermutu dananya langsung dari Kemendikbud.

Selain itu, kalau sekolah model dana kegiatannya hanya Rp. 10 juta setahun, sementara Sekolah Bermutu Rp. 25 juta setahun.

Tahun 2019 lalu, SMPN 4 Dompu menerima kucuran dana kegiatan dari Kemendikbud sebesar Rp. 25 juta. Itu digunakan untuk Olimpiade, Olahraga dan Seni.

Apa resepnya sehingga SMPN 4 Dompu terpilih sebagai satu-satunya SMP di Dompu terpilih sebagai Sekolah Bermutu?

Menjawab pertanyaan itu, Edy mengatakan, sebenarnya sederhana saja. Diapun tidak menyangka sekolah yang dipimpinnya mendapat predikat itu.

Sepengetahuannya, LPMP NTB, setelah mengevaluasi sekolah-sekolah model se-provinsi, kemudian mengadakan suatu kegiatan. Semacam lomba Best Praktis. Tempatnya di LPMP juga, di Mataram.

Dari empat Sekolah Model di Dompu, hanya SMPN 4 Dompu dalam hal ini Edy Suryansah yang berkesempatan mengikuti kegiatan lomba tersebut.

Dari situlah awalnya. Pada kesempatan itu, Edy mempresentasikan berbagai hal terkait Sekolah Model SMPN 4 Dompu.

“Alhamdulillah, baru lebih kurang sebulan saya kembali dari kegiatan itu, saya diundang lagi ke Mataram untuk menerima SK Sekolah Bermutu bagi SMPN 4 Dompu,” paparnya.

Kendati sudah naik level, sudah ditata dengan baik, juga dengan program-program yang bagus, belum begitu menyentuh nurani masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah itu.

Minat siswa untuk masuk dan mengenyam pendidikan di sekolah itu, tiap tahun justru berkurang.

Padahal, kalau berbicara kualitas dan mutu, SMPN 4 Dompu tidak diragukan lagi. Ini dibuktikan dengan terpilih sebagai Sekolah Bermutu melalui SK Kemendikbud.

Salah satu biang kerok merosotnya minat anak-anak bersekolah di SMPN 4 Dompu adalah Sistem Zonasi.
Mengapa begitu? Nantikan dan ikuti kupasan pada tulisan berikutnya.

(sarwon al khan/bersambung)